27/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Angka Stunting di Surabaya Terus Menurun Selama 5 Tahun

Berbagai upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam rangka mencegah anak kerdil (stunting) terbukti berhasil. Sebab, angka stunting di Kota Surabaya terus menunjukkan tren menurun selama 5 tahun terakhir ini.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya Febria Rachmanita menjelaskan bahwa stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak berusia di bawah lima tahun (balita). Penyebabnya, karena kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, terutama dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia 23 bulan (24 bulan kurang sehari).

“Anak stunting memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal, rentan penyakit dan mempengaruhi produktivitas seseorang. Makanya, kami terus konsen dalam mencegah stunting, sehingga berhasil menurunkan angka stunting itu,” kata Febria Rachmanita di Balai Kota Surabaya, Sabtu (7/11/2020).

Feny -sapaan Febria Rachmanita merinci angka stunting di Surabaya yang terus mengalami penurunan. Pada tahun 2016, angka stunting di Surabaya sebanyak 29.608  balita atau 17,44 persen. Tahun 2017 sebanyak 19.362 balita atau 10,78 persen. Tahun 2018 sebanyak 16.220 balita atau 8,92 persen. Lalu tahun 2019 sebanyak 15.391 atau 8,54 persen.

“Nah, khusus untuk tahun 2020 sampai Bulan September, jumlahnya 7.040 balita dari 178.043 balita atau hanya sekitar 3,95 persen. Jika melihat dari data ini, maka angka stunting menunjukkan tren penurunan,” ujarnya.

Menurut Feny, tren penurunan itu tidak lepas dari berbagai program yang telah dilakukan oleh Pemkot Surabaya. Ia mengakui sudah melaksanakan strategi nasional percepatan pencegahan stunting 2018-2024 yang berisi lima pilar percepatan pencegahan stunting, yaitu komitmen dan visi kepemimpinan nasional dan daerah, kampanye nasional dan komunikasi perubahan perilaku, konvergensi program pusat, daerah dan desa, ketahanan pangan dan gizi, serta pemantauan dan evaluasi.

Bahkan, ia juga mengaku sudah menjalankan delapan aksi yang harus dilakukan dalam percepatan pencegahan stunting, yaitu analisis situasi, rencana kegiatan (RAD), rembuk stunting, peraturan bupati/walikota tentang peran desa/kelurahan, pembinaan kader pembangunan manusia, sistem manajemen data, pengukuran dan publikasi stunting, serta

review kinerja tahunan.

Feny juga menjelaskan detail berbagai program yang telah dilakukannya dalam rangka mencegah stunting ini. Mulai dari Program Intervensi Spesifik (sektor kesehatan) maupun Intervensi Sensitif (di luar sektor kesehatan). Khusus intervensi spesifik atau sektor kesehatan, pemkot membuat program pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil, menyusui dan calon pengantin, pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) untuk Ibu Hamil dan remaja putri, Imunisasi, Pemberian Obat Cacing, Taburia dan Vitamin A pada Balita, memberikan multivitamin untuk anak PAUD, PMT Balita (Biskuit dan PMT Penyuluhan di Posyandu), dan Pendampingan balita.

Selain itu, ada pula pendampingan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), Pengembangan Kampung ASI, Pos Gizi, Kelompok Ibu Pintar Balita Sehat, Kelas Ibu Hamil, Audit Gizi Buruk, Monitoring Garam Beryodium, Therapeutic Feeding Center (TFC) dan Community Feeding Center (CFC), Pelacakan Kasus Gizi Buruk. Survey Keluarga Sadar Gizi, Posyandu Balita, Penyediaan Pojok Laktasi di Tempat Bekerja dan Fasilitas Umum, Manajemen Terpadu Balita Sakit, dan Penyediaan Ambulan NETSS dan METS. “Kontribusi sektor kesehatan dalam percepatan pencegahan stunting ini sebesar 30 persen,” kata dia.

Sedangkan Intervensi Sensitif atau di luar sektor kesehatan, Dinas Kesehatan Surabaya bersinergi dengan semua dinas di Pemkot Surabaya sesuai dengan tugasnya masing-masing. Sebab, Febria sadar bahwa dalam menangani stunting itu tidak bisa dilakukan sendirian oleh Dinas Kesehatan, tapi harus bersinergi dengan semua dinas. “Jadi, kami semua di Pemkot Surabaya bersinergi dalam mengatasi stunting itu, karena kontribusi di luar sektor kesehatan ini sebesar 70 persen,” tegasnya.

Feny juga memastikan sudah memiliki timeline percepatan pencegahan stunting itu, diantara pada 19 Oktober 2020, ia mengaku sudah menggelar Rembug Stunting tahun 2020 yang melibatkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dan juga lintas sektor se-Kota Surabaya. “Tentu harapannya ke depan angka stuntin bisa terus ditekan di Kota Surabaya,” pungkasnya. (Tur)