28/10/2020

Jadikan yang Terdepan

BI Harapkan Batik dapat Menginspirasi dan Membuka Kreatifitas

Surabaya, KabarGRESS.com – Bank Indonesia (BI) berharap batik dapat menginspirasi dan membuka kreatifitas yang banyak sekali untuk para creativepreneur. “Dari beberapa designer menemui problem bahwa mereka kekurangan orang yang bisa menjahit dengan baik, ini adalah peluang yang baik. Diharapkan bahwa acara ngopi dengan tema batik ini dapat menginspirasi dan membuka kreatifitas yang banyak sekali untuk para creativepreneur,” ungkap Difi A. Johansyah selaku Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Jatim, pada acara Webinar NGOPI (Ngobrol Online Inspiratif) Vol. 19 dengan tema “Eksotisme Batik Indonesia”, Rabu (14/10/2020).

Acara tersebut juga diikuti oleh 247 peserta dan dilakukan siaran live streaming di instagram dan youtube BI Jatim. “Batik identik dengan wanita. Dahulu batik dikenal hanya selembar kain panjang dan di dua tahun terakhir ini Bank Indonesia bekerjasama dengan beberapa designer melalui KKI untuk membuat batik dengan beraneka motif, memadu padankan antara tenun sumba dengan batik lain menjadi suatu paduan yang indah,” urai Difi.

Isyam Syamsi, Fashion Designer
10 Tahun lalu, mengatakan batik Banyuwangi masih belum dikenal di kancah nasional, sampai pada acara Batik Festival Banyuwangi dimana para designer menggandeng UMKM lokal mempublish batik-batik Banyuwangi yang belum banyak dikenal orang. “Dari situ Batik Banyuwangi mulai dikenal di kancah nasional,” katanya.

Selama 5 tahun berkarya, Isyam masih konsisten menggunakan batik Banyuwangi karena motif dan warnanya masih baru didunia perbatikan di ranah air Indonesia. Khasanah batik banyuwangi ada sekitar 40 motif batik khas yang pakem dan terdiri dari 2 sub warna, yaitu warna mataraman (lebih agak gelap dan klasik) dan warna pelesiran (warna yang cerah seperti warna batik madura, cirebon, dan pekalongan).

Motif klasik Banyuwangi disebut dengan sogan yang terpengaruh dengan warna mataraman yang semuanya mempunyai filosofi kehidupan suku osing. Motif yang paling tua adalah motif gajah uling yang artinya manusia harus selalu bersyukur dan patuh pada Tuhan karena kehidupan agamis di suku osing masih kental sampai sekarang.

Ada pula motif kampung stingkes yang artinya persatuan dan kesatuan, selain itu ada motif kopi pecah yang artinya menikmati hidup seperti kita menikmati kopi, serta motif sekar jagad yaitu rangkuman dari beberapa motif Banyuwangi di setiap lembarnya.

Sedangkan motif Pesisiran yaitu motif yang identik dengan warna cerah yang mengandung elemen warna gunung, ombak laut, mentari dan blue fire. Secara keseluruhan motif pesisiran ini mencerminkan pesona alam dan budaya Banyuwangi serta keramah tamahan suku osing yang ada di Banyuwangi.

Hampir seluruh designer di Indonesia memperkenalkan batik-batik yang menggunakan pewarna alam karena selain warnanya lebih natural, juga tidak ada efek yang membahayakan (tidak mengandung bahan kimia). Berawal dari hobi dan keberanian mengikuti audisi dari panggung ke panggung dan menjadi juara, akhirnya Isyam memberanikan diri membuka usaha fashion khusus di bidang batik Banyuwangi.

Selain motif, benang timbul juga menjadi ciri khas karya Isyam di setiap detailnya. Untuk koleksi pria, menggunakan 4 kancing di lengan agar terlihat lebih jenjang dan tegas. Karya Isyam juga sudah merambah kancah internasional. Segmen pasar dari karya Isyam yaitu middle up, namun tidak menutup kemungkinan untuk segmen pasar menengah ke bawah berdasarkan custom.

Sementara itu Wulan Gandanegara, owner bag WG, menuturkan berawal dari kecintaan terhadap batik dan belum pernah menjumpai tas batik yang cantik, Wulan memiliki gagasan ide untuk membuat tas batik dengan model yang cantik dan elegan. Selama 4 tahun sejak 2016 menghasilkan karya berupa tas premium batik, akibat pamdemi pun, WG melakukan diversifikasi produk yaitu dengan membuat beberapa aksesoris lainnya seperti masker, scraf, twili, sampai dengan baju.

Visi dan misi WG adalah menduniakan batik. Prospek bisnis yang sangat besar dan memiliki nilai jual yang tinggi, membuat Wulan gencar untuk menduniakan batik dengan berbagai produk terutama burupa tas luxury batik yang dibuat dari beberapa kain wasra nusantara (seperti songket, tenun, batik, dan lain-lain). Segmen pasar yang disasar adalah seluruh segmen agar dapat terwujud apa visi dan misi WG sendiri.

Di kesempatan yang sama, Hilda Sutanto, Owner Hello Batik, mengatakan memiliki bisnis batik tidak selalu butuh modal yang besar. Siapapun bisa memiliki bisnis batik walaupun dari rumah. Dinamakan Hello batik karena tujuan dari owner adalah mengajak semua orang untuk kenalan dengan batik.

Dimulai pada 2012 yang menginginkan bisnis dari rumah, Hilda merintis usahanya melalui online (dropship). Serta segmen pasar ditujukan ke semua orang penggemar fashion dan pecinta batik yang dikemas menjadi lebih trendy dan dengan model yang up to date dan nyaman dipakai.

Hello batik mempunyai garmen maker di Solo, Surabaya, Pekalongan dan Bandung. Segmentasi pasar dari low to middle, karena harapannya karya dari Hello batik bisa dipakai untuk keseharian, tidak hanya untuk suatu acara tertentu saja. Untuk menjaga suplier agar tetap menggunakan brand Hello batik dan tidak mengecewakan cuatomernya, Hylda memiliki quality check atas suplier yang akan bergabung dengan Hello.

“Untuk memulai bisnis, hal pertama yang harus dipastikan adalah tujuannya apa, mau jadi seperti apa bisnis tersebut dan pangsa pasar yang disasar siapa,” ujarnya.

Dalam menghadapi pandemi ini, Hello juga mengeluarkan shifting product berupa masker, daster dan home wear yang nyaman dan tetap casual. Di beberapa bulan ini, kondisi bisnis sudah mulai membaik, demand sudah mulai naik dan Hello terus melakukan kolaborasi dan berinovasi. (ro)