28/09/2020

Jadikan yang Terdepan

Pemuda Good Looking, Harapan Umat

Oleh: Mar’ah Sholihah
(Pendidik dan pengasuh Komunitas Hijrah Muslimah)

BEBERAPA hari lalu sudah ramai di berbagai media terutama di sosmed, istilah good looking. Istilah ini dilontarkan pertama kali oleh menag, Fakhrul Razi dalam salah satu acara webinar melalui Channel YouTube Kemenpan RB. Pada acara tersebut Menag menyatakan bahwa Radikalisme dapat masuk melalui anak yang Good looking, penguasaan bahasa Arab yang bagus, hafiz (hafal Qur’an), hingga mereka masuk ke masjid dan menyebarkan idenya.

Pernyataan Menag ini tentu saja menimbulkan kontroversi.Tak sedikit yang mempertanyakan, karena sosok radikal yang digambarkan menag justru identik dengan sosok pemuda muslim yang Islami atau agamis. Pemuda yang dekat dengan Al Qur’an, bahasa arab dan masjid pasti dipahami oleh masyarakat sebagai pemuda yang Sholih.

Bahkan wakil ketua MUI Muhyiddin Junaidi pun menanggapi, bahwa apa yang disampaikan Menag adalah hal yang melukai hati umat Islam. Muhyiddin bahkan menyarankan agar Menag lebih banyak membaca literatur yang benar terkait dengan ajaran Islam, agar tidak salah faham. https://m.cnnindonesia.com/nasional/20200904204810-20-543018/soal-radikalisme-waketum-mui-minta-menag-banyak-baca#

Pemuda terpapar radikal atau liberal?

Ironis memang, di saat narasi pemuda yang di’cover’ radikal dengan tampilan good lookingnya digambarkan oleh seorang pejabat di negeri ini, pada saat yang sama puluhan pemuda sedang berpesta sex sejenis di tempat yang lain.

Pejabat negeri harusnya lebih peduli menyelesaikan problem yang telah nyata menimbulkan kerusakan di negeri ini. Bukan justru malah membuat gaduh dengan hal-hal yang belum jelas bahkan cenderung menimbulkan saling curiga di tengah masyarakat.

Radikalisme selama ini pun batasannya tidak jelas, dan justru seolah menohok kepada Islam dan umat Islam. Maka patut diduga ini adalah bagian dari upaya war on radicalism yang ditujukan pada Islam dan kaum muslimin. Tujuannya tentu saja agar umat Islam takut dengan ajaran agamanya sehingga tidak ada keinginan untuk menerapkannya dalam kehidupan.

Lantas, Siapa sebenarnya yang membuat negeri ini makin gaduh? Apa yang menyebabkan problem multidimensi di segala lini kehidupan? Apakah Islam ataukah kapitalisme demokrasi yang telah menimbulkan berbagai kerusakan? Apakah pemuda yang dianggap terpapar radikalisme ataukah pemuda yang terpapar liberalme yang justru jadi masalah bagi masyarakat?

Menuding Islam dan pemuda muslim sebagai hal yang seolah membahayakan, ibarat pepatah buruk muka cermin dibelah. Problem pelik di negeri ini bukan karena Islam dan pemuda muslim yang sholih.
Justru sumber persoalan adalah penerapan sistem demokrasi kapitalis yang menyebabkan berbagai kerusakan di berbagai lini, baik ekonomi, sosial, pendidikan dan politik. Termasuk membuahkan para pemuda bad looking yang terpapar kriminalitas, tindakan asusila dan lain-lain.

Para pemuda yang dibentuk dari sistem ini (termasuk dalam sistem pendidikan) sebagai pilar pembentuk generasi pemuda, belum mampu melahirkan sosok-sosok berkepribadian mulia yang memiliki pola pikir dan pola sikap islami. Sosok yang memiliki kepedulian terhadap urusan ummat, dan turut mengambil peran memperjuangkan perbaikan negeri.

Berdasarkan data dari KPAI 2020, negeri ini justru menghadapi fakta yang miris. 90% anak usia 11 tahun sudah terpapar pornografi, 48 dari 1000 pelajar hamil diluar nikah, dan 50% dari kehamilan itu melakukan aborsi. Belum lagi tawuran antar pelajar, narkoba dan miras yang sudah dianggap biasa, hingga komunitas LGBT yang terus menyasar para generasi muda.

Lalu bagaimana dengan proses pendidikan yang berjalan di Ponpes, Sekolah, Madin, TPA dan Masjid yang menjadi sarana program Hafidz Al Qur’an, Bahasa Arab, dan memakmurkan masjid. Apakah semua lembaga tersebut merupakan sumber radikalisme karena melahirkan generasi-generasi good looking??

Pemuda muslim harapan Ummat

Apa yang terjadi hingga hari ini membuktikan bahwa, penyakit Islamophobia begitu akut terjadi di negeri ini. Mereka bahkan tak mampu lagi melihat mana yang baik dan mana yang buruk. Bukannya berterima kasih pada generasi pemuda ‘good looking’ ini, karena dapat mengurangi tingkat kerusakan di negeri ini. Justru mencitraburukkan dengan sebutan radikal yang harus diwaspadai.

Generasi Muslim adalah generasi berkepribadian Islam. Generasi yang menjadikan pola pikir dan pola sikapnya agar sesuai dengan Islam. Generasi yang menjadikan ‘Iman dan taqwa’ sebagai landasan berprilaku dan mensikapi kejadian apapun di negeri ini. Mereka inilah generasi harapan masa depan. Generasi agen perubahan peradaban. Bukan generasi kebablasan yang hanya having fun, dan memburu kesenangan hidup di masa muda.

Apa salahnya menjadi pemuda yang yang cinta Al Qur’an, fasih dalm bahasa Arab dan rajin ke masjid?

Jika generasi muslim ini cinta dg Al Qur’an bahkan menjadi hafidz Al Qur’an, maka sejatinya dia sedang menjalankan apa yang diperintahkan Allah.

“Orang yang terbaik diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Al Bukhari dari Utsman Bin Affan).

Maka sebuah kelancangan manusia jika menyematkan sebutan Hafidz Al Qur’an itu sebagai radikal. Bukankah sama dengan mengatakan pencipta Al Qur’an sebagai sumber ajaran Radikal?

Bagitu pula dengan bahasa Arab. Bahasa Arab adalah bahasa Al Qur’an dan selalu digunakan setiap muslim ketika melakukan sholat. Karena itulah di berbagai sekolah agama dan ponpes, Bahasa Arab wajib dipelajari dan dikaji oleh para santri.

Lebih dari itu lihatlah para pemuda good looking hasil pembinaan Rasulullah SAW. Pemuda-pemuda yang sangat cinta dengan Allah dan RasulNya melebihi kecintaanya pada diri dan orang tuanya. Mush’ab Bin Umair, Bilal Bin Rabah, Amar bin Yasir, Ali bin Abi Thalib. Adalah sosok pemuda yang cerdas, mulia, berakhlaq mulia. Sosok pemuda pembela Islam yang dengannya hari ini Islam tersebar hampir di seluruh penjuru dunia. Dan apa yang dibawa oleh Islam adalah rahmat bagi seluruh alam.

Kondisi pada saat ini ketika dunia diatur dengan peradaban yang tidak lagi menempatkan Sang Pencipta sebagai penentu benar dan salah maka kekacauan, kedzaliman, kesengsaraan dan kerusakan terjadi di berbagai pelosok dunia tanpa kecuali. Peradaban Kapitalisme yang meterialistik ini terbukti gagal mensejahterakan dan memanusiakan manusia. Meski demikian para pendukungnya masih ngotot untuk terus mempertahankan hegemoninya.

Tidak berlebihan ketika akhirnya muncul kecurigaan yang meyakinkan bahwa narasi radikalisme tak lain adalah upaya untuk membendung laju kebangkitan Islam agar kekuasaan kapitalisme neoliberal tetap tegak dan bercokol di berbagai negeri muslim. Hanya Khilafah Islamiyah saja yang dikhawatirkan akan tegak kembali dalam waktu dekat dan dianggap sebagai ancaman bagi Kapitalisme global.

Maka menyematkan sebutan radikal pada sosok pribadi muslim taat adalah sebuah upaya stigmatisasi terhadap Islam dan kaum muslimin.

Wallahu ‘alam bi ash-shawab