27/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Harapan Baik untuk Pemulihan Kinerja TINS

Jakarta, KabarGRESS.com – PT TIMAH Tbk (IDX : TINS) mengumumkan laporan konsolidasian untuk periode yang berakhir 30 Juni 2020. Di tengah hantaman pandemic Covid‐19, TINS terus bergerak lincah untuk menyiasati bisnis timah yang belum sepenuhnya pulih.

Harga logam timah di London Metal Exchange (LME) berangsur membaik dengan rata‐rata harga pada Juni 2020 sebesar USD 17.119 atau naik 9% dibandingkan bulan sebelumnya. Sinyal positif tersebut menumbuhkan optimisme akan pulihnya pasar timah dunia setelah terpukul beberapa waktu akibat Covid‐19.

Sebagai produsen terbesar timah dunia, TINS menjadi salah satu the most preferred brand di industri pertimahan dengan trademark yang sudah terdaftar di London Metal Exchange. Ini menjadi keunggulan kompetitif bagi TINS untuk mewujudkan strategi new market penetration.

“Kami optimis bahwa harga logam timah akan pulih di semester II‐2020. Ini akan berdampak positif terhadap kinerja Perusahaan,” ujar Wibisono selaku Direktur Keuangan TINS.

Kinerja Operasi

Pada semester pertama tahun 2020 TINS mencatat produksi bijih timah sebesar 24.990 ton atau turun 47,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 47.423 ton. Adapun produksi logam turun 26,2% menjadi 27.833 ton (2019: 37.717 ton), serta penjualan logam turun 0,3% menjadi 31.508 ton (2019: 31.609 ton).

Dalam kurun waktu tersebut TINS mencatatkan ekspor timah sebesar 98,3% dengan 5 negara tujuan ekspor terbesar diantaranya Singapura sebesar 17,9%; Korea 16,2%; China 14,8%; Amerika Serikat 11,2% dan India 11,2%. Total kontribusi ekspor timah ke 5 negara tersebut mencapai 71,3%.

Kinerja Keuangan

Sampai dengan Juni 2020 tercatat pendapatan TINS sebesar IDR 7,98 triliun atau turun 18,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (2019: IDR 9,79 triliun). Harga pokok produksi turun sebesar 13,5% menjadi IDR 7,73 trilun (2019: IDR 8,93 triliun).

Bila dilihat dari perspektif Q2 dibandingkan Q1, perbaikan yang nampak diantaranya adalah pada Gross Profit Margin (GPM) yang naik menjadi +3,1% dari sebelumnya ‐4,0%. Pada Q2 tercatat laba kotor sebesar IDR +249,94 miliar atau naik signifikan dari Q1 sebesar IDR ‐173,6 miliar. Di samping itu, Net Profit Margin (NPM) naik menjadi ‐4,9% dari sebelumnya ‐9,4%. Pada Q2 tercatat rugi bersih sebesar IDR 390,07 miliar berhasil ditekan dari posisi Q1 sebesar IDR 412,86 miliar.

Pada semester I‐2020 tercatat kenaikan signifikan pada cashflow operasi menjadi IDR 3,17 triliun dibandingkan periode yang sama tahun 2019 sebesar minus IDR 3,33 triliun.

Membaiknya cashflow operasi merupakan indikator sehatnya finansial emiten, sehingga TINS mampu membayar sebagian kewajiban jangka pendeknya.

Posisi utang bank jangka pendek mampu turun 37% menjadi IDR 5,56 triliun (2019: IDR 8,79 triliun).

Kondisi Saat ini dan Prospek ke Depan

Secara operasional, TINS terus melakukan action plan berupa efisiensi di setiap lini bisnis, optimalisasi alat produksi, serta menjaga kinerja produksi dan penjualan agar cashflow tetap optimal. Di samping itu, biaya bahan baku yang berkontribusi besar terhadap struktur biaya disiasati melalui third‐party renegotiation untuk kompensasi yang lebih ekonomis.

TINS memanfaatkan pula backlog atau persediaan timah setengah jadi untuk dilebur kembali menjadi logam timah dengan spesifikasi standar LME, sehingga memberikan kontribusi positif terhadap penerimaan Perusahaan.

“Efektivitas manajemen biaya yang saat ini dilakukan akan mulai terlihat pada Laporan Finansial kuartal‐kuartal berikutnya” ujar Direktur Keuangan TINS. Dengan demikian, potensi perbaikan performa TINS masih terbuka lebar, ditambah dengan pulihnya harga logam timah di London Metal Exchange (LME) akan semakin menguatkan optimisme dan harapan baik untuk TINS pada semester II‐2020. (ro)