27/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Adaro Mempertahankan Fokus terhadap Keunggulan Operasional dan Efisiensi

  • Pasar Batu Bara Tertekan oleh Dampak Pandemi

Jakarta, KabarGRESS.com – PT Adaro Energy Tbk (IDX: ADRO) (AE) hari ini merilis laporan keuangan konsolidasi semester pertama 2020 (1H20). Walaupun perlambatan ekonomi global serta penurunan aktivitas industri memberi tekanan yang besar terhadap permintaan maupun harga batu bara, perusahaan mencapai hasil yang membuktikan upaya maksimal untuk mempertahankan kinerja dan likuiditas yang tinggi di tengah tantangan makro dan industri yang sedang dihadapi.

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Garibaldi Thohir mengatakan: “Kita tidak dapat memungkiri bahwa kinerja Adaro pada 1H20 tidak kebal dari dampak penurunan permintaan batu bara yang terjadi karena wabah COVID-19. Namun, kami tetap memaksimalkan upaya untuk terus berfokus pada keunggulan operasional bisnis inti perusahaan, meningkatkan efisiensi dan produktifitas operasi, menjaga kas, dan mempertahankan posisi keuangan yang solid di tengah situasi sulit yang berdampak terhadap sebagian besar dunia usaha. Walaupun masih harus menghadapi tantangan ini untuk beberapa saat ke depan, kami tetap yakin bahwa fundamental sektor batu bara dan energi di jangka panjang tetap kokoh, terutama karena dukungan aktivitas pembangunan di negara-negara Asia.”

ANALISIS KINERJA KEUANGAN 1H20

Pendapatan Usaha, Harga Jual Rata-Rata dan Produksi

Pada 1H20, AE mencatat penurunan pendapatan sebesar 23% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang terutama diakibatkan oleh penurunan harga jual rata-rata (ASP) sebesar 18% serta penurunan volume penjualan. Lockdown yang diterapkan banyak negara pengimpor batu bara untuk mengatasi COVID-19 mengakibatkan penurunan terhadap permintaan listrik industri, yang disusul oleh penurunan permintaan batu bara pada 1H20.

Di periode ini, volume produksi batu bara AE mencapai 27,29 juta ton, yang setara dengan penurunan 4% year-on-year (y-o-y) dibandingkan 1H19. Karena kondisi pasar yang sulit, AE telah merevisi panduan produksinya untuk tahun ini menjadi 52-54 juta ton.

Beban Pokok Pendapatan

Beban pokok pendapatan pada 1H20 turun 14% y-o-y menjadi AS$1.040 juta karena AE mencatat penurunan nisbah kupas maupun pembayaran royalti kepada pemerintah. Biaya kas batu bara per ton (tidak termasuk royalti) turun 14% y-o-y seiring penurunan nisbah kupas dan harga bahan bakar. Total konsumsi dan harga bahan bakar masing-masing turun 13% dan 22%.

Penurunan harga bahan bakar membantu penurunan biaya kas batu bara pada 1H20. Di masa yang sulit ini, AE tetap berfokus pada pengendalian biaya dan mempertahankan operasi yang efisien di sepanjang rantai pasokan batu baranya yang terintegrasi vertikal.

Royalti yang Dibayarkan kepada Pemerintah dan Pajak Penghasilan Badan Royalti yang dibayarkan kepada Pemerintah Indonesia turun 25% y-o-y menjadi AS$142 juta, yang sejalan dengan penurunan pendapatan dan harga jual rata-rata yang tercatat untuk 1H20.

Beban Usaha

AE mencatat penurunan beban usaha menjadi AS$98 juta, atau turun 14% y-o-y, terutama karena penurunan beban penjualan dan pemasaran serta penurunan biaya profesional. Beban penjualan dan pemasaran turun 42% menjadi AS$13 juta, sementara biaya profesional turun 31% menjadi AS$11 juta.

EBITDA Operasional

EBITDA operasional di 1H20 mencapai AS$465 juta, atau turun 33% y-o-y akibat penurunan ASP. Sementara itu, marjin EBITDA operasional tetap sehat pada 34,2% karena AE terus meningkatkan efisiensi operasi dan pengendalian biaya di tengah kondisi harga batu bara yang melemah. Perusahaan juga telah merevisi panduan EBITDA operasional untuk tahun 2020 menjadi AS$600 juta – AS$800 juta untuk mencerminkan penurunan estimasi harga jual rata-rata karena melemahnya harga batu bara global.

Bisnis non pertambangan batu bara tetap memberikan kontribusi yang solid dan menjadi pendukung laba di masa yang sulit ini.

Laba Inti

Laba inti AE pada 1H20 mencapai AS$227 juta, atau turun 39% y-o-y seiring penurunan profitabilitas. Laba inti ini tidak termasuk komponen akuntansi non operasional setelah pajak.

Total Aset

Total aset turun menjadi AS$6.644 juta pada 1H20, atau setara dengan penurunan 7% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019. Aset lancar naik 6% menjadi AS$1.630 juta, sementara aset non lancar turun 11% menjadi AS$5.014 juta. AE berhasil mempertahankan saldo kas yang sehat pada akhir 1H20 yang tercatat sebesar AS$1.075 juta.

Aset Tetap

Posisi aset tetap pada akhir 1H20 turun 2% y-o-y menjadi AS$1.683 juta. Aset tetap meliputi porsi 25% dari total aset.

Properti Pertambangan

Pada akhir 1H20, properti pertambangan AE turun 35% y-o-y menjadi AS$1.473 juta dari AS$2.265 juta, terutama karena dekonsolidasi salah satu aset pertambangan batu bara di Kalimantan Timur pada akhir tahun 2019.

Total Kewajiban

Total kewajiban turun 1% y-o-y menjadi AS$2.695 juta. Kewajiban lancar turun 18% menjadi AS$859 juta terutama akibat penurunan utang usaha dan utang bank. Kewajiban non lancar naik 10% menjadi AS$1.836 juta.

Tenor perjanjian fasilitas pinjaman senilai AS$350 juta untuk PT Saptaindra Sejati (SIS), yang merupakan anak perusahaan AE di bidang jasa pertambangan, telah diperpanjang selama dua tahun. Kami sangat menghargai dukungan dan komitmen yang berkelanjutan dari bank-bank terkait kepada Grup Adaro.

Bagian Lancar atas Utang Jangka Panjang

Bagian lancar atas utang jangka panjang pada 1H20 turun 19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi AS$329 juta karena sebagian utang bank mendekati jatuh tempo.

Utang Jangka Panjang, setelah Dikurangi Bagian Lancar

Bagian non lancar dari utang jangka panjang pada 1H20 naik 14% y-o-y menjadi AS$1.335 juta dibandingkan periode yang sama tahun lalu karena penerbitan obligasi di bulan Oktober 2019.

Pengelolaan Utang dan Likuiditas

Pada akhir 1H20, tingkat likuiditas AE tetap tinggi pada AS$1.513 juta, yang terdiri atas AS$1.075 juta dalam bentuk kas, AS$119 juta dalam bentuk investasi lainnya, dan AS$319 juta dalam bentuk komitmen fasilitas pinjaman yang belum dipakai.

Utang berbunga mencapai AS$1.664 juta, atau naik 24% y-o-y, yang termasuk obligasi sebesar AS$750 juta yang diterbitkan AE pada bulan Oktober 2019. AE menjaga posisi keuangan yang sehat dengan utang bersih sebesar AS$470 juta, rasio utang bersih terhadap EBITDA operasional 12 bulan terakhir sebesar 0,48x dan rasio utang bersih terhadap ekuitas sebesar 0,12x.

Ekuitas

Tingkat ekuitas pada akhir 1H20 turun 11% dari periode yang sama tahun 2019 menjadi AS$3.949 juta, yang terutama disebabkan oleh penurunan kepentingan non pengendali karena AE tidak lagi mengkonsolidasikan salah satu anak perusahaan pertambangan batu bara di Kalimantan Timur pada 4Q19.

Arus Kas dari Aktivitas Operasi

Arus kas dari aktivitas operasi pada 1H20 turun 27% menjadi AS$391 juta terutama karena penurunan 18% pada penerimaan dari pelanggan akibat penurunan harga jual rata-rata (ASP).

Arus Kas yang Digunakan pada Aktivitas Investasi

AE mencatat arus kas bersih yang digunakan pada aktivitas investasi sebesar AS$302 juta pada 1H20, atau naik 27% dari periode yang sama tahun 2019 terutama karena pembelian investasi lainnya.Belanja Modal dan Arus Kas Bebas Belanja modal bersih pada 1H20 tercatat mencapai AS$115 juta, atau turun 53% dari periode yang sama tahun lalu. Belanja modal ini terutama digunakan untuk pembelian dan penggantian alat berat dan pengembangan AMC. AE menghasilkan arus kas bebas yang tinggi sebesar AS$312 juta di 1H20, atau naik 19% y-o-y.

Atas pertimbangan kondisi pasar batu bara global saat ini, dan setelah mengevaluasi rencana investasi tahun ini, AE memutuskan untuk menurunkan panduan belanja modal menjadi AS$200 juta – AS$250 juta dengan cara menentukan skala prioritas. Perusahaan akan terus berhati-hati dan berdisiplin dalam mengeluarkan belanja modal. Walaupun belanja modal dikurangi, perusahaan akan melanjutkan investasi yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang dan mempertahankan keunggulan operasional.

Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan

Arus kas bersih yang digunakan dalam aktivitas pembiayaan pada 1H20 mencapai AS$586 juta untuk pelunasan sebagian utang bank dan pembayaran dividen. AE telah membayarkan total dividen tunai sebesar AS$250 juta untuk FY2020. (ro)