20/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Periode Semester Pertama, IPCC Catatkan Pendapatan Rp175,68 Miliar

Jakarta, KabarGRESS.com – Pada Selasa, 25 Agustus 2020 PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) kembali mengadakan Public Expose dimana sebelumnya pada 4 Agustus 2020 juga telah mengadakan kegiatan serupa yang penyelenggaraannya di hari yang sama dengan terselenggaranya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan dan Luar Biasa. Pada kegiatan kali ini, berbeda dengan penyelenggaraan Public Expose sebelumnya dimana kali ini, IPCC mendapatkan kesempatan yang sangat berharga untuk bisa menyelenggarakan kegiatan Public Expose melalui rangkaian kegiatan PT Bursa Efek Indonesia (BEI/IDX).

Selain itu, penyelenggaraan Public Expose kali ini juga berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana kali ini diadakan melalui fasilitas virtual (meeting non fisik) namun, tidak mengurangi semangat dari Tim Manajemen IPCC untuk dapat memberikan informasi dan perkembangan terkini terkait kinerja perseroan dan juga semangat dari para peserta, baik investor eksisting IPCC maupun calon investor IPCC untuk menyimak dan mendapatkan informasi kinerja Perseroan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, BEI membantu Perusahaan Tercatat memenuhi kewajiban pelaksanaan Public Expose dengan mengadakan rangkaian Public Expose seperti Pubex Live (2019), Public Expose Marathon (2017-2018), Investor Summit (2016). Tahun 2020 ini, dalam rangka 43 Tahun Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia, BEI bekerjasama dengan KPEI dan KSEI, menyelenggarakan kembali rangkaian Public Expose yang disiarkan secara langsung (live) melalui fasilitas webinar, yaitu Pubex LIVE 2020.

IPCC sebagai Perusahaan Tercatat di BEI sekaligus bagian dari Keluarga Besar Pasar Modal Indonesia tentunya sangat terbantukan dengan kegiatan dari BEI ini yang diharapkan dapat menjangkau investor yang lebih luas di seluruh Indonesia maupun mancanegara melalui jaringan BEI sehingga IPCC dapat memberikan informasi dan perkembangan baik terkait dengan kinerja perseroan maupun industri Kepelabuhan ke seluruh kalangan investor.

Sebagai perwakilan dari IPCC, hadir jajaran Direksi baru terpilih hasil dari RUPS awal Agustus lalu, yaitu Ari Henryanto selaku Direktur Utama; Arif Isnawan selaku Direktur Komersial dan Pengembangan Bisnis; Dessy Emastari Prihatiningtyas selaku Direktur Keuangan dan SDM; serta Direktur Operasi dan Teknik oleh Rio Theodore Natalianto Lasse serta didampingi oleh perwakilan Tim Sekretaris Perusahaan, yaitu Sofyan Gumelar sebagai Sekretaris Perusahaan; Reza Priyambada sebagai Investor Relation; dan Vidyah Payapo sebagai DVP Komunikasi Perusahaan dan CSR.

Mengawali pemaparannya, Ari Henryanto menyampaikan sekilas perkembangan industri otomotif dimana IPCC menjadi bagian dari supporting business industri serta pengenalan Perseroan yang merupakan bagian dari IPC Grup, sebagai Operator Pelabuhan terbesar di Indonesia dengan mengkhususkan kegiatan usaha pada layanan bongkar muat kargo kendaraan, baik CBU, Truk, Bus, Alat Berat, hingga General Cargo. Pada tahun 2018, IPCC resmi melantai di BEI dengan melepas sebanyak 1,81 miliar lembar saham atau setara 28 persen ke publik.

Ari juga menyampaikan profil pemegang saham IPCC dimana hingga akhir Juni 2020 sebanyak 98% merupakan investor individu. Namun demikian, dari sisi jumlah lembar saham mayoritas masih dimiliki oleh PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) / IPC. Selain itu, juga disampaikan berbagai fasilitas yang dimiliki oleh IPCC untuk menunjang kegiatan layanan bongkar muat kendaraan di Terminal/Lapangan penumpukan IPCC.

Dari sisi operasional, Rio Theodore Natalianto Lasse menyampaikan perkembangan kegiatan layanan bongkar muat kendaraan sepanjang semester I 2020. Secara akumulasi sepanjang Januari hingga Juni tahun ini, penanganan bongkar muat kendaraan CBU di Lapangan Internasional masih lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Untuk segmen CBU, sepanjang enam bulan pertama di tahun ini ditangangi 124.734 unit CBU atau lebih rendah 26,58% (YoY) dibandingkan periode yang sama di tahun lalu dimana penanganan ekspor turun 21,18% (YoY) menjadi 105.082 unit CBU dan import berkurang 46,25% (YoY) menjadi 19.652 unit CBU dibandingkan periode yang sama di tahun lalu.

Untuk segmen Alat Berat, perbaikan terlihat pada kegiatan bongkar muat ekspor dimana ditangani 2.847 unit sepanjang satu semester pertama di tahun ini atau naik 58,52% (YoY) namun, impor berkurang 57,50% (YoY) dibandingkan periode yang sama di tahun lalu menjadi 2.278 unit. Pada segmen Sparepart, sebanyak 12.650 M3 atau turun 9,51% (YoY) di sepanjang enam bulan pertama tahun ini untuk kegiatan ekspor dan sebanyak 10.565 M3 di periode semester pertama tahun ini atau lebih rendah 45,10% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Secara akumulasi sepanjang semester I 2020, jumlah CBU di Lapangan Domestik mencapai 55.875 unit atau naik 43,64% (YoY) dibandingkan periode yang sama di tahun lalu. Alat Berat naik 25,26% (YoY) di sepanjang semester pertama di tahun ini menjadi 7.532 unit dari periode yang sama di tahun lalu sebesar 6.013 unit. Sedangkan Spareparts masih lebih rendah dimana turun 81,89% (YoY) di semester pertama tahun ini menjadi 1.403 M3.

Arif Isnawan menyampaikan meski secara akumulai penanganan bongkar muat kendaraan di tahun ini masih lebih rendah namun, dari sisi bulanan maka Juni 2020 setidaknya dapat menjadi recovery/pemulihan mulai kembali berjalan normalnya operasional setelah dalam 2 bulan sebelumnya mengalami penurunan signifikan aktivitas kegiatan layanan bongkar muat kendaraan. Arif juga menambahkan bahwa di Juni 2020 secara bertahap pabrikan otomotif mulai kembali beroperasi sehingga layanan logistik ke lapangan penumpukan IPCC mulai terlihat ramai meski belum seramai tahun lalu.

Pada sisi keuangan, Dessy Emastari Prihatiningtyas menjelaskan bahwa kondisi kinerja keuangan IPCC di kuartal kedua sangat terdampak dari menurunnya aktivitas layanan bongkar muat kendaraan di Terminal IPCC.

Jika di kuartal I 2020, kinerja IPCC masih dapat survive namun, di kuartal II cenderung turun dan bahkan tercatat adanya kerugian. Belum lagi terkena dampak dari penerapan PSAK 73 dimana timbul tambahan beban atas bunga sewa dari lahan yang dipergunakan IPCC untuk kegiatan usaha.

Pada periode semester pertama tahun ini, IPCC mencatatkan pendapatan sebesar Rp175,68 miliar atau lebih rendah 23,18% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp228,70%. Penurunan disebabkan lebih rendahnya pendapatan dari segmen Pelayanan Jasa Terminal yang memberikan kontribusi 93,20% terhadap total pendapatan dimana turun 22,56% menjadi Rp164.73 miliar dari periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar Rp212,72 miliar. Pada segmen Pelayanan Jasa Barang yang berkontribusi 5,42% mengalami penurunan 31,69% dari Rp12,87 miliar di semester pertama tahun lalu menjadi Rp8,79 miliar. Segmen Pelayanan Rupa-Rupa Usaha naik tipis 1,84% menjadi Rp1,60 miliar dan Pengusahaan Tanah, Bangunan, Air, dan Listrik turun 63,44% menjadi Rp560 juta.

Dampak dari penurunan tersebut membuat Laba Usaha IPCC turut mengalami penurunan. Tercatat Laba Usaha IPCC di periode semester pertama tahun ini sebesar Rp3,16 miliar atau turun 96,49% dibandingkan periode yang sama di tahun lalu sebesar Rp89,92 miliar. Adanya peningkatan pencatatan pada Kerjasama Mitra Usaha dimana meningkat 64,75% dari Rp32,21 miliar menjadi Rp53,06 miliar berimbas pada perolehan laba usaha IPCC. Peningkatan beban Kerjasama Mitra Usaha terjadi karena adanya penambahan Perusahaan Bongkar Muat (PBM) yang melakukan pelayanan bongkar muat di Terminal Domestik IPCC seiring adanya perpindahan kargo kendaraan dari Terminal Pelabuhan Tanjung Priok (PTP).

Peningkatan beban juga terjadi pada pencatatan Beban Keuangan dimana mengalami kenaikan beban dari Rp9,91 juta menjadi Rp20,37 miliar karena adanya penambahan pencatatan Bunga atas Liabilitas Sewa sebagai akibat penerapan PSAK 73 terhadap sewa lahan yang dilakukan IPCC terhadap induk usaha, IPC. Sementara itu, pendapatan bunga sebesar Rp15,69 miliar dari sebelumnya Rp22,18 miliar.

Meski terjadi peningkatan depresiasi dari Rp8,14 miliar di semester pertama 2019 menjadi Rp12,73 miliar di periode yang sama tahun ini dan peningkatan pada amortisasi menjadi Rp35,21 miliar dari sebelumnya Rp1,21 miliar namun, EBITDA IPCC terlihat lebih rendah 45% menjadi Rp66,79 miliar di semester pertama tahun ini karena terjadinya penurunan Laba Usaha. Alhasil, bottom line IPCC mengalami koreksi menjadi rugi secara pencatatan menjadi Rp237,78 juta di periode semester pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama di tahun lalu yang masih tercatat laba Rp90,57 miliar.

Untuk selanjutnya, dengan harapan kian pulihnya kegiatan produksi para pabrikan/manufaktur otomotif yang diikuti dengan mulai adanya demand terhadap kendaraan serta pulihnya sejumlah industri yang terkait dengan alat berat tentunya dapat berimbas positif pada kinerja IPCC ke depannya.

Selain itu, jajaran Manajemen juga terus mengupayakan sejumlah strategi agar dapat mengangkat kembali kinerja IPCC, baik melalui optimalisasi lahan; pendekatan kerjasama logistik dan penanganan kargo kendaraan secara langsung dengan sejumlah pabrikan untuk menekan biaya logistik; peningkatan kualitas layanan bongkar muat melalui pemberdayaan SDM; perbaikan dan peningkatan layanan konektivitas sistem jaringan yang terintegrasi antara IPCC, Shipping line, automaker, hingga Bea Cukai; digitalisasi operasional; dan sejumlah strategi lainnya diharapkan dapat kembali meningkatkan kinerja Perseroan. (ro)