27/01/2021

Jadikan yang Terdepan

PABRIK BIO-CNG DSNG SIAP BEROPERASI BULAN DEPAN

Jakarta, KabarGRESS.com – PT Dharma Satya Nusantara Tbk (“Perseroan”, “DSNG”) telah merampungkan pabrik Bio-Compressed Natural Gas (Bio-CNG) dengan kapasitas 280 m3 per jam dan menghasilkan output listrik sebesar 1,2 Megawatt, yang berlokasi di Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur.

Direktur Utama Perseroan, Andrianto Oetomo, mengatakan pabrik yang mulai dibangun sejak Desember 2018 tersebut sempat terhenti pembangunannya pada kuartal I tahun ini akibat pandemi COVID-19 sehubungan dengan adanya pembatasan aktivitas keluar masuknya wilayah kebun.

“Saat ini kami sedang dalam tahap finalisasi instalasi pabrik Bio-CNG tersebut dan ditargetkan akan segera commissioning pada September 2020,” kata Andrianto Oetomo dalam Press Conference Public Expose Live 2020 yang diselenggarakan pada hari Senin, 24 Agustus 2020.

Pembangunan Bio-CNG Plant ini merupakan salah satu perwujudan nyata dari kebijakan sustainability Perseroan. Dengan memberdayakan limbah cair atau palm oil mill effluent (POME) yang mengandung gas metana (CH4), Perseroan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca yang berdampak buruk terhadap lingkungan.

Di samping itu, melalui proses konversi gas metana menjadi energi listrik serta gas likuid dalam tabung atau Bio-Compressed Natural Gas (Bio-CNG), pemanfaatan POME yang berasal dari 1 Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dengan kapasitas 60 ton TBS per jam, akan menghemat penggunaan solar hingga 2 juta liter per tahun sebagai pengganti bahan bakar solar di PKS, perumahan karyawan maupun sarana transportasi.

Tahun depan, Perseroan berencana untuk membangun pabrik Bio-CNG berikutnya dengan kapasitas yang jauh lebih besar karena memanfaatkan POME dari 2 PKS dengan kapasitas 2×60 ton TBS per jam, sehingga penghematan biaya energi akan semakin signifikan.

Selain itu, dengan pemanfaatan Bio-CNG ini, cangkang atau Palm Kernel Shell yang tadinya dijadikan bahan bakar pada Kernel Crushing Plant (KCP), dapat diproses menjadi biomas untuk diexport ke Jepang, sehingga menghasilkan tambahan pendapatan bagi Perseroan.

Sementara itu, menyinggung soal kinerja semester I 2020, Andrianto Oetomo menjelaskan kinerja operasional maupun finansial pada paruh pertama tahun ini cukup memuaskan. Perseroan mencatat nilai penjualan sebesar Rp 3,15 triliun, naik 22% dibandingkan tahun lalu. Dari jumlah tersebut, penjualan kelapa sawit mencapai Rp 2,66 triliun atau memberikan kontribusi sekitar 84%.

Penjualan segmen usaha kelapa sawit tersebut mengalami kenaikan sebesar 26% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang didorong oleh kenaikan harga rata-rata CPO Perseroan sebesar 23% menjadi Rp 7,8 juta per ton dibandingkan semester I tahun lalu sebesar Rp 6,4 juta per ton.

“Sepanjang tahun ini harga CPO cenderung tinggi, meskipun harga CPOdi KPB Medan pada kuartal kedua 2020 sempat merosot jauh di bawah level Rp 7 juta per ton akibat turunnya permintaan sebagai dampak pandemi COVID-19 di beberapa negara. Kami optimistis trend kenaikan harga CPO tersebut akan terus berlanjut sampai akhir tahun seiring dengan kembalinya aktivitas ekonomi di beberapa negara setelah sebelumnya lock down,” kata Andrianto Oetomo.

Pada semester I 2020, Perseroan mencatat perolehan EBITDA sebesar Rp 690 miliar, naik 20% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan margin EBITDA sebesar 22%, relatif sama dengan margin EBITDA pada semester I tahun lalu. Sedangkan laba bersih semester I tercatat sebesar Rp 180 miliar naik 163% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dari sisi operasional, selama enam bulan pertama tahun 2020, produksi CPO Perseroan mencapai 312 ribu ton, naik 19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Perseroan berhasil meningkatkan kinerja pabrik kelapa sawit dengan peroleh Oil Extraction Rate (OER) sebesar 24,09% dibandingkan tahun lalu sebesar 22,99%.

Sementara itu, di segmen usaha produk kayu, pandemi COVID-19 memberikan dampak yang signifikan terhadap volume penjualan baik panel maupun engineered flooring Perseroan. Meskipun volume penjualan produk panel pada enam bulan pertama tahun 2020 masih naik 6% menjadi 47.700 m3, namun volume penjualan pada kuartal kedua 2020 turun sekitar 15% dibandingkan kuartal pertama 2020.

Begitu juga dengan produk engineered flooring, di mana volume ekspor pada semester I 2020 turun 7% menjadi 402 ribu m2, yang sebagian besar diakibatkan oleh turunnya volume penjualan pada kuartal kedua 2020 sebesar 32% dibandingkan kuartal I 2020.

Terkait dengan Penawaran Umum Berkelanjutan I Obligasi Tahap I Tahun 2020, Perseroan berhasil menghimpun dana sebesar Rp 451 miliar dari yang ditargetkan sebesar Rp 500 miliar. Jumlah tersebut diperoleh dari dua seri Obligasi, yakni Seri A sejumlah Rp 275 miliar untuk tenor 3 tahun dengan kupon 9,60% serta seri B untuk tenor lima tahun dengan kupon 9,90% sejumlah Rp 176 miliar. Dana yang diperoleh dari hasil penawaran umum tersebut setelah dipotong biaya-biaya akan digunakan untuk melunaskan sebagian pinjaman Perseroan dan anak perusahaan kepada PT Bank Central Asia Tbk (BCA).

Sebelumnya Perseroan juga telah menandatangani fasilitas pinjaman senilai USD30 juta untuk jangka waktu 10 tahun dari Stichting andgreen.fund (&Green), suatu dana investasi finansial yang berkedudukan di Belanda yang berfokus pada pembiayaan berdampak lingkungan, terutama pembiayaan produksi komoditas yang berkelanjutan dalam rangka perlindungan hutan tropis. Fasilitas pinjaman tersebut merupakan investasi pertama &Green di dunia untuk sektor perkebunan kelapa sawit dan diharapkan akan mengkatalisasikan pengimplementasian strategi Perseroan atas No Deforestation No Peat No Exploitation (NDPE) serta pemberdayaan komunitas lokal. (ro)