11/07/2020

Jadikan yang Terdepan

AirAsia Merawat dan Menjaga Kelaikan Armada untuk Kita

Jakarta – Sejak akhir Maret, sebagian besar armada AirAsia Group yang berjumlah 282 pesawat telah terparkir di beberapa bandara di Asia. Di antara jumlah tersebut terdapat 28 unit pesawat yang terparkir di 4 lokasi di Indonesia sejak 1 April 2020 yaitu Jakarta, Denpasar, Medan, dan Surabaya. Namun, apa yang terjadi dengan semua pesawat ini?

“Pesawat kami memang sedang berhibernasi, tapi banyak yang harus dilakukan untuk merawat adhi karya berteknologi canggih ini. Teknisi kami harus memastikan semua pesawat selalu dalam kondisi prima saat nantinya kami bersiap untuk mengudara lagi,” ucap Banyat Hansakul, Head of Engineering AirAsia Group.

AirAsia telah mengaktifkan prosedur parkir jangka panjang (Long Term Parking Procedures) yang merupakan bagian pedoman perawatan pesawat atau Aircraft Maintenance Manual (AMM) yang dipersyaratkan oleh pabrikan pesawat Airbus. Pedoman yang ketat tersebut menjelaskan tentang prosedur dan perawatan rutin yang harus dilakukan untuk menjaga keselamatan dan kelaikudaraan pesawat selama periode parkir jangka panjang.

MENJAGA ARMADA DI DARAT

Tidak mudah mengawasi teknis dan perawatan pesawat untuk sebuah grup maskapai dalam situasi yang menantang ini. “Pertanyaan pertama yang kami tanyakan kepada diri kami adalah, dimana kami akan menyimpan ke-282 pesawat ini? Bandara basis operasi atau hub terbesar kami berada di Kuala Lumpur dan Bangkok, tapi bahkan Bandara KLIA2 dan Don Mueang tidak mempunyai tempat parkir yang cukup untuk menampung semua pesawat kami.”

“Di Kuala Lumpur, kami berhasil memecahkan masalah ini dengan memarkirkan sebagian pesawat di terminal kargo; sementara di Bangkok jumlah tempat parkir benar-benar terbatas dan tidak mencukupi, itu pun setelah beberapa pesawat kami akhirnya diparkirkan di taxiway yang telah disulap menjadi area parkir sementara oleh otoritas bandara. Namun, setelah mempertimbangkan banyak hal kami memutuskan untuk memindahkan beberapa pesawat kami ke hub terdekat lainnya seperti Phuket International Airport dan Utapao Rayong-Pattaya International Airport.”

“Kami juga harus mengidentifikasi masa parkir yang diperlukan untuk setiap pesawat, karena prosedur perawatan yang harus dilakukan terhadap pesawat ini berbeda-beda tergantung kategori masa parkir; kurang dari sebulan, 1 hingga 6 bulan, atau 6 bulan hingga setahun.”

Hampir semua pesawat kami yang terparkir tergolong ke dalam kategori pertama dan kedua. Sebagian kecil tetap dibiarkan aktif untuk sewaktu-waktu dapat digunakan membantu misi kemanusiaan dan penanggulangan bencana, atau untuk operasi kargo dan sewa.” ucap Banyat.

MENJAGA DARI BAHAYA LUAR

Setelah menentukan lokasi dan masa parkir setiap pesawat, kami lanjut melakukan tugas yang paling menyita tenaga yaitu menutup bagian-bagian pesawat yang terbuka dan terpapar lingkungan.

Setiap celah atau bagian penting pesawat yang terpapar lingkungan harus dilindungi menggunakan penutup yang direkomendasikan oleh pabrikan pesawat untuk melindungi dari debu, serangga, burung, atau benda asing lainnya yang berpotensi merusak sistem pesawat. Bagian-bagian tersebut antara lain mesin, inlet dan outlet Auxiliary Power Unit (APU), alat pendeteksi data udara (air data probes) seperti pitot probes, static ports atau antena berbentuk tabung lainnya yang menempel pada badan pesawat. Jika akan berada di darat dalam waktu yang sangat lama, roda pendaratan juga termasuk yang akan ditutupi untuk mencegah karat.

Para teknisi akan menjalankan inspeksi harian untuk memeriksa adanya kelainan teknis pada pesawat seperti kebocoran oli mesin atau cairan hidrolik, dan memastikan semua penutup bagian pesawat terpasang dengan benar.

Selain inspeksi harian, teknisi juga akan membersihkan air data probes atau alat pendeteksi data udara dan bagian lainnya untuk memastikan tidak terjadi pembentukan residu yang diakibatkan oleh pesawat yang berdiam di darat.

Inspeksi harian sangat penting untuk dilakukan karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di alam selain dari perubahan cuaca. Sebagai contoh, tidak lama setelah hibernasi, teknisi kami menemukan sarang burung di salah satu sayap pesawat A330 yang terparkir di Bandara Don Mueang

“Burung, lebah, atau serangga lainnya yang bersarang di pesawat yang tidak beroperasi adalah permasalahan yang lumrah terjadi di semua maskapai di dunia, jadi bukan hal yang aneh. Setelah mengetahui hal ini kami selanjutnya menghubungi otoritas terkait untuk membantu membawa ‘tamu tak diundang’ tersebut ke tempat yang lebih aman jauh dari pesawat; tidak ada hewan yang tersakiti selama proses ini berlangsung,” terang Banyat.

MENJAGA KESIAPAN PESAWAT

Untuk memastikan bentuk roda tetap terjaga akibat berada dalam posisi yang sama terlalu lama, pesawat perlu ditarik maju mundur, atau disanggah lalu rodanya diputar untuk mengurangi tekanan pada bagian yang menempel pada aspal.

Teknisi juga akan menyalakan mesin pesawat dan APU secara berkala sesuai jadwal yang tertera pada AMM untuk memastikan kondisi mesin tetap prima.

Untuk persiapan masa parkir yang lebih lama, beberapa pengaturan pesawat harus dikonfigurasi ulang, seperti mencabut baterai, mengaktifkan ‘ditching mode’ untuk menutup katup dan jalan masuk udara lainnya ke dalam pesawat agar udara tidak masuk ke kabin, serta melepas alat pendeteksi data udara dan sistem penghangat jendela untuk mencegah melelehnya penutup alat pendeteksi data udara.

Bagi grup maskapai yang mengoperasikan ratusan penerbangan per hari, masa hibernasi ini menjadi kesempatan yang langka untuk dapat melakukan program pembersihan menyeluruh serta perbaikan interior kabin pesawat. Semua bagian atau panel yang dapat dilepas akan dibuka dan dibersihkan secara menyeluruh termasuk panel dinding kabin, area awak kabin atau biasa disebut ‘galley’, toilet, dan bahkan panel atas di ruang kemudi pesawat. Karpet dan tirai akan dicuci dan seluruh permukaan di dalam kabin seperti sandaran tangan dan meja akan dilap menggunakan cairan desinfeksi berkualitas tinggi.

“Merawat armada pesawat dalam jumlah yang besar bukan pekerjaan yang mudah, bahkan untuk mengistirahatkan pesawat-pesawat ini butuh perencanaan kerja yang memakan waktu panjang dan koordinasi yang penuh kehati-hatian antara tim teknisi dan petugas darat.

“Kami beranggapan, masa istirahat ini adalah satu langkah untuk maju ke depan, ketika pandemi ini berakhir, kami akan siap membawa tamu-tamu kami terbang kembali, dan untuk sekarang kami sedang melakukan pekerjaan penting yaitu memastikan pesawat aman dan terawat dengan baik untuk tamu kami.” imbuh Banyat. (ro)