09/07/2020

Jadikan yang Terdepan

“MANAJEMEN” GERAK CEPAT PEMERINTAH STOP PENYEBARAN COVID-19

Jaga Imun Tubuh, Kuatkan Iman

Penulis : Sugiharto, Dosen STIT Islamiyah Ngawi, Pengurus LTM PCNU Ngawi

BANYAK pertanyaan, apa tindakan pemerintah menghadapi pandemi Virus Corona  Vid-19 (Covid-19). Namun pastinya, tiada hari tanpa gerakan cepat menangani pandemi mematikan ini. Berbagai-bagai  langkah cepat dilakukan pemerintah untuk menghadang penyebaran ‘dhemit’ Covid-19 yang sudah melanda di 180 negara. Semula banyak  beranggapan virus Corona  Vid-19 (Covid-19)  tidak  bakal menyebar ke Indonesia.

Dari data situs Covid-19 per 22 Maret 2020 ini, total pasien positif virus di Indonesia naik menjadi 514 positif, sembuh 29, 48 meninggal dunia. Sebenarnya penyebaran ini yang ditekan pemerintah. Sejak dini sudah dilakukan pemerintah. Itu patut dihargai. Kala itu 243 WNI yang masih terkurung di Wuhan Provinsi Hubei, akibat wabah virus  Covid-10  yang menyebar disana.

Lantas dilakukan droping bahan makanan ke Wuhan, penjemputan, kemudian karantina di pulau terpencil dengan melibatkan TNI berbagai departemen. WNI dari Wuhan dinyatakan sehat bebas dari Covid-10. Namun kondisi mereka masih sehat meski berada di pusat penularan virus. Belajar dari karantina WNI dari Wuhan adalah menjaga imunitas tubuh  hal nomor satu yang harus dilakukan agar terhindar dari virus Covid-19.

Dari berbagai-bagai pemberitaan media  cetak, online, televisi, pernyataan langsung dari Presiden Jokowi sebagai ‘panglima perang’ melawan pasukan  Covid-19, pemerintah mengambil langkah-langkah konsolidasi dan koordinasi terintegrasi untuk mencegah jangan sampai virus ini nanti masuk ke wilayah Indonesia.

Memproteksi di 135 pintu masuk ke Indonesia selama 24 jam penuh.
‘Panglima perang’ memilih kebijakan pembatasan sosial daripada lockdown (karantina wilayah) dalam menangani corona. Masyarakat diminta untuk sekolah dari rumah, kerja dari rumah, dan ibadah dari rumah. Kebijakan Social Distancing berdasarkan UU 6/2018 sebagai respons atas kedaruratan kesehatan masyarakat. Itu salah satu alasan pemerintah. 

Seluruh sekolah, perguruan tinggi mengikuti permintaan ‘panglima perang’, setelah Departemen Pendidikan Nasional, Kementerian Agama, Kepala daerah  menindaklanjuti apa yang disampaikan Presiden. Pemerintah daerah pun secara serentak berusaha keras mengantisipasi penyebararan Covid-19. 

Pemerintah pun menginstrukskan  melakukan Rapid Test dengan cakupan lebih luas. Alat-alat rapid tes dan tempat tes terus diperbanyak, dan melibatkan rumah sakit, baik pemerintah, milik BUMN, Pemda, rumah sakit milik TNI dan POLRI, dan swasta, dan lembaga-lembaga riset dan pendidikan tinggi yang mendapatkan rekomendasi dari Kementerian Kesehatan. Tujuannya tes massal agar secepat mungkin menemukan kasus positif, kemudian dilakukan isolasi guna mencegahnya menjadi sumber penularan pada masyarakat.

Masyarakat pun dihimbau  agar mengakses informasi seputar virus Covid-19 dari sumber institusi resmi pemerintah. Masyarakat agar lebih cerdas dalam menerima dan menyebarkan informasinya terkait Covid-19. Jangan menyebarkan hoax dan menelan mentah informasi hoax. Polri juga  melakukan makhlumat kepada masyarakat untuk membatasi kegiatan massal.

Kini pemerintah juga membangun secara maraton dengan menyulap beberapa tempat menjadi  rumah sakit  perawatan penderita Covid-19. Di daerah  Batam, bekas camp pengungsian warga Vietnam, wisma atlet Kemayoran DKI Jakarta. Seiring itu, TNI berangkat mengambil peralatan kesehatan,  disposable Mask, N95 mask, protective clothing, goggles, gloves, shoe covers, infrared thermometer dan surgical caps.
 
Alat-alat tersebut digunakan untuk pencegahan dan penanggulangan penyebaran virus corona.
Kebijakan pemerintah pusat dan daerah masih  terlihat rasional, terukur, penuh kehati-hatian tapi pasti dalam menyikapi wabah COVID-19. Di Jawa Timur, propinsi dan daerah kabupaten/kota  melakukan secara bertahap dan aktif  mengansipasi  penyebaran Covid-19.

Gubernur Jawa Timur melalui surat edaran nomor: 420/1780/101.1/2020 perihal Peningkatan Kewaspadaan terhadap Corona  Virus Diseaase (Covid -19) yang tindaklanjuti oleh bupati dan walikota. Di Kabupaten Magetan  menyatakan status siaga, Pemerintah daerah Surabaya dan Malang  melakukan pengawasan ketat. Di Ngawi langkah,   puskesmas terjun langsung dan survey  ke masyarakat  yang  baru pulang umroh, Tenaga Kerja Indnesa (TKI), dari Luar Negeri,  pulang dari daerah kota yang terpapar.

Pemerintah daerahnya bekerjasama dengan lintas sektor  atau  musyawarah pimpinan  kecamatan (Camat, Koramil, Polsek, Instansi terkait di kecamatan) melakukan sosialisasi ke pasar, pondok pesantren, tempat ibadah, sekolah terminal stasiun, penyemprotan, himbauan siaran keliling dan selebaran, pamflet dan masih banyak lagi.  

Masyarakat pun bergerak untuk tidak melakukan pertemuan tingkat RT/RW. Berinisiatif secara mandiri  dengan melakukan penyemprotan dsinfektan di sekitar wilayah rumahnya. Tokoh masyarakat, tokoh agama  terus menerus melakukan sosialiasi  terhadap pencegahan penyebaran Convid-19 yang  menitik beratkan  pada sosalssasi batin, upaya pendekatan  pada  Tuhan Yang Maha Kuasa.

Upaya pemerintah pusat, daerah  termasuk  dinas-dinas hingga ke tingkat desa, kalau boleh  saya sebut itulah ‘manajemen’ gerak cepat pemerintah dalam melawan gerakan penyebaran Covid-19.   

Gerakan Cepat  itu harus didukung penuh oleh masyarakat tanpa kecuali. Ikhtiar dhoir sudah begitu sangat keras, ikhtiar batin harus lebih dikuatkan. Saya ingat pesan kedua anak saya yang sekarang di luar kota dan tetap tinggal di pondok pesantren, “Jangan lupa bapak ibuk mengonsumsi madu, herbal/rempah, sama minum air putih yang banyak. Jaga imun, kuatkan iman.. banyak berdoa keselamatan dan perlindungan-Nya, Insyaa Allah, aman. Ingat Allah dimanapun kapanpun, pasti  Allah jaga selalu.” (*)