07/07/2020

Jadikan yang Terdepan

Menengok Kembali Proses Pembangunan Merr Sejak 1996

Proyek pembangunan Jalan Middle East Ring Road (MERR) yang sangat fenomenal itu telah rampung 100 persen. Jalan yang membentang di sepanjang 10,75 kilometer itu dibangun sejak 1996, sehingga banyak doa dan perjuangan mengiringi pembangunannya.

Jalan yang diberi nama Ir Soekarno itu membentang dari Jalan Kerjeran hingga Gunung Anyar atau perbatasan Surabaya-Sidoarjo. Sabtu (15/2/2020) lalu, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini meresmikan Jalan Merr IIC sisi Gunung Anyar. Peresmian ini sekaligus menandai rampungnya Jalan Merr secara keseluruhan.

Jalan Merr merupakan salah satu rangkaian jalan arteri primer di Kota Pahlawan dan menjadi pintu gerbang Kota Surabaya di sisi Timur. Proyek pembangunan Jalan MERR ini tertuang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Surabaya tahun 2014–2034 dan menjadi prioritas pembangunan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kota Surabaya tahun 2016–2021.

Pada saat perencanaan dulu, beberapa bagian dari Merr itu sempat mau dijadikan jalan tol. Namun, saat itu Wali Kota Risma ngotot tidak mau karena dia memikirkan warganya yang nanti tidak bisa lewat. “Kenapa saya ngotot tidak mau jalan tol? Karena saya tahu bahwa warga saya masih banyak yang memakai sepeda motor. Dengan jalan ini siapapun bisa lewat, tidak peduli kaya atau miskin. Tapi kalau jalan tol, maka yang punya mobil saja yang bisa lewat,” kata Wali Kota Risma.

Selain itu, Presiden UCLG ASPAC ini juga memastikan bahwa Jalan Merr itu untuk mempermudah akses masuk atau pun keluar Surabaya. Bahkan, akses itu juga digunakan untuk akses beribadah. “Kalau seseorang mau bekerja, berarti dia beribadah. Kemudian ada pula seseorang yang mau beribadah ke masjid atau pun gereja. Makanya, meskipun dengan keterbatasan dana, saya tetap ngotot tidak mau tol,” ujarnya.

Di samping itu, Wali Kota Risma juga mengajak warga Surabaya, khususnya warga Gunung Anyar untuk selalu mencari rejeki yang halal dan barokah. Karenanya, kalau nanti ada yang mau membuka usaha di sepanjang jalan Merr, ia meminta untuk tidak diganggu, karena rentetannya sangat panjang. Ia mencontohkan apabila ada yang mau membuka restoran di sekitar Merr. Saat membuka restoran, pasti dia membutuhkan juru masak dan para pelayannya.

Tentunya, itu akan membuka peluang kerja untuk orang lain, sehingga orang-orang itu bisa memberikan nafkah bagi keluarganya dan anaknya bisa sekolah, sehingga anaknya tidak melakukan perbuatan kriminal. “Jadi, rentetannya panjang sekali. Itu namanya barokah. Makanya, setiap kali saya melakukan pembangunan di Surabaya, selalu saya pikirkan, jangan sampai ada yang menggangu. Jangan lupa ada hablumminallah dan hablumminannas,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas PU Bina Marga dan Pematusan Erna Purnawati mengatakan Jalan Merr ini terbagi menjadi 3 bagian. Pertama, Merr IIA dari Jalan Kenjeran-perempatan Unair Kampus C atau Jalan Mulyorejo. Kedua, Merr IIB dari perempatan Unair Kampus C atau Jalan Mulyorejo-perempatan Jalan Arief Rahman Hakim. Ketiga, Merr IIC dari perempatan Jalan Arief Rahman Hakim-Gunung Anyar (perbatasan Surabaya-Sidoarjo). “Total keseluruhan Merr ini panjangnya 10,75 kilometer dan lebarnya 40 meter. Semuanya sudah selesai, jadi fix Merr sudah beres,” tegasnya.

Sedangkan proses pembangunannya, jalan pemecah kemacetan ini dilakukan secara bertahap. Awalnya, pada tahun 1996 dimulai pembangunan Jalan Merr IIB sepanjang 2,850 kilometer dari perempatan Unair Kampus C atau Jalan Mulyorejo hingga perempatan Jalan Arief Rahman Hakim. Pembangunan yang digarap oleh pemerintah pusat itu selesai pada tahun 1998.

Setelah pembangunan ruas Jalan MERR IIB selesai, kemudian pemerintah pusat melanjutkan pembangunan ke arah utara menggarap ruas Jalan MERR IIA pada tahun 1997/1998. MERR IIA ini sepanjang 1,626 kilometer dari Jalan Kenjeran hingga perempatan Unair Kampus C atau Jalan Mulyorejo.

Dengan berjalannya waktu, akhirnya ruas Jalan Merr IIC sepanjang 6,45 kilometer dari Jalan Arif Rahman Hakim hingga Gunung Anyar (perbatasan Surabaya-Sidoarjo) juga digarap mulai tahun 2011. Namun, proses pengerjaannya itu tidak sampai selesai karena ada beberapa masalah. Hingga tahun 2016, proyek tersebut hanya sampai di perempatan UPN. Kemudian, sejak tahun 2017-2019, Pemkot Surabaya mengambilalih pembangunan itu.

“Jadi, pada tahun 2017-2019 itu kami melakukan pembebasan lahan dan juga melakukan pengerjaan fisiknya hingga tuntas di perbatasan Surabaya-Sidoarjo,” kata Erna.

Erna memastikan, khusus untuk pembebasan lahan sepanjang Jalan Merr, semuanya dilakukan oleh Pemkot Surabaya. Sedangkan pembangunan fisiknya dilakukan oleh pemerintah pusat, meskipun akhirnya saat pembangunan Merr IIC mandek dan dilanjutkan oleh Pemkot Surabaya.

“Makanya, untuk pembebasan lahan sendiri kami menghabiskan dana sebesar Rp 326.197.126.971 dan sisa pembangunan fisiknya di Merr IIC sebesar Rp 99.781.610.526. Jadi, totalnya Rp 425,9 miliar lebih atau hampir setengah triliun,” tegasnya.

Kepala Dinas Perhubungan Surabaya Irvan Wahyudrajat menjelaskan Jalan Merr ini akan memecah kepadatan arus lalu lintas di Jalan Ahmad Yani. Sebab, sebagian masyarakat yang hendak keluar Kota Surabaya, baik ke Sidoarjo maupun ke Bandara Juanda dapat memilih rute, bisa melalui rute Ahmad Yani atau bisa juga lewat Merr. “Sepanjang jalan ini sudah kami lengkapi 28 CCTV, sehingga kami pantau 24 jam,” pungkasnya. (ADV)