Sinergi BI dengan Kampung Flory Bisa Dijadikan Model Pengembangan Destinasi Wisata

Pengunjung menikmati obyek wisata Kampung Flory

Sleman, KabarGRESS.com – Keberhasilan pengembangan obyek wisata Kampung Flory yang terletak di Dusun Jugang Pangukan, Desa Tridadi, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, dapat dijadikan contoh untuk pengembangan destinasi wisata. “Kampung Flory ini melakukan sinergi dengan BI Yogyakarta dan berhasil. Ini bisa menjadi role model bagi kita untuk diterapkan di sejumlah desa di wilayah Jatim, bisa di Madiun, Blitar, Jember, Banyuwangi, Kediri dan lain sebagainya. Karena memiliki potensi yang sama untuk pemberdayaan ekonomi masyarakatnya,” ungkap Kepala BI Kantor Perwakilan Jatim, Difi A. Johansyah, di sela-sela acara kunjungannya bersama awak media ke Kampung Flory, Jumat (23/8/2019).

Sinergi yang terjalin antara BI dengan Kampung Flory, masuk dalam hal fasilitas jalan, pelatihan digital marketing, dan mempromosikan bisa melalui artikel sehingga bisa dibaca secara publik. Perlu diketahui, Kampung Flory Sleman merupakan destinasi wisata dengan daya tarik agrowisata yang dikembangkan dengan konsep edukatif. Latar belakang pembangunan kawasan ini adalah keprihatinan mengenai banyaknya generasi muda yang lebih memilih bekerja pada sektor formal ketimbang pada sektor pertanian. Keberadaan kawasan wisata ini belum lama dibangun dan baru diresmikan pada pertengahan 2016.

Budidaya tanaman hias di Kampung Flory

Kampung Flory Sleman pada mulanya dikembangkan sebagai tempat budidaya tanaman hias dan bibit tanaman buah. Selanjutnya agar lebih menarik minat wisatawan, pengelola mengembangkannya sebagai wisata minat khusus bagi yang ingin belajar tentang tanaman hias, perkebunan, dan pertanian. Kawasan seluas lebih dari dua hektar ini dilengkapi dengan sarana pendukung seperti taman edukatif, tanaman buah/bunga dalam pot (tabulampot), sayur mayur, dan tanaman obat keluarga.

Fasilitas lain yang disediakan Kampung Flory adalah arena outbound untuk kelompok, organisasi, hingga instansi yang menyelenggarakan kegiatan di kawasan agrowisata tersebut. Ada beberapa arena ketangkasan yang telah dibangun dan siap dipergunakan di kawasan ini. Pengunjung yang ingin mencoba dipersilakan mengontak pengelola outbound atau kawasan wisata.

Sudihartono selaku pendiri Kampung Flory, mengatakan ada banyak tangan yang ikut berpartisipasi dalam keberhasilannya membentuk Kampung Flory, selain Bank Indonesia Yogyakarta, Pemda setempat hingga pemerintah pusat ikut membantu dalam keberhasilannya.

Kampung Flory telah berkembang pesat hingga terbagi menjadi empat zona di lahan seluas 6,5 hektar. Zona pertama adalah zona “Taruna Tani Flory” yang berkonsentrasi pada pembibitan tanam hias dan buah. Zona kedua “Dewi Flory” yang lebih menyasar pada aktivitas outbound, zona “Bali Ndeso Grup” yang bergerak di bidang kuliner dan wahana wisata dan terlahir zona “Puri Mataram” yang lebih dikhususkan untuk pengembangan agro buah. Dari keempat zona itu, kampung wisata tersebut mampu membukukan pendapatan sebesar Rp1 miliar per bulan pada 2018. “Tahun ini, target kami sebulan mencapai Rp1,2 miliar per bulan,” ujarnya. (ro)

Leave a Reply


*