Akhirnya Eri Cahyadi Angkat Bicara Soal Banjir di Kawasan Surabaya Barat

Surabaya, KabarGress.Com – Pasca banjir di kawasan pemukiman elit dan sejumlah wilayah di Surabaya Barat, Pemerintah Kota Surabaya belum ada yang mau membuka suara saat dimintai keterangan. 

Hari ini, Jumat (8/2/2019), Kepala Bappeko Surabaya Eri Cahyadi akhirnya memberi pernyataan soal banjir Surabaya yang juga sempat viral di media sosial dimana ada kendaraan yang hanyut, bahkan merenggut satu orang nyawa. 

Eri membenarkan statemen sejumlah pengamat yang mengatakan bahwa saluran di Surabaya Barat belum terkoneksi sehingga butuh ada koneksi saluran di kawasm tersebut khususnya erumahan elit agar ke depan tidak ada lagi banjir.

Saat ini Pemkot juga sedang berkooridinasi dengan pengembang di Citraland agar segera mengebut pengerjaan kolam tampung di kawasan perumahan Citraland.

“Ada dua kolam tampung yang sedang akan dibangun di komplek perumahan Citraland. Kolam tampung ini dihubungkan dengan Waduk Slamet,” kata Eri. 

Selain di Citraland, komplek perumahan Pakuwon juga diminta Pemkot untuk membuat kolam tampung sebagau transit air sebelum masuk ke waduk pembuangan air. 

Dengan adanya kolam tampung ini,  maka ada transit air saat hujan lebat sebelum dibuang ke Waduk Slamet di kawasan Lidah Kulon,  Lakarsantri, Surabaya Barat. Pembangunan kolam tampung ini dilakukan oleh pengembang yang bersangkutan. 

Sebab sejatinya Pemkot sudah memililiki aturan sejak tahun 2013 seluruh perizinan komplek perumahan harus disertai dengan membangun wilayah resapan air. 

“Mereka sebenarnya sudah dibangun sejak tahun 2016 tapi bertahap jadi belum selesai dan kita dorong supaya tahun 2019 ini harus sudah selesai,” tegas Eri. 

Lebih lanjut disampaikan Eri, sejak tahun 2013Pemerintah Kota sudah mewajibkan dalam perizinan perumahan agar pengembang mengganti wilayah resapan air akibat pembangunan perubahan.  Yang wujudnya adalah kolam tampung. 

Untuk wilayah Citraland,  mereka sudah beritikad baik untuk membangun kolam tampung yang diminta Pemkot.  Namun karena keburu hujan sehingga pembangunan kolam terhenti dan terjadi banjir.

“Bukan hanya kolam tampung. Tapi kami juga saat perizinan kami meminta mereka membuat desain saluran yang harus konek dengan saluran dan sungai di sekitarnya.  Maka yang di Citraland, Pakuwon juga begitu, mereka sedang mencoba mengkonekkan saluran mereka dengan yang saluran pembuangan yang ada,” kata Eri.

Saat ini diakui Eri di wilayah seperti di Lontar dan kawasan sekitar Pakuwon ada beberapa yang belum tersambung. Sehingga Pemkot kini sedang membuat rencana drainase atau sistem drainase master plan (SDMP) agar semua saluran bisa nyambung.

Dan jika ada yang melewati kawasan pengembang,  maka pengembang yang bersangkutan yang wajib untuk membangunkan saluran drainasenya.

“Kami menarget agar tahun ini selesai,” pungkas Eri.

Sebelumnya, pekan lalu dilayah Citraland,  Pakuwon, Darmo Satelit,  Lontar, Tandes dan sejumlah wilayah di Surabaya Barat terendam banjir.  Bahkan ada korban anak-anak yang terpeleset masuk ke saluran yang banjir dan hanyut hingga meninggal dunia.

Di sisi lain,  anggota DPRD Kota Surabaya Komisi C Vinsensius Awey mengatakan banjir di Surabaya ini sungguh disayangkan.  Padahal anggaran untuk penanggulangan banjir di Surabaya setiap tahun tidak pernah menurun. 

“Setiap tahun anggaran penanggulangan banjir di Surabaya itu Rp 400 miliar.  Selalu sekitaran angka itu,  nggak pernah diturunkan sedikitpun, tapi nyatanya banjir masih terjadi begitu parahnya,” kata Awey.

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa butuh ada evaluasi dalam perencanaan Pemerintah Kota Surabaya.  Ia mengatakan dalam perencanaan penanggulangan banjir seharusnya Pemkot memiliki master plan dan prioritas penanggulangan banjir. 

Dan dari perencanaan itu dilakukan penanggulangan yang sistematik dan fokus di prioritas wilayah yang harus ditangani segera.

“Jadi bukan dimeratakan di mana mana tapi masalah banjir juga terjadi dimana-mana.  Bukan berarti saya tidak sepakat pemerataan pembangunan,  tapi harus ada fokus penanganan wilayah prioritas masalah banjir,  dan diselesaikan di titik itu samai selesai,  bukan setengah-setengah lalu akhirnya nggak selesai,” kata Awey. 

Terlebih di Surabaya Barat ini hampir menjadi wilayah banjir tahunan dan selalu viral lantaran ketinggiannya yang mencapai 30 sentimeter hingga satu meter.

Selain itu,  Awey menyebutkan bahwa Pemkot khususnya Dinas PU Bina Marga dan Pematusan Kota Surabaya harus memastikan masalah konektivitas antar saluran. 

“Saluran primer,  sekunder dan tersier harus terkoneksi. Jangan hanya bangun di sana sini saluran besar kecil tapi tak tersambung,  akhirnya menjadi masalah baru,” tegasnya. (Tur)

Leave a Reply


*