Jatim Miliki Potensi Besar di Sektor Pariwisata

Probolinggo, KabarGRESS.com – Jawa Timur memiliki potensi besar bukan hanya di sektor pertanian dan perkebunan namun juga di sektor pariwisata. Demikian diungkapkan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur (Jatim), Difi A. Johansyah, saat acara Pelatihan Wartawan Ekonomi di Hotel Java View, Probolinggo, Rabu-Kamis (30-31-2019).

Melihat potensi tersebut, BI Provinsi Jatim ikut mendorong pariwisata Jatim khususnya bagi wisatawan mancanegara. “Hal ini merupakan upaya mengurangi defisit. Meski belum maksimal namun BI optimis dari sektor parawisata akan mendukung perkembangan ekonomi,” katanya.

Potensi besar pariwisata tersebut, seperti di daerah Banyuwangi, Malang, Batu dan daerah lainnya termasuk Surabaya. “Secara singkatnya, perekonomian sektor pariwisata akan meningkat dengan didukung infrastruktur yang memadai sehingga masyarakat tidak enggan berkunjung ke tempat- tempat wisata,” ujarnya.

Selain pengembangan wisata dan perdagangan, BI Perwakilan Provinsi Jatim tetap mengupayakan peningkatan dari sektor UMKM. Dimana dari hasil UMKM pengrajinan maupun pertanian dan perkebunan bisa dipasarkan dengan menarget para pembeli dari wisatawan mancanegara.

“Diupayakan untuk hasil yang dikelola oleh para UMKM mulai dari hasil pertanian, perkebunan dan pengrajinan, macam-macam kuliner, batik maupun souvenir khas Jatim bisa menjadi oleh-oleh bagi para wisatawan mancanegara,” timpal Difi.

Menurut Difi, komoditas pertanian dan perkebunan di Jawa Timur sungguh sayang jika hanya kompetitif di tingkat nasional, namun juga harus mampu menembus pasar global lewat ekspor. Melalui BI Jawa Timur, perwakilan BI di kota-kota Jawa Timur juga melakukan hal serupa, seperti Malang, Kediri dan Jember.

Beberapa komoditas pertanian dan perkebunan yang berorientasi pasar ekspor selama tahun 2019, diantaranya kopi, cokelat, kedelai, bawang putih, jagung dan padi organik.

Komoditas lain yang terkait ketahanan pangan seperti telur, cabai dan daging tetap menjadi perhatian utama BI Jawa Timur. “Komoditas pangan di Jawa Timur menjadi penyumbang penting pangan nasional,” ungkap Difi.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Kediri, Djoko Raharto, mengatakan wilayahnya juga mengembangkan komoditas kopi. Petani di Tulungagung yang menjadi wilayahnya, telah berhasil menanam sekitar 40.000 pohon kopi arabica specialty dengan sebagian pengadaan dibantu oleh pihak BI.

“Saat ini sedang berusaha mendatangkan eksporter agar produk kopi ini mampu menembus pasar global. Tak hanya itu saja, coklat di Blitar juga menjadi komoditas unggulan yang akan diorbitkan ke pasar internasional,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Perwakilan BI Malang, Azka Subhan, mengatakan wilayahnya akan berfokus pada pengembangan bawang putih, kopi, dan padi organik. 

“Ketiga komoditas tersebut, sangat potensial untuk memasuki pasar ekspor dan mengurangi impor. Namun untuk memasuki pasar ekspor, tentu komoditas-komoditas tersebut harus mempunyai keunggulan kompetitif sehingga dapat diterima pasar,” tandasnya.

Oleh karena itu, lanjut Azka, perlu lebih diperbaiki lagi sisi budi dayanya. Misalnya untuk kopi maka perlu memilih bibit yang baik, pohon pelindung, dan pemakaian pupuk organik. Intinya, budi dayanya dilakukan secara organik. “Tapi untuk komoditas yang mendukung ketahanan pangan, tetap kami perhatikan,” timpalnya.

Beberapa nara sumber di acara pelatihan wartawan kali ini, antara lain Difi A. Johansyah selaku Kepala Perwakilan BI Provinsi Jatim, Harmanta selaku Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Jatim, Azka Subhan selaku Kepala Perwakilan BI Malang, Dery Rossianto selaku Kepala Divisi Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan BI Provinsi Jatim, Taufik Saleh, Kepala Divisi Advisory Ekonomi dan Keuangan Kantor Perwakilan BI Provinsi Jatim dan Djoko Raharto, Kepala Perwakilan BI Kediri. (ro)

Leave a Reply


*