28/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Pelajar SMP Indonesia-Korea Belajar Bikin Kue Puthu Simbul Persamaan Asia

Surabaya, KabarGRESS.com – Ada pemandangan berbeda pada Selasa siang (15/1) di SMP Muhammadiyah 5 Surabaya, tampak belasan siswa asal Daejeo Jounior/ high School Busan Metropolitan city, Korea Selatan bersama siswa asal Indonesia asyik membuat kue puthu, kue tradisional Jawa yang cukup melegenda.

Tapi siapa sangka, kue puthu sebagai jajanan khas malam hari saat musim hujan yang ditandai dengan siulannya, ternyata kue puthu memiliki sejarah panjang lintas negara bahkan dikenal satu benua.

Guru mata pelajaran prakarya SMP Muhammadiyah 5 Surabaya, Wahdatul Ummah, mengatakan tujuan pertukaran pelajar agar pelajar saling mengenal tentang budaya, termasuk kuliner lokal.

“Jajanan putu ini kan makanan khas tradisional Jawa Timur, khususnya Surabaya, makanya kita kenalkan dalam kegiatan ini,” ujarnya.

Sementara Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 5 Surabaya, Muslikan, mengatakan dengan belajar membuat kue putu bersama, para pelajar Indonesia dan Korsel ini diharap dapat memahami sejarah kuliner Asia, dan Jawa.

“Di dalamnya terkandung makna persamaan dan kesatuan satu benua Asia dari sisi kuliner. Salah satunya melalui kue dari tepung beras yang dicetak menggunakan bambu,” kata Muslikan. 


Konon, berdasarkan sumber sejarah tertulis kue puthu sudah dikenal di China pada masa dinasti Ming sekitar era tahun 1200 atau abad ke-12. Kue putu dikenal dengan sebutan Xian Roe Xiao Long yang berarti kue dari tepung beras berisi kacang hijau yang amat Iembut dan dikukus dalam cetakan bambu.

Seiring berjalannya waktu kue ini kemudian dikenalkan dan menyebar ke seluruh Asia, termasuk ke dataran semenanjung Korea hingga ke tanah Jawa. Di Korea kue ini dikenal dengan sebutan Baekseolgi Tteok yang kemudian dikembangkan dengan berbagai variasi.

Di Jawa, kue ini dikenal dengan sebutan kue puthu. Penyebutan kue puthu rujukan sumber sejarah tertulis ditemukan pada Serat Centhini yang mengisahkan perjalanan Syekh Amongraga dan Tambangraras, sekitar tahun 1630 saat mereka bertamu di Desa Wanamarta (Probolinggo) disuguhi kopi dengan makanan pendamping serbat dan kue puthu.

Berbeda dengan aslinya dari China, kue puthu di Jawa tidak berisi kacang melainkan berisi gula merah (gula Jawa) agar terasa manis/legit dan dikombinasi rasa gurih dengan menambahkan serutan kelapa.

Jadi dengan belajar membuat kue puthu, para pelajar lndonesia-Korea telah belajar sejarah kuliner Asia dan Jawa yang di dalamnya terkandung makna persamaan dan kesatuan satu benua (Asia) dari sisi kuliner, salah satunya melalui kue dari tepung beras yang dicetak mengunakan bambu.

Agar Iebih terkesan menghormati tradisional Jawa, para pelajar Korea saat praktek bikin kue puthu mereka memakai blangkon khas Surabaya (Cak dan Ning) dengan berselempang sarung layaknya busana jadul. (ro)