28/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Waspadai Radikalisme, Dekatlah dengan Ulama!

Peringati Hari Santri dengan Mantingan Bersholawat

KH Khomari dan suasana Nahdliyyin di lokasi pembangunan kantor NU Mantingan

Ngawi, KabarGRESS.com – Radikalisme atau aliran keras sudah pasti tidak menguntungkan umat dan tidak membawa berkah. Buktinya banyak orang atau kelompok yang memilih jalan radikal malah menyulitkan diri sendiri. “Aliras keras itu tidak menguntungkan. Justru yang menguntungkan adalah berakhlak baik di kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara,” tutur KH Khomari, saat acara Mantingan Bersholawat, sekaligus peringatan Hari Santri di Lokasi Pembangunan Gedung Bersama NU diselenggarakan MWC NU Mantingan, Sabtu malam (20/10).

Karena itu, lanjut Khomari, umat Islam tidak harus mewaspadai gerakan radikalisme. Jangan mengikuti paham radikal. Islam melarang keras untuk memerangi umat lain, sepanjang umat islam diperangi . Sebaliknya umat Islam harus bersikap lembut, menebar kasih sayang terhadap sesama manusia. “Islam sudah tegas menolak kekufuran, tapi belas kasih sayang kepada sesama,” kata Kyai asal Kedunggalar ini di hadapan ratusan warga nahdiyin.

Kyai yang blak-blakan mengutuk keras terorisme ini mengingatkan agar umat Islam punya niat mengubah dasar-dasar negara, yakni Pancasila, apalagi sekali-sekali mengubah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). NKRI ini adalah harga mati. Didirikan oleh andil besar para kyai, para ulama, santri dan oleh umat lain.

“Sekarang nggak usah neko-neko lah. NKRI sudah diperjuangkan oleh para kyai, oleh ulama dan oleh umat Islam bahkan juga oleh seluruh rakyat Indonesia kala itu. Generasi sekarang tinggal melanjutkan,” katanya.

Indonesia yang sudah merdeka puluhan tahun ini, kata Khomari, harus disyukuri. Mensykurinya dengan melanjutkan kemerdekaan dengan perbuatan yang baik, menjaga NKRI yang merupakan kesepakatan para ulama, kyai dan umat lain. “Saiki wis merdeka nggak usah macam-macam, nggak usah neko-neko. Jangan cerai berai. Jangan mau dipecah belah oleh kelompok radikal,” katanya.

Khomari juga mengingatkan umat untuk berhati-hati terhadap arus informasi yang begitu cepat. Karena sekarang banyak informasi yang tidak benar. Banyak bermunculan berita hoak. Kalau ada berita hoax, tidak usah ditanggapi karena ujung-ujungnya berita hoax membuat resah masyarakat dan mengoyak persatuan kesatuan bangsa.

Untuk menghadapi situasi dan kondisi seperti ini, obat untuk menangkal semua itu adalah jangan menjauhi ulama, jangan meninggalkan ulama. Umat harus dekati ulama agar keberkahan Alloh SWT terus turun.

“Makna Hari Santri diantaranya yang pokok adalah untuk mengingat jasa ulama, kyai. Kalau Bung Karno mengingatkan dengan jasmerah-nya, Jangan lupakan sejarah, kalau kita punya Jas Hijau, jangan lupakan jasa ulama. Santri jangan lupakan ulama. Umat Islam jangan melupakan jasa ulama,” katanya.

Menurutnya, jika umat Islam melupakan jasa ulama atau meninggalkan ulama, maka berkah akan dicabut oleh Alloh SWT, akan muncul pemimpin dholim, bakal muncul balaq atau bencana dan lainnya. “Karena itu, bapak-bapak, ibu-ibu sedoyo monggo putra-putrinya mulai sekarang didekatkan para ulama, menghormati ulama. Di pondokan ngaji di pesantren. Agar anak –anak mendapat ilmu agama yang dari ulama untuk bekal kehidupan dunia akherat. Jangan terlalu kepingin dunia, yang diperlukan adalah pahami agama dan menjalankan ibadah,” ujarnya.

Hadir juga Ketua Tanfidziyah Pengurus Caban NU Kabupaten Ngawi KH Ahmad Ulinnuha Rozy. Kyai Ulin mengingatkan di musim politik ini agar nahdiyin berhati-hati munculnya perang informasi di media, gerakan memecah belah umat. (gik)