Agustus 2018, Jawa Timur Alami Inflasi 0,11 Persen

Surabaya, KabarGRESS.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur merilis inflasi Agustus 2018 sebesar 0,11 persen. Catatan tersebut merupakan terendah ketiga sepanjang sepuluh tahun terakhir. Sebelumnya inflasi terendah dalam sepuluh tahun terakhir terjadi pada 2017 yang mencapai -0,25 persen (inflasi negatif), disusul inflasi 2016 yang tercatat 0,05 persen (inflasi negatif).

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Jatim, Teguh Pramono, menyatakan biaya sekolah dasar, biaya sekolah menengah atas, dan biaya kontrak rumah menjadi andil terbesar inflasi bulan Agustus 2018.

“Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga menjadi kelompok yang mengalami inflasi tertinggi, yakni sebesar 2,04 persen. Jika melihat kembali pada Juli 2018 indeks harga konsumen (IHK) sebesar 128,06 persen, ada kenaikan indeks pada Agustus 2018 sebesar 128,55 persen,” ungkapnya, Senin (3/9/2018).

Lebih jauh diterangkan, seluruh sub kelompok pada kelompok ini mengalami inflasi. Sub kelompok jasa pendidikan sebesar 4,15 persen, perlengkapan/peralatan pendidikan sebesar 0,40 persen, dan kursus/pelatihan sebesar 0,34 persen.

Begitu juga dengan sub kelompok rekreasi tidak mengalami perubahan, dan sub kelompok olahraga sebesar 0,15 persen. Kelompok ini memberikan andil inflasi sebesar 0,18 persen pada Agustus 2018.

Sementara itu, komoditas deflasi tertinggi adalah telur ayam ras, bawang merah, dan cabai rawit. Kelompok bahan makanan menjadi kelompok yang mengalami deflasi tertinggi, sebesar 1,04 persen, atau terjadi penurunan indeks dari 138,29 persen pada bulan Juli 2018 menjadi 136,85 pada Agustus 2018.

Sementara sub kelompok yang mengalami inflasi tertinggi adalah ikan diawetkan sebesar 2,17 persen, dan sub kelompok dengan inflasi terendah adalah bahan makanan lainnya sebesar 0,11 persen.

Adapun sub kelompok yang mengalami deflasi tertinggi adalah bumbu-bumbuan sebesar 7,32 persen dan terendah adalah sub kelompok kacang-kacangan sebesar 0,08 persen.

Kelompok bahan makanan pada Agustus 2018 memberikan andil deflasi sebesar 0,21 persen, dengan komoditas dominan dari kelompok telur ayam ras sebesar 0,12 persen.

Termasuk bawang merah sebesar 0,05 persen, dan cabai rawit sebesar 0,03 persen. Di sisi lain, komoditas yang memberikan andil inflasi adalah kacang panjang, tongkol pindang, dan melon sebesar 0,01 persen.

Provinsi Jatim pada Agustus 2018 mengalami tingkat inflasi sebesar 0,11 persen. Dua kota Jatim yang mengalami inflasi adalah Surabaya dan Malang, yang masing-masing sebesar 0,23 persen dan 0,05 persen.

“Sampai dengan Agustus 2018, laju inflasi tahun kalender Jawa Timur telah mencapai 1,79 persen, sedangkan tingkat inflasi tahun ke tahun mencapai 2,95 persen,” pungkasnya. (ro)

Leave a Reply


*