Din Syamsudin: Keluarga, Sekolah dan Masyarakat Harus Dihadirkan Kembali Bagi Generasi Milenial

Surabaya, KabarGRESS.com – Prof. Dr. H. M. Din Syamsudin, MA, mengungkapkan Tri Sentra pendidikan yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat harus dihadirkan kembali bagi generasi era milenial. “Tujuannya agar terwujud generasi emas masa depan yang unggul intelektual dan anggun moral,” tandas Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban, Prof. Dr. H. M. Din Syamsudin, MA, di sela-sela kegiatan Pengajian Akbar bertema Membangun Generasi Millenial yang Berakhlak Mulia yang digelar SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya, Sabtu (7/4/2018).

Menghadirkan tri sentra pendidikan saat ini, lanjut Din, sangat penting mengingat perkembangan akhlak generasi muda banyak yang memprihatinkan. Derasnya arus teknologi dan informasi dapat membawa anak-anak masa kini ke arah yang buruk. “Apalagi arus teknologi membawa anak milennial yang terbuka, kritis, dan rasional cenderung membentuk watak anak cuek tidak peduli sekitar. Jadi faktor dasar atau faktor ajar yang dapat mengubah anak kita?” tanya Mantan Ketua Umum Muhammadiyah tersebut.

Menurut Din, faktor ajarlah yang mempengaruhi hidup seseorang di masa depan. Faktor dasar yang merupakan faktor awal yang dibawa dari rahim tidak berpengaruh. Tetapi faktor ajar yaitu apa yang diperoleh dalam hidup ini sejak lahir yang menentukan sukses tidaknya seseorang. “Yang mempengaruhi hidup adalah siapa orangtuanya, bagaimana mendidik anaknya, kemana dia disekolahkan, bagaimana masyarakatnya,” urainya.

Saking pentingnya faktor ajar, pengasuh Pondok Pesantren Moderen Internasional Dea Malela, Sumbawa, NTB itu menyarankan para orang tua wajib memilihkan pendidikan yang terbaik untuk putra putrinya. Namun, orang tua di rumah juga jangan pasrah bongkokan terhadap sekolah.

“Pendidikan itu harus mengalir dari orang tua, sekolah, juga masyarakat. Itu penting jangan banyak mengandalkan pada sekolah. Di rumah nya tidak diajarkan apa-apa, pendidikan rumanya minim,” ingatnya.

Din lantas menceritakan bagaimana pendidikan keluarga dan masyarakat di kampung halamannya, yakni Sumbawa yang sangat mempengaruhinya. Dikisahkan anak SD harus hatam baca al Quran dengan bagus sebelum tamat SD. “Seolah-olah dosa besar kalau tidak hatam Al Quran,” tandas Din.

Selain itu dikisahkan bagaimana orang tua dan masyarakat di kampungnya membentuk moral kawula muda. Yakni bila anak muda yang jalan atau lewat di depan orang tua maka tidak nyelonong begitu saja, tetapi membungkukkan badan sambil mengatakan tabe’. Kata tabe’ bermakna tobat atau maaf.

“Kalau anak tidak seperti itu, anak dituding sama orang tuanya adalah anak yang tidak tahu bahasa. Yaitu bahasa tubuh dan bahasa etika,” katanya.

Maka dia menyesali anak yang tak tahu sopan santun bahkan kurang ajar pada orang yang lebih tua. Dia lalu menyinggung kejadian siswa yang sampai membunuh gurunya belum lama ini.

Di penghujung tausiyahnya, Din mengingatkan pentingnya pembentukan karakter moral yang dalam bahasa Alquran adalah akhlaqul karimah. “Dan akhlaq ini tidak bisa dibentuk begitu saja. Akhlaq tidak cukup dengan ucapan. Tapi harus dengan teladan, harus uswatun hasanah,” tegasnya.

Menurut Din, pendidikan harus menekankan pada pendidikan, bukan pengajaran. Pengajaran hanya perpindahan ilmu dari otak guru ke otak murid. Dia mencontohkan kalau guru hanya mengajar sama halnya murid bisa menghafal rukun Islam ada lima, maka murid lulus ujian. Tapi esensi lima rukun Islam tak satupun dikerjakan.

“Manusia sebenarnya sudah memiliki benih asmaul husna dalam dirinya. Allah arrahman arrohim. Maka manusia punya rasa cinta. Allah aliman maka manusia punya kepandaian pula. Allah swt sebenarnya telah menghembuskan padanya dari manusia ruhNya. Maka dasarnya manusia semua adalah mulia,” pungkasnya. (+/ro)

Leave a Reply


*