20/09/2020

Jadikan yang Terdepan

Belajar ‘Gila’ dari Sang Sutradara Kreatif

Surabaya, (UKWMS-6/4/2018), KabarGRESS.com – Tahun 2018 merupakan tahun ketujuh diadakannya Komunikasi Fiesta (Komfiest) yang diadakan oleh oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Lembaga Pers Mahasiwa (LPM), Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM), Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS). Komunikasi Fiesta pada tahun ini mengangkat tema Creative Industry. Menanggapi animo masyarakat yang penuh minat akan dunia perfilman sebagai salah satu bentuk dari produk Industri Kreatif, maka Komunikasi Fiesta 2018 mempersembahkan Seminar Film “MOVe your IdEa: A Little Madness Makes Great Creativity”.

Seminar yang diselenggarakan pada hari Kamis (5/4), pukul 10.00 WIB di Auditorium Benedictus UKWMS, turut mengundang Wregas Bhanuteja sebagai pembicara dan Yogi Ishabib (Komunitas Sinema Intensif) sebagai moderator.

Wregas Bhanuteja merupakan sutradara muda film-film Indonesia yang sukses berkarya baik di dalam maupun luar negeri. Prenjak / In The Year of Monkey merupakan salah satu karya terbaiknya yang mendapat penghargaan Film Pendek Terbaik di Semaine de la Critique, Festival Film Cannes 2016. Selain itu, Wregas juga merupakan sutradara film Lemantun yang pernah ditampilkan dalam Jogja Asian-Netpac Film Festival (JAFF) 2014.

Seminar Film “MOVe your IdEa: A Little Madness Makes Great Creativity”, diawali dengan pemutaran kedua film karya Wregas yang berjudul Lemantun dan Prenjak secara berurutan.

Terinspirasi dari kisah nyata yang terjadi dalam keluarga Wregas sendiri; Lemantun berkisah tentang apa yang terjadi saat seorang Ibu mewariskan lima buah lemari kayu tua kepada masing-masing dari kelima anaknya. Cerita bergulir dengan ringan dan sederhana namun kaya makna dan nilai. Ada beberapa aspek kultural yang disinggung, satu yang menonjol adalah soal pandangan anggota keluarga ke saudara yang sudah dewasa namun tak punya pekerjaan bergengsi dan masih tinggal bersama orangtua.

Hal itu tergambar secara apik melalui penokohan anak ke-tiga yaitu Tri yang kebingungan di mana harus meletakkan lemari warisan tersebut saat sang Ibu meminta saudara-saudaranya yang lain untuk segera membawa pulang lemari itu ke rumah mereka masing-masing.

Dalam kebingungannya, selagi menunggu Ibunya mandi, Tri pun masuk ke dalam lemari serta meringkuk seperti bayi di dalam rahim. Melalui adegan yang mengenyuhkan hati tersebut, penonton pun diajak untuk memahami filosofi lemari yang sekaligus menggambarkan rahim seorang Ibu dan kerinduan seseorang akan rasa aman yang didapatkan semasa masih di dalam kandungan.

Film Prenjak yang diputar selanjutnya, membuat penonton terkaget-kaget akan fenomena yang diusung. Kisahnya bertumpu pada Diah (Rosa Winenggar) seorang perempuan di sebuah desa, yang dalam putus asa, menawarkan kepada Jarwo (Yohanes Budyambara), korek api seharga Rp.10.000 per batang, untuk dinyalakan agar dapat digunakan mengintip kelaminnya dari bawah meja. Melalui dialog-dialog sederhana serta umum yang diucapkan oleh para pemainnya dengan alami, terkuaklah lapis demi lapis aspek kehidupan Diah yang menjadi latar belakang tindakannya.

Prenjak berhasil memenangkan Le Prix Découverte Leica Cine untuk film pendek terbaik yang dipilih dari 10 film yang diputar dalam kompetisi. Ke 10 finalis itu disaring dari 1500 film pendek yang dikirim ke panitia festival. La Semaine de La Critique sendiri adalah salah satu festival independen bergengsi yang diselenggarakan berbarengan dengan Festival Cannes setiap bulan Mei.

Usai pemutaran film, Wregas juga membagikan pengalamannya berkarya dalam dunia perfilman kepada peserta seminar. “Bagi saya dalam membuat film itu yang terpenting adalah cerita. Saya sengaja memilih tema-tema sederhana yang familiar dalam kehidupan di sekitar saya karena dengan begitu film yang dibuat akan terlihat alami, tidak dibuat-buat dan tidak memaksakan,” ungkap Wregas.

Ia juga menambahkan, dalam membuat film pendek seringkali produser terbentur dengan bebagai keterbatasan terutama biaya serta hal-hal di luar kontrol lainnya. Namun jika mau berusaha, batas-batas itu justru bisa dilihat sebagai pendorong agar menjadi lebih kreatif. Hal itulah yang terjadi di balik pembuatan film karya Wregas lainnya yakni Lembusura yang dibuat dengan rekaman-rekaman yang spontan diambilnya saat terjadi hujan abu akibat letusan Gunung Merapi.

“Orang lain mungkin hanya melihatnya sebagai bencana, tapi yang namanya bencana itu bagian dari jalan hidup yang harus dilalui dan kita bisa menyambutnya dengan ceria, karena sehabis bencana itu tanah kita subur,” ujar Wregas tentang pesan di balik film Lembusura.

“Kita sering bertanya-tanya tentang bagaimana cara menuangkan ide yang out of the box ke dalam sebuah karya film yang luar biasa. Namun pembicaraan dengan mas Wregas ini malah membuat kita terkaget-kaget, karena begitu sederhananya hal-hal yang melatarbelakangi karya-karyanya yang luar biasa. Mulai dari kamera pinjaman, hingga duit yang terbatas ternyata kalau mau dimanfaatkan malah bisa bikin film yang menang penghargaan,” tandas Yogi Ishabib.

Selanjutnya Yogi juga memaparkan pesan bagi penggiat industri kreatif yang hadir sebagai peserta; tentang pentingnya melihat film sebagai suatu keseluruhan karya dan tidak hanya terpaku pada objek-objek tertentu saja.

“Sebagai sineas, menjadi tugas kita untuk menerjemahkan suatu pesan yang berlapis serta mengungkit fenomena permasalahan yang ada di masyarakat melalui suatu media yang terbatas,” pungkas Yogi di penghujung diskusi. Acara pun ditutup dengan pemberian cendera mata dan foto bersama antara Wregas dan seluruh peserta seminar. (ro)