30/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Perkuat Wawasan Kebangsaan

· Refleksi HUT RI: Doa Mustajab Bung Karno-Fatmawati

Oleh: Sugiharto, Dosen STIT Islamiyah KP Paron-Ngawi

Kata orang, mimpi adalah kembangnya wong turu.. Bagi Bung Karno mimpi bukan sekedar kembangnya orang tidur, namun justru mimpi bisa jadi petunjuk kehidupan. Tengah malam Bung Karno bermimpi. Mimpi itu akhirnya membuat Presiden Republik Indonesia (RI) terjaga dari lelapnya. Bung Karno menyampaikan kerisauannya hal ihwal mimpinya kepada Fatmawati, sang istri. .”Setelah akoe istirahat sejak poekoel 10.00 hingga bangoen dari lelapkoe poekoel 11.20 tadi, akoe melihat cahaya dalam mimpikoe dan gemoelai rakyat berbondong-bondong, membawa sepoecoek pesan soerat kepadakoe, laloe mereka berkata “Dokoeritsoe shimashita / merdeka”.

Tidak banyak tamya perihal runtutan mimpi, Fatmawati mengajak Bung Karno sholat istikharah, “Ayah… besok pagi tahrim, ayah.. bertemoe banyak tamoe. Oentoek mengerti isi mimpi, kita haroes sholat istikharoh bersama, goesti Allah pasti memberi jawaban’, tutur Fatmawati kepada Bung Karno dengan lembut Sesaat kemudian, Bung Karno dan Fatmawati bersegera diri mengambil air wudhu. Mereka berdua melaksanakan sholat Istikharoh.

Menurut penuturan Fatmawati, saat itu Bung Karno menadahkan tanggannya ke atas langit dan berdoa ; “Ya Allah, Toehan maha kasih, Engkaoe akan merahmati bangsa ini, bangsa yang akan berdiri diatas riboean sajak rakyat dan joetaan boedaya bernaoeng dibawahnya. Ya Allah,,,, restoeilah bangsa ini oentoek merdeka. Berilah kekoeatan padakoe, keluargakoe dan persatoekanlah rakjat dalam mengobarkan oesiran-oesiran pendjadjah”. Fatmawati terus mengamini doanya. Betapa batin sepasang suami-istru itu menangis sejadi-jadinya saat berdoa bersama di tengah malam itu.

Itulah sepenggal perjalanan Bung Karno-Fatmawati, yang ceritanya juga tersebar di situs-situs di internet.. Betapa romantisnya dan religiusnya Bung Karno-Fatmawati. Bukan cuma sebagai suami-istri, tetapi romantisme-religius dalam membahas nasib dari sesama bangsanya yang tertindas. Betapa mustajabnya doa Bung Karno, karena jadi kenyataan bangsa Indonesia bisa merdeka.

Usai berdoa, Bung Karno dan Fatmawati beristirahat. Keduanya sempat pula terjadi percakapan yang romantis namun penuh harapan akan nasionalisme dan kemerdekaan. Bermula mengungkapkan tenang kesukaan warna hingga akhirnya muncul gagasan warna bendera merah putih apabila Indonesia menjadi negara merdeka dan berdaulat. Betapa mengharukan dari romantisme suami istri itulah bendera merah putih berkibar saat pernyataan Proklamasi 17 Agustus 1945. Bendera merah putih itu bahan kain yang disimpan Fatmawati di almari. Dari tangan Fatmawati,lah bendera merah putih itu dijahit.

Dari kisah itu, masih ragukah generasi sekarang terhadap proses kemerdekaan bernuansa kasih sayang dan religius yang luar biasa dari sepasang suami istri? Mulai lunturkah nasionalisme generasi sekarang?

Nah, kalau tidak ingin dituding tidak nasionalis, anti NKRI, aanti Pancasila, maka sikap dan tindakannya harus mencerminkan jiwa nasionalis. Mulai hal yang dianggap sederhana hingga sikap-perbuatan yang dianggap rumit. Untuk itu perlu memperkokoh nasionalisme dan jiwa Pancasila. Apa itu?

Pertama, pasang bendera merah putih di rumah saat hari kemerdekaan RI maupun hari nasional lain. Pasang bendera jangan ditawar-tawari lagi. Jangan dirames-rames dengan berbagai alasan. Bendera adalah sumbol eksistensi negara.

Kedua, bermuhasabah (introspeksi diri). Mawas diri karena 72 tahun menikmati keberkahan merdeka dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Jangan merasa belum merdeka, hingga memaksakan ideologi selain Pancasila, bahkan berniat mendirikan negara baru. Dengan instrospeksi bakal memperkuat rasa kebangsaan pada negeri sendiri.

Sosok Bung Karno-Fatmawati bisa jadi contoh bahwa romantisme-religius dari ‘rumah’ jadi dasar kuat membangun nasionalisme. Nasib negara di sejumlah negara timur tengah bisa menjadi pembelajaran. Suriah, Libya, Irak berantakan karena isu\ agama, permusuhan antar warga sendiri. Dulu negara-negar itu seperti situasi di Indonesia sekarang. Masyarakatnya guyub rukun Tapi siapa yang menduga, kehidupan masyarakat negara-negara itu sudah berubah. Ttdak ada ketentraman, saling bermusuhan, dihantui perang dan kematian

Ketiga, nilai juang para founding father menjadi spirit untuk mewujudkan harapan dan cita-cita bangsa. Menjaga apa yang sudah ada dan apa yang diajarkan oleh para pendahulu. Saling asah- saling asuh, welas asih antar sesama tanpa pandang siapapun, tidak mengkotak-kotakan diri menjadi kelompok-kelompok. Mensyukuri kemerdekaan NKRI dan hidup damai adalah wujud rasa terima kasih kepada pada pejuang kemerdekaan.

Keempat, memiliki komitmen kuat untuk mewujudkan cita-cita luhur bangsa, dan berkomitmen terhadap wawasan kebangsaan dengan 4 pilar (Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika). Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara berlandaskan ideologi Pancasila dengan menjalankan kewajiban agama, kesadaran membantu sesama, memelihara persatuan dan kesatuan, mengedepankan musyawarah untuk mufakat, mewujudkan keadilan sosial.

Kelima, agama tidak mengajarkan kebencian terhadap mereka yang berbeda agama maupun berbeda paham. Agama mengajarkan kasih sayang kepada siapapun .Karena ittu perlunya membangun persaudaraan, kerukunan, toleransi antar umat beragama maupun toleransi sesama umat beragama. Kerukunan antarumat beragama perlu “dimanajemeni’ atas kesadaran bersama untuk mencegah munculnya sikap intoleransi. (*)