Lomba Ketik Naskah Proklamasi Gunakan Mesin Ketik Manual

Event 17-an unik ala SMP Muhammadiyah 5 Surabaya

Surabaya, KabarGRESS.com – Siswa SMP Muhammadiyah 5 Surabaya dan para remaja lainnya termasuk “Generasi Gadget”, yang kehidupannya tidak lepas dari penggunaan piranti teknologi. Remaja saat ini sangat fasih mengoperasikan layar sentuh pada smartphone dan tabletnya, juga mahir memainkan jarinya pada keybord laptop dan komputer. Tapi bisakah mereka menggunakan mesin ketik manual?

Guna mengukur sejauh mana remaja kita tahu dan bisa menggunakan mesin ketik manual, SMP Muhammadiyah 5 Surabaya (Spemma) mengadakan lomba mengetik naskah Proklamasi mirip dengan aslinya. Seperti kita ketahui bersama bahwa nahkah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945 diketik menggunakan mesin ketik manual, yang merupakan piranti teknologi yang ada saat itu.

Susetyowati, Guru PKN, selaku panitia lomba, mengungkapkan kegiatan ini untuk mengenang kembali perjuangan jaman dulu yang penuh pengorbanan berkali-kali. “Sekarang kan era gadget jangan sampai melupakan sejarah. Boleh memanfaatkan gadget tapi batasi waktunya,” tandasnya, di sela-sela acara lomba, Selasa (15/8/2017).

Melalui lomba ini diharapkan siswa dapat menghayati betapa perumusan dan pengetikan naskah proklamasi tidak semudah teknologi saat ini. Dulunya naskah proklamasi harus diketik manual kemudian diperbanyak menggunakan kertas sid atau diketik lagi berkali-kali, lalu naskah proklamasi kemerdekaan RI tersebut disebarluaskan ke seluruh wilayah Indonesia menginformasikan jika bangsa Indonesia telah merdeka dari penjajahan bangsa asing.

Lomba di atas adalah bagian dari rangkaian kegiatan sekolah dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-72. Lomba ini terkesan sangat unik dan kreatif yang berusaha mendekatkan siswa pada situasi asli bagaimana proses kemerdekaan itu diperoleh. Termasuk proses perumusan dan pengetikan naskah proklamasi yang dilakukan oleh Sayuti Melik, yang dikoreksi soekamo dan didampingi oleh BM Diah (wartawan senior).

Alivia Rizqotul A, Kelas IXC, mengatakan baru pertama kalinya mengetik dengan mesin ketik manual. “Susah dan alot ngetiknya. Saya jadi terbayang bagaimana susahnya meraih kemerdekaan ini. Banyak proses yang harus dilalui, bagaimana bikin konsepnya, siapa yang bisa mengetiknya dan lain sebagainya,” tuturnya. (ro)

Leave a Reply


*