DONGKRAK PRODUKSI PADI, HKTI KEMBANGKAN VARIETAS M400 DAN HOLTIKULTURA

Tulungagung, , KabarGress.com – ” Untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi petani di Trenggalek HKTI Jatim siap kembangkan benih M- Tani / M400 dan Holtikultura,” aku Wakil Ketua DPP HKTI Provinsi Jatim, Eko Puguh lewat Whats -Apnya, Sabtu malam Minggu  ( 18/6/2017).

Guna maksimalisasi program penguatan HKTI Jatim untuk pengembangan produksi padi dengan benih M400 dan M70D, serta Holtikultura dikabupaten Trenggalek ,Tulungagung, dan Ponorogo, Ketua Umum DPN HKTI Jendral TNI ( Pur) DR. H. Moeldoko, berencana berkunjung ke Trenggalek.

” Jendral Moeldoko , rencananya Jumat tanggal 23  depan memang kita ajak turun ke Trenggalek bertemu dengan pemangku wilayah ,tokoh masyarakat dan Gapoktan ,” kata Eko Puguh.

Dalam rangka menjamin kelancaran proses kunjungan Moeldoko di Trenggalek Eko Puguh gelar Rapat Koordinasi dengan Kepala Dinas Pertanian Trenggalek, dan Protokol , ” terkait rencana kedatangan Jendral (Pur) Moeldoko di Trenggalek, Jumat 23 Juni 2017. Di kediaman Kadistan. Kab.Trenggalek. Sabtu 17 Juni 2017. Dari jam 21:00 sampai jam 23:30 WIB ,” imbuh Eko Puguh.

Menurut Eko Puguh di Trenggalek dari 126 rb hektar lahan, 2/3 wilayahnya pegunungan, sehingga 1/3 lahan yang datar digunakan 12.300 hektar untuk sawah basah sedangkan sisanya untuk pembangunan fisik permukiman dan infrastruktur serta lainya.

Sementara dari 2/3 hektar lahan, 62 rb hektar adalah hutan negara yang dikelola Perhutani. Dari sisanya yang merupakan lahan rakyat dengan topografi pegunungan, 18 rb hektar digunakan untuk pertanian non sawah termasuk komoditas kakao, cengkeh, kelapa, cassava, dll.

Kunci bagi Trenggalek kata Eko Puguh adalah meningkatkan produktivitas lahan pertanian yang terbatas tersebut dengan pengembangan varietas M400 , M70D serta Holtikultura.  Erat kaitannya dengan program penguatan Pertanian tersebut Eko Puguh mengaku telah lakukan koordinasi dengan Bupati Trenggalek DR. Emil Dardag, dan Bupati Ponorogo , beserta Satuan Kerja Pemerintah Daerah ( SKPD).

Untuk pengembangan  M400 ,M70D dan holtikultura dikabupaten Ponorogo  mendapat support penuh  Bupati dan telah deal antara Gapoktan ( Ponorogo) dengan HKTI (M-TANI) 100 Hektar.

Sebelumnya HKTI malah dapat dukungan Ketua PCNU Trenggalek KH . Fatchullah Sholeh ( Gus Loh) Pemangku Pondok Pesantren Bumi Hidayah At – Taqwa, Desa Kedunglurah. ” Gus Loh, memfasilitasi pertemuan serap aspirasi HKTI dengan puluhan perwakilan Gapoktan  Pondok Pesantren Trenggalek ,” aku Eko.

Proses koordinasi menurut Eko Puguh terus dibangun. ”  Bagi petani atau kelompok tani yang tergabung dalam gapoktan dipersilahkan untuk mengajukan pinjaman modal berupa benih padi unggul varietas M400 ke Dewan Pengurus Nasional HKTI ,” ujar Eko lagi.

Pengajuan pinjaman modal benih padi tetap akan dilayani dan ditindaklanjuti HKTI secara cepat meski struktur HKTI Trenggalek masih tahap pembentukan dan sinergitas program dengan Pemda Trenggalek sedang berproses.

“Bulan ini juga, sebelum Lebaran kami akan memproses pengiriman benih untuk pinjaman modal petani di sejumlah daerah di eks-Karesidenan Kediri dan Mataraman, seperti Tulungagung, Blitar, Kediri, dan Pacitan. Trenggalek kami harap juga bisa kami tindaklanjuti sekalian setelah ada pengajuan resmi dari Gapoktan yang diketahui Dinas Pertanian Trenggalek, ditujukan ke Ketua Umum DPN HKTI Jenderal (Purn) Moeldoko,” kata Eko Puguh.

Tak hanya siap menyalurkan pinjaman modal benih padi unggul yang dijanjikan memiliki masa tanam lebih pendek, hasil dua kali lipat lebih banyak dan jaminan pembelian gabah pascapanen oleh HKTI, Eko memastikan pengiriman benih sudah sekaligus pemenuhan kebutuhan pupuk dan saprodi (sarana produksi padi) yang dibutuhkan selama pengembangan vaietas M400 di Trenggalek.

Kesimpulan yang disepakati forum petani dalam pertemuan itu, mengacu testimoni lima petani yang ditanya langsung oleh Eko Puguh, diketahui rata-rata biaya modal benih-pupuk untuk padi varietas umum per hektare rata-rata 5 ton dengan purna jual gabah kering sawah kisaran Rp4,2 ribu per kilogram.

“Biaya modal rata-rata petani jika lahan cengkal 100 (100 meter persegi) mencapai Rp1,5 juta. Ini dikali 7 untuk mendapat luasan satu hektare sehingga total biaya produksi benih-pupuk dan saprodi sekitar Rp10,5 juta. Tadi hasil penjualan gabah pascapanen disampaikan petani sekitar Rp20 juta sehingga penghasilan bersih petani adalah Rp9,5 juta per hektare,” ujarnya.

Dengan asumsi masa tanam empat bulan, lanjut Eko, maka rata-rata pendapatan petani per bulan adalah sekitar Rp2,3 juta per hektare, atau rata-rata Rp330 ribu per lahan sawah dengan luasan 100 meter persegi.

“Benih padi unggul HKTI yang varietas M400 ini selain dipinjami penuh dengan skema pembayaran pscapanen, volume hasil panen rata-rata mencapai sembilan ton per hektre. Satu malai padi menghasilkan 400 butir padi, dengan durasi masa tanam 90 hari sudah panen, lebih pendek dibanding padi varietas biasa seperti serang, IR64 dan sebagainya.

Lebih penting lagi, lanjut Eko, HKTI memberikan jaminan pembelian gabah pascapanen dengan harga 10 persen di atas harga pembelian (HPP) yang ditetapkan pemerintah.

Dengan HPP gabah saat ini Rp3,7 ribu per kilogram, misalnya, HKTI menawarkan standar harga pembelian gabah varietas M400 seharga Rp4,1 ribu. Dengan standar harga itu dan dengam asumsi minimal hasil panen per hektare rata-rata 8 ton, total pembelian hasil panen petani bisa mencapai Rp32,8 juta per hektare sementara biaya produksi benih dan pupuk diklaim Eko hanya sekitar Rp6,7 juta sehingga hasil bersih petani diperkirakan mencapai sekitar Rp26,1 juta per hektare.

“Kata kuncinya ‘jaminan pembelian’. Jadi berapapun HPP yang ditetapkan pemerintah, HKTI siap membeli 10 persen di atasnya. Dan kerjasama pengembangan padi unggul ini akan kita ikat dalam kontrak antara HKTI, gapoktan dan sepengetahuan dinas pertanian daerah,” tegas dia. (hery)

Leave a Reply


*