Sanitasi Buruk Banyak Terjadi di Negara Berkembang

Malang, KabarGRESS.com – Masalah sanitasi buruk akibat keterbatasan jamban sehat, banyak terjadi di negara berkembang. “Padahal ada lembaga-lembaga keuangan yang siap mensupport warga yang kesulitan pendanaan untuk pengadaan jamban bermartabat,” ungkap Indonesia Country Director water.org, Gusril Bahar Abdullah, di sela-sela acara Sarasehan Water.org dan Media: Peran Media untuk Akses Air Bersih Layak Minum dan Sanitasi Yang Aman di Jawa Timur, di Hotel Savana, Malang, Senin (24/4/2017).

Menurut Gusril, Water.org yang merupakan organisasi non goverment yang bergerak di bidang sanitasi itu kini ikut berjuang membantu meningkatkan jumlah kepemilikan jamban bermartabat. Program Water.org adalah lembaga non-profit yang fokus pada program tentang penyediaan akses air bersih dan sanitasi layak, (WASH Program) bagi masyarakat kurang mampu.

Water.org telah memulai program ini di beberapa negara, termasuk di antaranya di Indonesia. Program ini tidak hanya memastikan ketersediaan akses namun juga memastikan pihak-pihak pengelola mampu meningkatkan pelayanannya dengan lebih sensitive terhadap pihak-pihak yang membutuhkannya. Beberapa pendekatan kemudian ditawarkan oleh Water,org antara lain dengan memberikan peningkatan kapasitas kepada pengelola, dan penyedia air dan sanitasi, mengenalkan skema alternative pembiayaan keuangan mikro (micro finance) untuk air, sanitasi dan pengelolaan air minumm, serta sanitasi berbasis masyarakat.

“Kami berharap akan semakin banyak institusi terutama lembaga keuangan yang ikut tertarik menggarap sektor ini. Beruntung di Indonesia saat ini sudah ada 11 lembaga keuangan mikro yang siap membantu memberikan kredit pengadaan jamban. Peran mereka sangat penting, karena warga tak bisa terlalu mengandalkan dana dari APBN atau APBD yang pemahaman para birokratnya relatif tidak sama,” terangnya.

Pemberian fasilitas jamban gratis, lanjutnya, sangat tidak mendidik mengingat masyarakat tidak akan punya rasa memiliki. “Dana itu akan lebih efektif bila diberikan sebagai stimulan (rangsangan) agar masyarakat ikut termotivasi untuk memiliki jamban sendiri,” ujarnya.

Di kesempatan sama, Kasi Kualitas Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olahraga Dinas Kesehatan Jatim, Edy Basuki, mengungkapkan masyarakat wilayah tapal kuda Jatim mendominasi jumlah penduduk yang paling banyak buang air besar (BAB) sembarangan. “Selain BAB di sungai, banyak diantara mereka yang buang air besar di jurang dan jalur rel kereta api,” katanya.

Edy menambahkan, sampai saat ini banyak aliran sungai yang tercemar virus dan bakteri penyebab penyakit Diare, Polio, Hepatitis, Cacingan bahkan berakibat kematian yang ditularkan lewat kotoran manusia. “Sungai di tempat kami banyak yang tercemar kotoran manusia, karena masih 16 persen lebih dari 39 jutaan penduduk Jatim, yang belum memiliki jamban,” terangnya.

Sejumlah daerah di tapal kuda Jatim yang belum memiliki jamban itu terbanyak di Bondowoso, Situbondo dan Probolinggo. Selain akibat rendahnya kesadaran pemerintah daerah setempat, pihaknya juga menilai masyarakat masih belum memahami bahaya lingkungan akibat BAB sembarangan.

Berdasarkan data yang dimilikinya, mayoritas penyakit yang muncul di suatu daerah, sebagian besar diakibatkan oleh buruknya sanitasi lingkungan dan perilaku masyarakat. “Di wilayah kami bahkan pernah ada dua desa yang warganya terpaksa dikarantina, karena warganya banyak yang menderita Hepatitis,” tuturnya.

Ironisnya, sebagian besar kepala daerah cenderung lebih suka mengadakan proyek pengadaan alat-alat kesehatan moderen dan obat-obatan, untuk mengatasi masalah kesehatan. Sebaliknya, soal buruknya perilaku masyarakat dan masalah sanitasi yang menjadi inti masalah, justru cenderung diabaikan.

Dinkes sendiri berupaya meningkatkan kesadaran pentingnya sanitasi lingkungan kepada kepala daerah, melalui istri bupati yang bersangkutan. “Faktanya, usulan kami justru banyak yang bisa diterima kalau kita sampaikan lewat istri para kepala daerah. Perilaku masyarakat dan perbaikan lingkungan harus dibenahi secara beriringan,” pungkasnya.

Ibu Yuni, Sanitarian Puskesmas Leces Kabupaten Probolinggo, dengan semangat menyampaikan perilaku masyarakat harus dirubah. Dari yang biasanya BAB sembarangan ke BAB pada jamban sehat. “Tidak hanya melakukan sosialisasi pentingnya memiliki jamban sehat dan menghindari perilaku BAB sembarangan saja, kami juga siap membantu masyarakat yang belum memiliki jamban sehat dengan biaya terjangkau,” tukasnya. (ro)

Leave a Reply


*