EDI KUAS, GANDENG PARTAI HANURA BUKA PEKAN SENI BUDAYA DISIDOARJO

Sidoarjo,KabarGress.com –  Seni dan Kebudayaan dikabupaten Sidoarjo boleh dibilang miskin aktifitas atau ektrimnya matisuri. Sehingga perkembangan seni dan kebudayaan di Sidoarjo, dalam kondisi stagnan , mandek grek. Ini terjadi lantaran minimnya atensi pemerintah kabupaten (Pemkab) selaku pemangku wilayah.

Lemahnya perhatian pemkab terhadap tumbuhkembangnya seni budaya dikabupaten Sidoarjo, memaksa Edi Kuas ( Edi Santoso) pegiat seni dan perupa ini angkat bicara.

Menurut Cak Edi, pemerintah kabupaten Sidoarjo kurang peduli terhadap seniman. Padahal, kalau perhatian pemerintah itu nyata senia budaya dipastikan akan terus berkembang, yang tentunya bisa mengangkat potensi Kabupaten Sidoarjo, dimata masyarakat luas. “ Namun itu menurut hemat saya belum pernah dilakukan oleh pemkab,”aku Cak Edi.

Situs –situs peninggalan sejarah yang cukup banyak dikabupaten Sidoarjo belum bisa diekplore secara lebih luas ke publik. Alhasil, masyarakat pun tidak mengetahui kekayaan sejarah yang ada didaerahnya. Ini menurut Cak Edi, sebuah ironi. Cak Edi pun bersama komunitas seni independent yang dibentuknya berjuang sendirian untuk memperkenalkan situs kebudayaan kepada masyarakat Sidoarjo.

“ Mestinya, untuk mengenalkan situs kebudayaan pemkab mendukung kegiatan yang berkaitan dengan senibudaya diwilayahnya. Tapi kenyataannya, seniman dalam melaksanakan kegiatannya secara swadaya tanpa dukungan dari Pemkab Sidoarjo. Misalkan pada saat event di Candi Dermo, Kecamatan Wonoayu ,” imbuh Cak Edi.

Pelukis berambut gondrong ini mengaku prihatin ketika dia menggelar event situs dan kebudayaan. Dimana  masyarakat yang berkunjung kala itu sebagaian besar justru tidak mengerti adanya Candi Dermo, diwilayah Kecamatan Wonoayu. “  Masyarakat  sekitar Kecamatan Wonoayu, bahkan warga Wonoayu sendiri tidak tahu letak candi Dermo di wilayah mereka.

“Event itu kami laksanakan secara swadaya bersama teman-teman seniman dari Sidoarjo , Mojokerto, serta dari daerah lainnya. Tujuannya untuk mengenalkan Candi Dermo yang tak banyak dikenal warga Sidoarjo,” jelasnya. Terkait kondisi ini Wakil Ketua Bidang Kesenian dan Kebudayaan DPC Hanura Sidoarjo ini akan merangkul seniman-seniman lain untuk membuat event pengenalan situs kekayaan sejarah yang dimiliki masyarakat kabupaten Sidoarjo .

“Kami akan buat Pekan Seni yang melibatnya banyak orang selama seminggu. Itu yang cocok tempatnya di Indoor Gelanggang Olahraga (GOR),” terangnya. Mengenai konsep dan anggarannya, dia akan menggandeng Partai Hanura, yang lebih peduli terhadap keberadaan seniman di Sidoarjo.“ Partai Hanura yang bisa back up event itu, bukan Pemkab Sidoarjo. Karena Pemkab miskin ide, dan sulit untuk bisa bekerjasama. Tinggal kita merangkul teman-teman seniman. Meski yang mengadakan Partai Hanura, tapi kami tidak akan menarik mereka masuk ke partai. Tapi kalau ada yang tertarik masuk, kami lebih senang untuk bersama-sama membangun kesenian di Sidoarjo,” ungkap Cak Edi .

Untuk kedepannya , Cak Edi berharap ada keterwakilan dari Partai Hanura menjadi anggota DPRD Sidoarjo. Paling tidak, dari keterwakilan itu bisa memfungsikan dewan kesenian. “ Sebab diakui atau tidak mayoritas  anggota dewan yang ada saat ini belum peduli dengan tumbuh kembangnya seni budaya di Kota Udang ini ,” katanya.

Ketua DPC Partai Hanura Kabupaten Sidoarjo, H Dondik Agung Subroto ( Abadont) saat dimintai tanggapannya terkait minimnya pengetahuan masyarakat terhadap seni budaya di Kabupaten Sidoarjo , mengaku siap mendukung serta berkomitmen untuk memperkenalkan seni dan budaya kepada masyarakat di Sidoarjo.

Menurut Abadont seni budaya merupakan ujung tombak dari suatu daerah dan tidak bisa dihapus begitu saja. “Kesenian dan kebudayaan adalah satu kesatuan yang harus dikembangkan dan dilestarikan. Karena itu mewakili sejarah di zamannya, yang bisa diperkenalkan sampai saat ini. Yang pasti, Hanura sudah berkolaborasi dengan elemen masyarakat, termasuk dengan seniman,” jelas politikus Partai Hanura ini menegaskan. (hery)

 

Leave a Reply


*