30/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Produk Unggulan Jatim Harus Berkualitas dan Diterima Masyarakat Umum

Surabaya, KabarGRESS.com – Dalam rangka memperkuat jaringan pasar dalam negeri dalam menghadapi persaingan produk di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), produk unggulan Jawa Timur diharapkan tidak hanya berkualitas tetapi juga bisa diterima oleh masyarakat umum. PT. Amara Satu Raya (ONE EVENT) menggelar pameran Gelar Produk Unggulan Jawa Timur 2017, di City of Tomorrow (Cito) Mall, Jl Ahmad Yani No. 288, Surabaya, pada 15 – 19 Maret 2017.

Gelar Produk Unggulan Jawa Timur 2017 yang dilaksanakan di Pusat Perbelanjaan Modern (Mall) adalah sebagai kegiatan promosi yang dapat menampilkan potensi produk-produk UMKM Jawa Timur sekaligus menaikkan strata pasar bagi UMKM lokal menuju strata pasar yang lebih kongkrit yaitu Pusat Perbelanjaan Modern (Modern Trade Market).

Gelar Produk Unggulan Jawa Timur 2017 ini diikuti 35 stand yang terdiri dari UMKM unggulan dari 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jatim, I Made Sukartha, mengungkapkan konsep pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui Business Development Center atau sentra pengembangan kewirausahaan yang dilakukan Dinas Koperasi dan UMKM Jatim, menjadi percontohan nasional.

“Dulu namanya Klinik UKM, sekarang diganti Business Development Center. Inovasi ini menjadi model percontohan nasional untuk pemberdayaan koperasi dan UMKM,” I Made Sukartha, di sela-sela Opening Ceremony Gelar Produk Unggulan Jawa Timur 2017, Rabu (15/3/2017).

Dikatakannya, inovasi ini dibuat agar koperasi dan UMKM punya daya saing karena di sentra ini, menerapkan konsep yang jelas mulai dari membina prodiuksi, biaya, dan pasarnya. “Konsep ini sudah mendapatkan penghargaan saat inovasi pelayanan publik,” katanya.

Menurutnya, Jatim punya keunggulan diproduk fashion atau busana, kerajinan, serta makanan dan minuman. Industri fashion seperti batik, lanjut Made, tidak hanya memproduksi barang seperti baju, gaun, atau celana saja, tapi berkembang menjadi bahan kerajinan tas, hiasan, dan souvenir.

Sedangkan untuk makanan dan minuman, produk UMKM Jatim mampu menembus pasar mancanegara. ”Produk kopi dari UMKM di pondok pesantren kita, sampai melayani pesanan dari Melbourne Australia, ini menandakan jika produk Jatim disukai,” imbuhnya.

Sampai saat ini kata Made, pelaku UMKM Jatim terbesar di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2012 tercatat, Jumlah UMKM Jatim mencapai 6,8 juta berkembang dari tahun 2008 yang angkanya hanya 4,2 juta UMKM. “Kami masih menunggu data sensus ekonomi dari BPS tahun 2016, kemungkinan tumbuhnya sekitar 20%. Untuk menghitung jumlahnya kami masih pakai data BPS tahun 2012,” ungkapnya.

Dari 6,8 juta atau jumlah seluruh UMKM di Jatim, jenis usaha mikro (modal dan aset hanya sekitar Rp50 juta red) jumlahnya mencapai 95% atau sekitar 6,5 juta, jenis usaha kecil hanya 4,7% atau 261 ribu pengusaha, sedangkan usaha menengah hanya 30 ribu mengusaha.

“Dari jumlah tersebut yang menjadi tanggungjawab pemerintah provinsi, sesuai UU 23/2014, tentang Pemerintahan Daerah, jumlahnya sebanyak 291 ribu usaha kecil dan menengah sedangkan usaha mikro adalah tanggungjawab pemerintah kabupaten/kota. ”Sampai saat ini Jatim secara jumlah dan pengembangan koperasi dan UMKM lebih unggul dari provinsi lain,” tuturnya.

Tentang UMKM yang sudah menjalankan bisnisnya dengan e-commerce atau pemasaran barang  melalui sistem elektronik dibeberapa situs belanja, Pemprov kedepan akan mengkoordinirnya sehingga produsen semakin berkembang dan maju. “Kami akan mendata UMKM mana saja yang sudah memasarkan produknya melalu internet dan membantu UMKM yang belum mengerti teknologi, sehingga bisa menjual produknya secara online,” jelasnya. (ro)