31/01/2021

Jadikan yang Terdepan

‘Salam’ NKRI dan Waspadai ‘Racun’ Komunis

Oleh: Sugiharto, Dosen STIT Islamiyah Karya Pembangunan – Paron Ngawi

Penyakit selalu menyebar ke seluruh tubuh seiring dengan aliran darah. Menggerogoti sel-sel, sendi-sendi, tulang belulang, organ-organ vital (jantung, paru-paru, ginjal, lambung, hati dan lainnya). Mencegah tidak mewabah. Jangan sampai terjadi ‘amputasi’ di antara bagian tubuh. Jangan sampai penyakit jadi akut total. Akut total berarti tidak ada lagi harapan hidup. Kecuali ada keajaiban. Itulah seorang dokter yang mengungkapkan kepada saya. Dia ingin menggambar persoalan yang sedang ‘melilit’ bangsa Indonesia, dengan kaca mata keilmuannya.

Ibaratnya, masyarakat, politisi , para pelaku pengatur kehidupan berbangsa dan bernegara belum mampu ‘mendiagnosis penyakit’ apa yang muncul saat ini. Bisa saja sudah ‘mendiagnosis’ , tetapi mereka bingung tindakan apa yang harus dilakukan. Bahkan bisa jadi tidak melakukan tindakan apa-apa. Atau Sudah melakukan tindakan , tetapi tidak cermat dalam menyusun rencana tindakan. Atau bisa jadi juga, mereka bingung menghadapi reaksi dari berbagai pihak yang sudah terlanjur ikut campur memberikan saran-saran ‘pengobatan’. Celakanya, saran itu cenderung berpihak pada kepentingan sendiri, kepentingan kelompok, kepentingan partai politiknya, kepentingan kekuasaan, kepentingan pemilik modal. Ada banyak yang emosional. Ada yang mengumpat-umpat.

Seolah-olah ada yang merasa telah banyak melakukan darma bakti , berbuat banyak, merasa bekerja sungguh demi orang banyak . Padahal mereka lebih suka berbicara. Paling banyak berdebat, dan sedikit bekerja, suka berslogan-slogan bekerja. Malahan ada yang hanya mengerjakan sesuatu yang kurang penting dan tidak penting. Padahal saat ini, kekuatan asing terus menggempur dari berbagai lini . Ancaman Ideologi negara asing tiada henti menggerogoti Ideologi Pancasila. Gerakan liberalisme dan Komunisme terus mempengaruhi pikiran, sikap, perbuatan masyarakat. ‘Virus’ komunisme disebar di buku-buku sekolah dan game-game anak-anak. Racun kapitalisme meracuni lewat gaya hidup, budaya dan berbagai cara.

Kita lebih cenderung meninggalkan yang penting. Bahkan tidak jarang mengerjakan pekerjaan yang tidak bermanfaat sedikitpun. Bukti, ada dalam kehidupan media sosial (medsos). Banyak komentar-komentar yang menyesatkan, saling menghujat, saling memojokkan seperti jauh dari adab sopan-santun bangsa Indonesia. Bahkan belakangan ini ada upaya adu domba antar anak bangsa seperti dilakukan tokoh-tokoh komunis tahun 1965. Ini Yang harus diwaspadai oleh seluruh elemen masyarakat. Jangan mau diadu domba oleh siapapun.

Di sisi lain, dalam penegakan produk aturan dan produk hukum. Aturan dan hukum itu ada, tetapi seolah-olah tidak ada. Padahal aturan dan hukum dibuat menghabiskan waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Sebelum menjadi aturan atau hukum yang mengikat, prosesnya pun panjang dan berbusa-busa. Mengapa membuat aturan dan produk hukum nyatanya tidak dilaksanakan isinya?

Seharusnya produk-produk itu sungguh-sungguh dijadikan komitmen dalam mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Aturan dibuat, hukum dibuat harus seiring dengan pelaksanaan penegakannya. Kenyataannya , masih ada penilaian bahwa hukum belum ditegakkan secara adil. Misal yang terjadi pada kasus tokoh FPI Habib Rizieq dan kasus Ahok. Kedua kasus ini harus ditempatkan pada rel hukum yang benar.

Berbagai masalah muncul seharusnya tidak menjauhkan masyarakat dari Ideologi Pancasila dan NKRI yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Tidak merenggangkan hubungan silaturrahmi di masyarakat. Tidak merusak atau memperlemah komitmen terhadap NKRI. Iming-iming kesempatan, kekayaan, kekuasaan menjadi godaan hingga berujung lemahnya moral, lemahnya budaya dan lemah dalam mengabdi terhadap bangsa.

Banyak kekuatan elemen masyarakat. Nahdlatul Ulama (NU), Muhamadiyah, LDII, Majelis Tafsir Al Qur’an, ratusan organisasi thoriqot dan kelompok masyarakat berbasis agama islam lainnya. Belum lagi, kekekuatan elemen non Islam, Kristen, Hindu, Budha, khong Hu Chu. Dan kelompok ormas kepemudaan jumlahnya cukup banyak. Mereka seharusnya berkumpul duduk dalam satu barisan untuk merenung, menata kembali tujuan ber-Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Negara yang diproklamirkan oleh Soekarno- Hatta, atas nama bangsa Indonesia yang Berbhineka Tunggal Ika .

Berbeda-beda suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) tapi tetap satu NKRI dan berideologi Pancasila. Sudah waktunya kita kembali membangun peradaban NKRI ini bercirikan ‘salam’ (keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan) berdasarkan Pancasila dan ber-Bhineka Tunggal Ika.

Kelompok agama yang anti-Pancasila dan berpaham radikal, waktunya kutu membangun peradaban NKRI bercirikan ‘Salam’. Salam adalah doa untuk keselamatan dan kesejahteraan yang diajarkan oleh seluruh agama. (*)