31/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Mahasiswa Ubaya Temukan Pengganti Insektisida Kimia dengan Bioinsektisida dari Jamur

Surabaya, KabarGRESS.com – Mahasiswa Universitas Surabaya Jurusan Teknobiologi, Derdy Janli berhasil menemukan bioinsektisida dari organisme entomopatogen. Salah satu organisme entomopatogen adalah jamur. Jamur/Fungi entomopatogen mampu menginfeksi serangga dengan cara masuk ke tubuh serangga melalui kulit, saluran pencernaan, spirakel dan lubang lainnya. Bioinsektisida ini mampu menjadi alternative pengganti insektisida sintetik yang biasa dipakai petani untuk mematikan hama tanaman (serangga).

“Awalnya saya menemukan literature yang menyebutkan bahwa insektisida sintetik (kimia) dapat mengakibatkan berbagai dampak negatif, seperti kerusakan pada konservasi lingkungan dengan terbunuhnya organisme yang bukan sasaran, resistensi dan resurgensi hama, dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan manusia, serta petani yang terpapar insektisida pada saat aplikasi, dan konsumen oleh residu yang terdapat pada hasil panen. Dari latar belakang inilah saya mencoba mencari alternarif insektisida tanaman yang aman untuk lingkungan dan residu pada manusia,” ungkap Derdy Janli, di sela-sela acara publikasi temuannya, di Teaching Laboratorium  Gedung TG lantai 4 Kampus Tenggilis Universitas Surabaya, Jl Raya Kalirungkur Surabaya, Selasa (6/9/2016).

“Muncul keinginan untuk meneliti apakah ada alternatif untuk menanggulangi masalah serangga sebagai hama pertanian atau perkebunan selain menggunakan insektisida sintetik,” imbuh pria yang tinggal di kawasan Mulyosari Surabaya.

Derdy Janli kemudian menemukan salah satu alternatif pengendalian hama insektisida sintetik dengan bioinsektisida dari jamur/fungi tipe entomopatogen.  Jamur entomopatogen mampu menginfeksi serangga dengan cara masuk ke tubuh serangga  melalui kulit, saluran pencernaan, spirakel dan lubang lainnya. Kemudian  inokulum jamur yang menempel pada tubuh serangga akan berkembang sehingga menyerang seluruh jaringan tubuh sehingga menyebabkan serangga mati.

Putra pasangan Nanang Ramli dan Tan Hui Wien melakukan percobaan dengan mengambil sampel tanah yang ada di Kota Batu sebanyak 300-400 gram kemudian diletakkan 10 ulat hongkong lalu dibiarkan selama 1-2 minggu. Hasilnya ulat mati dalam kondisi yang berbeda-beda. Ada yang mengering, ada yang tubuhnya dipenuhi jamur berwarna putih. Jamur yang ada pada kulit ulat yang mati kemudian diambil dan ditanam pada media agar selama 4 hari. Hasilnya muncul jamur yang berwarna ungu dan putih.

Jamur yang berwarna putih itulah yang disebut jamur entomopatogen. Kemudian jamur ini diambil racunnya dengan dilarutkan ke media cair dengan formulasi khusus sehingga didapat  toksin yang berasal dari jamur entomopatogen. Cairan tersebut kemudian disemprotkan kembali kepada ulat hongkong dan hasilnya ulat tersebut mati.

“Toksin yang saya temukan ini merupakan senyawa racun yang digunakan jamur untuk membunuh serangga dalam proses menginfeksi serangga, sehingga menggunakan toksin dari jamur ini merupakan alternatif yang sangat potensial dalam membasmi serangga”, ungkap pria kelahiran Januari 1994 ini.

Menurut Ida Bagus Made Artadana, S.Si., M.Sc. selaku pembimbing mengungkapkan penelitian ini memiliki peluang untuk dijadikan produk missal, selain itu untuk pengembangan kedepan Derdy atau peneliti lanjutan perlu melakukan uji pada insekta yang spesifik lainnya. (ro)