31/01/2021

Jadikan yang Terdepan

UKWMS, Dispora dan BNN Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS, Kenakalan Remaja dan Narkoba

Beberapa mahasiswa antusias berdiskusi dengan Suparti meski seminar telah usaiSurabaya, KabarGRESS.com – Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) bekerjasama dengan Dispora (Dinas Pemuda dan Olahraga) Pemerintah Kota Surabaya serta Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Surabaya menggelar seminar yang bertajuk Peningkatan Pemahaman tentang bahaya HIV/AIDS, Kenakalan Remaja & Narkoba pada Senin (22/8). Acara yang berlangsung di Auditorium A301 ini diawali dengan laporan dari Kepala Bidang (Kabid) Kepemudaan Dispora Kota Surabaya, Sjamsul Bahri Nusi, SE, M.Si.

Pada kesempatan tersebut hadir pula Drs. Kuncoro Foe, G.Dip.Sc., Ph.D selaku Rektor UKWMS. Ia mengungkapkan seminar yang digelar ini menjadi kesempatan bagi para mahasiswa untuk mengetahui resiko memilih maupun mencoba-coba gaya hidup yang melibatkan narkotika. “Di masa depan Indonesia diuntungkan secara demografis karena banyaknya penduduk yang berusia produktif, namun alangkah suramnya kalau mereka yang berusia produktif itu gaya hidupnya tidak sehat. Kami pun sangat berterima kasih kepada BNN dan Dispora, serta RSUD Dr.Soetomo yang mau menggandeng UKWMS untuk bekerjasama, demi terciptanya generasi muda yang bebas narkoba,” ujar Kuncoro.

Senada dengan Kuncoro Foe, M. Afghani Wardhana S. SE, MM selaku Kepala Dispora Kota Surabaya juga sangat menyayangkan bila generasi muda terjerumus ke dalam dunia narkoba. Ia menegaskan bahwa setiap harinya di Surabaya ada orang yang meninggal akibat narkoba. “Sungguh keadaan yang sangat ironis bila generasi muda kita tidak bisa berpretasi hanya karena pengaruh narkoba. Jangan sampai narkoba menjadi penghalang dalam mahasiswa mencapai cita-citanya,” tandas Afghani.

_MG_9339Dalam seminar yang dihadiri oleh perwakilan mahasiswa dari semua Fakultas di UKWMS ini turut menghadirkan salah satu dokter dari RSUD Dr.Soetomo, Dr. Erwin Astha Triyono. “Saat ini penderita HIV/AIDS di daerah Jawa Timur sudah menempati posisi ke-2 terbanyak se-Indonesia,” ungkap Erwin. Ia juga banyak menjelaskan mengenai penyebaran virus HIV/AIDS yang masih membuat salah paham sebagian masyarakat. “Selama ini banyak orang yang mengira bahwa HIV/AIDS bisa tertular melalui sentuhan, bersin ataupun menggunakan peralatan makan yang sama dengan penderita,” tutur Erwin. Namun semua hal tersebut rupanya salah. Oleh sebab itu Erwin ingin merubah pola pikir masyarakat mengenai penyebaran virus HIV/AIDS.

Erwin juga menjelaskan bahwa penularan HIV/AIDS bisa melalui seks bebas dan juga narkoba suntik. Oleh sebab itu, ia menghimbau kepada para mahasiswa yang hadir untuk tidak melakukan hal-hal yang “berlebihan” saat masih berpacaran. “Dalam satu hari, sebanyak 50 orang di seluruh Indonesia meninggal akibat HIV/AIDS,” ucap Erwin tegas.

Menurutnya, yang terpenting untuk mencegah virus HIV/AIDS masuk ke dalam tubuh seseorang adalah tidak melakukan hubungan seks bebas di luar pernikahan. Jika seseorang sudah terkena HIV/AIDS, lanjut Erwin, penderita tersebut harus menuruti aturan dokter dan rajin meminum obat yang diberikan. “Bagi kita yang tidak terkena HIV/AIDS, kita tidak boleh menjauhi ataupun mengucilkan para penderita HIV/AIDS,” tandas Erwin.

_MG_9270Seusai Erwin memberikan materi seputar HIV/AIDS, AKBP Suparti SH.,MM selaku Kepala BNN Surabaya menyampaikan materi mengenai penyalahgunaan narkoba. Suparti yang sudah sering meringkus pengedar narkoba ini sedikit bercerita mengenai beberapa kasus yang pernah ia tangani. “Saya sempat menangkap lulusan sarjana hukum bekerja sebagai pengedar narkoba bersama sang istri,” ulas Suparti.

Ia merasa sedih dan miris, seorang yang sudah sempat mengenyam bangku kuliah dan berasal dari keluarga baik-baik bisa bekerja menjajakan barang haram tersebut. Suparti juga menegaskan, tak sedikit pula ia meringkus mahasiswa yang juga terjerat perdagangan narkoba. “Putaw, sabu, inex/ekstasi dan ganja adalah beberapa contoh yang beredar luas di masyarakat saat ini,” lanjut Suparti.

Ia menambahkan, pengguna narkoba sebenarnya juga dapat diidentifikasi secara fisik. “Badannya kurus, cadel, suka merasa kedinginan saat cuaca terik dan selalu menyendiri adalah beberapa tanda pengguna narkoba.” Menurutnya, saat seseorang sudah terjerat narkoba dapat merambah ke hal-hal negatif lain. Dari menggunakan barang haram tersebut, seseorang bisa jadi terjerumus melakukan seks bebas.

Dr. Erwin sebagai naraumber pertama dari bidang kedokteranSaat ini pengedaran narkoba sudah merambah ke seluruh lapisan masyarakat, termasuk anak dibawah umur. Hal ini dibenarkan oleh Doni Aris Setiawan, seorang mantan pecandu narkoba yang dibina oleh BBN Surabaya. “Tepatnya pada tahun 1998, saya sempat menjadi pecandu narkoba,” tuturnya. Hingga suatu hari, ia mengalami sakau dan orang tuanya mengetahui akan hal tersebut.

“Setelah tahu saya sakau, orang tua saya malah men-suport saya untuk membeli barang haram tersebut dengan memberikan uang agar saya beli dan tidak merasa kesakitan lagi,” ceritanya. Keadaan tersebut membuatnya semakin kecanduan pada barang haram tersebut. “Dari sekian jenis, saya ‘jatuh cinta’ pada heroin,” lanjutnya. Namun hal tersebut membuat perekonomian keluarganya semakin berantakan. Pernah bahkan suatu ketika ia menjual penanak nasi yang masih ada nasinya untuk mendapat sedikit uang demi menuruti kecanduannya.

“Waktu itu pernah terpikir, seandainya bisa, orang tua pun akan saya jual,” kenangnya dengan ekspresi menyesal. Hingga akhirnya ia “ditendang” oleh keluarganya dan memulai hidupnya di jalanan. Kenikmatan yang Doni dapat hanya sementara saja. Pada tahun 2002, Doni memutuskan untuk kembali ke rumah dan memulai menjalani kehidupan yang baru. “Awalnya sangat susah, namun saya benar-benar ingin pulih seperti sedia kala,” tuturnya.

Kepala BNN Kota Surabaya (Suparti) antusias berbagi pengalaman dengan mahasiswa peserta seminarDoni memutuskan berhenti karena setiap malam menjelang pagi ia selalu takut dan berpikir kepada siapa lagi ia akan berhutang demi membeli barang haram tersebut. Oleh sebab itu, ia bertekad bulat untuk menjauhi barang haram tersebut.

Meskipun sudah tidak lagi bersentuhan dengan narkotika, terkadang Doni masih terbayang dengan suasana dan tempat-tempat ia mengonsumsi barang haram tersebut. “Saat ke mall, saya terkadang masih ingat ada closet yang tersumbat karena saya membuang alat suntik ke dalamnya,” kata Doni lantas tertawa.

Dalam benaknya, ia pun juga masih terkenang tempat-tempat mangkalnya dulu yang sering ia gunakan untuk mabuk-mabukan dengan temannya. “Jauhi barang haram tersebut, kalian masih punya jalan panjang untuk meraih kesuksesan,” ungkap Doni.

Ia menghimbau kepada para mahasiswa yang hadir untuk menyibukkan diri dengan hal-hal yang positif dan mencari pergaulan yang tidak menjerumuskan ke dalam “dunia gelap”. (ro)