31/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Juli, Jatim Alami Inflasi 0,76 Persen

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Teguh PramonoSurabaya, KabarGRESS.com – Momen Lebaran berdampak Jawa Timur pada Juli 2016 mengalami inflasi 0,76 persen. Sejak 2014 sampai 2016 momen Lebaran yang jatuh pada Juli menjadikan inflasi lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Teguh Pramono, di kantornya Jl Rungkut Industri Surabaya, Senin (1/8/2016), mengatakan pada Juli 2014 inflasi Jawa Timur 0,48 persen, naik menjadi 0,51 persen pada Juli 2015 dan pada Juli 2016 menjadi 0,76 persen.

Menurut Teguh Pramono, sebenarnya Provinsi Jawa Timur setiap menjelang momen Puasa hingga menjelang Lebaran mengadakan oprasi pasar (OP) bantuan ongkos angkut. Dengan menjual beras, premium, gula pasir, minyak goreng dan tepung terigu dengan harga lebih murah dibandingkan harga di pasar. Dengan OP akan berdampak bisa menekan dan mensatbilkan harga yang berdampak pada terkendalinya inflasi. Usaha tersebut cukup ampuh dan dampaknya inflasi bisa terkendali.

Dari delapan kota, Indeks Harga konsumen (IHK) di Jawa Timur, seluruh kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Madiun sebesar 0,85 persen, diikuti Kota Surabaya 0,83 persen, Kota Kediri dan Kota Malang masing-masingĀ  0,78 persen. Kemudian Kabupaten Sumenep dan Kota Probolinggo masing-masing 0,63 persen, Banyuwangi 0,43 persen, dan inflasi terendah terjadi di Kabupaten Jember 0,42 persen.

Dari tujuh kelompok pengeluaran, semuanya mengalami inflasi. Kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi tertinggi adalah kelompok bahan makanan1,48 persen. Diikuti kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,89 persen, kelompok sandang dan kelompok transport, komunikasi, dan jasa keuangan masingmasing 0,80 persen, kelompok kesehatan dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga masing-masing 0,43 persen. Inflasi terendah pada kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,24 persen.

Komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya inflasi adalah naiknya harga daging ayam ras, bawang merah, angkutan antar kota, angkutan udara, teh manis, emas perhiasan, apel, kentang, cabai rawit, dan tarif listrik.

Sementara komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya deflasi adalah turunnya harga telur ayam ras, besi beton, nangka muda, telepon seluler, semen, tomat sayur, jagung manis, sawi hijau, minyak goreng, dan buah melon.

Dari 6 ibukota provinsi di Pulau Jawa, seluruh kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Semarang 1,05 persen, diikuti Kota Yogyakarta 0,94 persen, Kota Surabaya 0,83 persen. Kemudian Kota Bandung 0,71 persen, Kota Serang 0,70 persen dan inflasi terendah terjadi di Kota Jakarta sebesar 0,64 persen.

Dari 82 kota IHK nasional, hanya empat kota yang mengalami deflasi. Lima kota yang mengalami inflasi tertinggi yaitu Tanjung Pandan 2,34 persen, Bengkulu 1,74 persen, Padangsidempuan 1,57 persen, Bau-bau 1,54 persen, dan Padang 1,52 persen. Sedangkan empat kota yang mengalami deflasi adalah Jayapura sebesar 1,10 persen, Kupang 0,35 persen, Merauke 0,09 persen, dan Maumere 0,05 persen.

Laju inflasi tahun kalender (Juli 2016 terhadap Desember 2015) Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 1,85 persen. Angka ini lebih tinggi dibanding tahun kalender Juli 2015 yang mengalami inflasi 1,74 persen. Inflasi year-on-year Juli 2016 terhadap Juli 2015) Jawa Timur sebesar 3,19 persen, angka ini lebih rendah dibanding inflasi year-on-year bulan Juli 2015 sebesar 6,81 persen. (ro)

Teks foto: Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Teguh Pramono, memberikan keterangan pers.