31/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Mei, Jatim Alami Inflasi 0,14 Persen

Surabaya, KabarGRESS.com – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Teguh Pramono di kantornya Surabaya, Rabu (1/6), mengatakan menjelang ramadhan atau Mei 2015 Jawa Timur inflai 0,41 persen, Mei 2014 inflai 0,21 persen, Juni 2013 inflasi inflasi 0,68 persen dan Juli 2012 Jawa Timur inflasi 0,58 persen.

Melihat data diatas menunjukan tim ekonomi Jawa Timur telah bekerja dengan baik sehingga inflasi terus terkendali. Dari delapan kota indeks harga konsumen (IHK) di Jawa Timur, semua kota mengalami inflasi.

Inflasi tertinggi terjadi di Sumenep 0,31 persen diikuti Jember, Kota Malang, dan Kota Probolinggo masing-masing 0,15 persen, Kota Surabaya 0,13 persen, Banyuwangi dan Kota Kediri masing-masing 0,12 persen, dan inflasi terendah terjadi di Kota Madiun 0,06 persen.

Dari tujuh kelompok pengeluaran, lima kelompok pengeluaran mengalami inflasi dan dua kelompok pengeluaran mengalami deflasi. Kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi tertinggi adalah kelompok sandang sebesar 0,94 persen, diikuti kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,60 persen, kelompok kesehatan 0,55 persen, kelompok transport, komunikasi, dan jasa keuangan 0,21 persen, dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,10 persen.

Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi adalah kelompok bahan makanan sebesar 0,47 persen dan kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,02 persen.

Komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya inflasi adalah naiknya gula pasir di 7 kota dari 10 kota pantauan BPS. Gula pasir pada April 2016 sebesar Rp 13.700/kg naik menjadi Rp 15.100/kg pada Mei 2016.

Kemudian inflasi pada Mei 2016 juga didorong naiknya harga emas perhiasan dari Rp 501.400/gram pada April 2016 naik menjadi Rp 533.250/gram pada Mei 2015.Selanjutnya angkutan udara, wortel, telur ayam ras, nasi dengan lauk, minyak goreng, jamu, apel, dan tukang bukan mandor memberikan andil terbesar pada inflasi Mei 2016.

Sementara komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya deflasi adalah turunya harga tomat sayur, cabai rawit, semen, beras, bayam, tarif listrik, melon, cabai merah, kangkung dan kacang panjang.Dari 6 ibukota provinsi di Pulau Jawa, seluruh kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Serang 0,88 persen, diikuti Kota Bandung 0,24 persen, Kota Jakarta 0,19 persen, Kota Surabaya 0,13 persen, Kota Semarang 0,12 persen, dan inflasi terendah terjadi di Kota Yogyakarta sebesar 0,08 persen.

Dari 82 kota IHK nasional, 67 kota mengalami inflasi dan 15 kota mengalami deflasi. Lima kota yang mengalami inflasi tertinggi adalah Pontianak 1,67 persen, Ambon 1,64 persen, Bau-bau 1,44 persen, Tanjung Pandan 1,30 persen, dan Jambi sebesar 0,89 persen. Sedangkan lima kota yang mengalami deflasi tertinggi adalah Sorong 0,92 persen, Bungo 0,90 persen, Bima 0,71 persen, Tual 0,60 persen dan Sibolga sebesar 0,47 persen.

Laju inflasi tahun kalender pada Mei 2016 terhadap Desember 2015 Jawa Timur mengalami inflasi 0,48 persen, angka ini lebih rendah dibanding tahun kalender Mei 2015 yang mengalami inflasi 0,78 persen. Inflasi year-on-year Mei 2016 terhadap Mei 2015 Jawa Timur sebesar 2,77 persen, angka ini lebih rendah dibanding inflasi year-on-year bulan Mei 2015 sebesar 6,69 persen. (ro)