31/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Kadin Surabaya Ingatkan Dampak Brexit

IMG_20160626_165952-800x600Surabaya, KabarGRESS.com – Keputusan Inggris untuk ’bercerai’ dengan Uni Eropa atau disebut Britain Exit atau Brexit, ditanggapi beragam oleh berbagai kalangan di dunia. KADIN Surabaya yang juga memiliki kepentingan dengan Inggris untuk perekonomian di wilayahnya menganggap keputusan Inggris itu akan berdampak terhadap Jawa Timur.

Dampak itu menurut penilaian Ketua KADIN Surabaya, Jamhadi, akan mempengaruhi rencana investasi Inggris ke Jawa Timur. Inggris adalah investor terbesar kedua di Jawa Timur. Sampai sekarang sudah ada 300 izin yang diajukan ke Jatim dari investor UK (United Kingdom). Dari jumlah itu, yang telah terealisasi sekitar Rp35,3 triliun.

“Makanya KADIN Surabaya akan membantu pemerintah baik kabupaten atau provinsi agar bisa menghubungi satu per satu investor yang sudah mengajukan supaya merealisasikan investasinya,” tandas Jamhadi, di sela-sela acara buka puasa bersama anak-anak yatim, di kantornya, Minggu (26/6/2015.

Dirut PT Tata Bumi Raya ini memandang dengan terjadinya leave UK dari Uni Eropa (UE) ini dalam perdagangan dan kebijakan ekonomi kawasan serta mata uang sudah akan berbeda.

Selain itu juga akan ada impor tarif and non tarif barrier, termasuk syarat-syarat keamanan dan kesehatan produk mereka. Akibatnya tentu negatif bagi ekonomi UK dan  EU.

Banyak ekonom memperkirakan output ekonomi UK akan turun hingga 3 persen akibat adanya trade barrier. Karena sekitar 55% dari total ekspor UK ke EU memberikan sumbangan sekitar 8,5% terhadap GDP di negara UK.

“Itu bisa menciptakan lapangan kerja kepada 2,5 juta penduduk. Berikutnya ada resiko lain yaitu Foreign Direct Investasi (FDI) yang masuk ke UK. Dalam 8 atau 10 tahun terakhir, terdapat 21% dari total investasi di UK masuk dalam FDI. Padahal FDI ini sebagian besar berasal negara-negara di EU,” jelasnya.

Dengan besaran nilai Itu, dari penilaian Jamhadi, tentunya dampak terhadap EU sangat besar karena UK berkontribusi 16% di pasar tunggal (single market), di bawah Jerman. Dengan kata lain, perdagangan UK tergantung dari EU sebagai pasar terbesarnya dari pada sebaliknya. Tapi dari total ekspornya EU ke mancanegara, 11% ke UK dan sumbangannya terhadap GDP EU sekitar 2%.

“Ini berbeda lagi dengan Belanda yang sangat  tergantung pada UK. Sekitar 4% dari total outputnya di ekspor ke UK yang melibatkan 400 ribu tenaga kerja. Tentu dengan keluarnya UK dari EU di tengah situasi ekonomi global yang dinamis, akan cenderung stagnasi,” ujarnya.

Dampak lainnya kemungkinan besar EU mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi. Kondisi itu juga akan berdampak sedikit terhadap perekonomian USA akibat  menguatnya US dollar.

Mata uang lainnya seperti Yen Jepang akan menguat, dan ekonominya mengalami penurunan. Berbeda dengan China yang kemungkinan berdampak kecil sekali. Sebab China pasar ekspor nya sudah terbentuk kuat.

“Jadi UK harus segera memperkuat pemerintahannya. Dengan mundurnya PM David Cameron dan kandidat penggantinya kemungkinan Mr Boris yang pro Brexit ini harus segera terbentuk dan menyatakan kebijakan barunya. Ini yang ditunggu pasar,” jelas Jamhadi.

Namun jika tidak ada kepastian di EU dan di UK pasca global ekonomi setelah Brexit ini, antara yang Brexit dan yang remain 52 ber sending 48% tentu masih bisa tercipta keseimbangan ekonomi. Karena UK tidak banyak mengandalkan ekonomi EU saja.

“Contoh di Indonesia UK jadi terbesar ke-5. Dan di Jatim masuk ke-2 atau 3. Kita akan terus memelihara hubungan dengan UK dan negara-negara EU. Disaat UK sedang dikecewakan EU, kita ingin terus mendekati potensi pasar investasi UK agar masuk Surabaya dan Jatim. Perlu diperhatikan, UK termasuk yang tolerance pada muslim. Maka kita bisa kembangkan sektor finance termasuk yang syariah dan halal product di Jatim,” pungkasnya. (ro)