Komisi B Pantau Kenaikan Harga di Pasar Tradisional

Sekretaris Komisi B DPRD Surabaya, Edi RahmatSurabaya, KabarGress.Com – Komisi B DPRD Surabaya bakal men-sidak (inspeksi mendadak) beberapa pasar tradisional. Pasalnya, saat ini berkembang isu kenaikan harga sembilan bahan pokok (sembako) yang begitu drastis.

“Kami akan cek ke lapangan, isu kenaikan itu bener nggak,” kata Sekretaris Komisi B DPRD Surabaya, Edi Rahmat, Senin (6/6/2016).

Menurut Edi, kenaikan harga sembako setiap Ramadan hingga Lebaran adalah biasa. Sebab, tingkat konsumsi masyarakat yang meningkat, tak diimbangi dengan stok yang ada.

“Selama bulan puasa, tingkat konsumsi di masyarakat biasanya lebih besar dari pada hari biasanya,” ujarnya.

Kenaikan harga kebutuhan pokok itu, tambah Edi, juga dipicu ulah sebagian pedagang yang ingin meraup untung besar selama Ramadan. Kebutuhan pokok yang saat ini mengalami kenaikan, di antaranya, daging, telur, bawang merah dan  gula pasir.

Menurut dia, pemerintah kota sebenarnya telah mengantisipasi lonjakan harga sembako dengan menjamin ketersediaannya hingga 6 bulan ke depan. Namun, pemkot juga harus mengantisipasi tindakan pedagang yang menimbun sembako.

“Tapi semuanya sudah diantisipasi oleh disperindag untuk stoknya,” katanya.

Sementara itu, Erwin Tjahyuadi yang juga anggota Komisi B minta operasi pasar yang digelar Pemkot Surabaya terus dilakukan. Apalagi, operasi pasar yang digelar sejak 27 Mei 2016 itu belum mampu menekan harga kebutuhan pokok di pasaran.

Operasi pasar yang dilakukan Pemkot Surabaya, di antaranya berlangsung di Pasar Wonokromo, Pasar Pucang, Pasar Soponyono Rungkut, dan Pasar Tambahrejo.

Pantauan Erwin di Pasar Wonokromo harga gula Rp14.000 per kilogram, beras premium Rp11.000 per kilogram. Harga daging sapi belum ada kenaikan masih berkisar Rp110.000 per kilogram. Sementara bawang putih dari harga Rp25.000 per kilogram menjadi Rp30.000 per kilogram.

Harga telur juga masih tinggi, per kilogram masih Rp21.000, hanya mengalami penurunan Rp1.000 dibandingkan pekan lalu. Padahal normalnya Rp15.000 per kilogram.

“Yang sudah normal hanya beras dan minyak goreng. Ini karena ada intervensi pemerintah pusat. Di luar itu, pemkot kesulitan untuk mengontrol harga, karena Surabaya bukan kota penghasil komoditas,” katanya.

Dia mendorong Pemkot Surabaya untuk menjadi produsen. Setidaknya, agar punya kemampuan mengontrol harga. Sehingga kejadian membubungnya harga sembako tidak berulang setiap tahunnya, terutama menjelang dan selama Ramadan serta Lebaran. (adv/tur)

Teks foto: Sekretaris Komisi B DPRD Surabaya, Edi Rahmat.

Leave a Reply


*