31/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Ada Nuansa Beda di Upacara HJKS ke-723

YADI0561-1024x683Surabaya, KabarGress.Com – Selasa (31/5/2016) besok, Kota Surabaya berulang tahun ke-723. Dan, sudah menjadi keharusan, Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ditandai dengan upacara. Nah, kali ini, ada nuansa beda dalam upacara peringatan HJKS. Bila di tahun-tahun sebelumnya, upacara HJKS berjalan seperti upacara pada umumnya, kali ini akan kental dengan nuansa Suroboyo-an. Rasa Suroboyo itu sangat terasa saat sesi gladi resik pada Senin (30/5/2016) pagi.

Salah satu yang paling menonjol adalah bunyi musik gamelan dan kendang ala ludruk Suroboyo-an. Ya, di setiap pergantian bagian sesi acara upacara, terdengar lebih akrab di telinga dengan alunan musik khas Suroboyo yang dimainkan siswa-siswi SMK Negeri 12 Surabaya. Semisal ketika sesi Wali Kota Surabaya selaku inspektur upacara (Irup) memasuki lokasi upacara, ketika penghormatan kepada Irup upacara, atau ketika sesi lambang Surabaya di bawa masuk ke arena upacara.

Untuk paduan suara, juga menyajikan rasa baru. Bila biasanya, para siswa-siswi sebagai “penyanyi” nya, ditempatkan di panggung sebelah Timur. Kali ini, mereka akan menyanyikan lagu-lagu kenangan Surabaya di tengah ‘arena upacara’. Yang menarik, siswa-siswi SD hingga SMA ini menyanyikan lagu-lagu seperti Semanggi Suroboyo dan Jembatan Merah, dengan iringan orkestra. Suara gitar atau saxophone dan piano yang dimainkan siswa-siswi Surabaya, akan bersahut-sahutan.

Dan, satu lagi yang baru adalah adanya sesi potong tumpeng. Nantinya, di bagian akhir upacara, tumpeng setinggi 2,73 meter akan dibawa ke tengah lokasi upacara, lalu dipotong oleh wali kota. Pun di sesi ini, ketika tumpeng dibawa, akan diringi oleh musik karawitan plus vokal dari siswa-siswi SMK 12.

“Pokok ‘e upacara HJKS kali ini nuansa nya Jawa Timuran, Suroboyo-an” ujar Kepala Bakesbang Linmas, Soemarno yang menjadi koordinator gladi resik upacara kemarin.

Kepala Bidang Pemerintahan dan Otonomi Daerah Kota Surabaya, Eddy Christijanto menyebut upacara HJKS kali ini akan semarak dengan alunan musik khas Suroboyo. Karenanya, upacara HJKS kali ini tidak ubahnya seperti sebuah resepsi. Meski begitu, Eddy menyebut suasana upacara HJKS ke-723 ini akan tetap berlangsung formal karena tetap ada penghormatan bendera merah putih. “Ini bu wali langsung yang minta. Intinya kami ingin memunculkan suasana Surabaya tempo dulu melalui seni dan musik tradisional,” ujarnya.

Untuk sesi pemotongan tumpeng, Eddy menyebut potongan tumpeng tersebut akan diserahkan wali kota kepada tokoh masyarakat. “Pokoknya upacara nya akan sangat berbeda dari biasanya. Wartawan harus melihatnya. Rugi kalau tidak ikut menjadi saksi upacara besok,” ujarnya.

Kepala Bagian Humas Kota Surabaya, Muhamad Fikser mengatakan, upacara HJKS ke-723 kali ini memang akan sangat kental dengan nuansa Surabaya. Selain alunan musik, para peserta upacara juga akan mengenakan pakaian khas Surabaya. Dan setelah selesai upacara, juga akan ada pesta rakyat untuk warga Surabaya. “Nantinya Pesta Rakyat akan menyajikan kuliner-kuliner khas Suroboyo. Pokoknya semua khas Suroboyo,” ujarnya.

Untuk lantunan musik ludruk khas Suroboyo, akan dimainkan oleh siswa-siswi SMK 12. Ada 30 anak yang terlibat. Sebanyak 25 anak memainkan alat musik seperti gamelan, gong, kendang, dan rebana (terbangan). Lalu, lima anak sebagai vokalisnya. Mereka tidak memainkan sembarang bunyi-bunyian. Tetapi, beberapa komposisi gending yang dicomot dari ludruk Suroboyo.

“Beberapa gending-gending yang kami ambil untuk komposisi memang mengambil dari ludruk. Ada jula juli, alap-alapan, krucilan brajakan. Itu jula-juli yang kenceng. Ada juga cokronegoro. Dan untuk alat musiknya, kami membawa gamelan larasendro lengkap plus rebana alat musiknya,” ujar Bambang Sukmo Pribadi, guru karawitan SMK 12 ditemui usai gladi resik upacara HJKS.

Menurut Bambang, mereka yang akan tampil di upacara HJKS ini merupakan murid-murid dari program studi seni karawitan dan seni pertunjukan. Dia menyebut, penampilan di upacara HJKS ini merupakan bagian dari goal nya para siswa-siswi selama latihan dan juga untuk penyesuaian diri dengan situasi pentas. Agar bisa tampil maksimal, mereka sudah berlatih empat kali.

“Anak-anak senang luar biasa. Karena ini goal nya anak-anak bagaimana mendapatkan kesempatan juga aplikatif dari latihan. Pentas secara langsung juga agar kelak mereka lulus bisa adaptasi dengan masyarakat lingkungan dan seniman,” sambung Bambang.

Bambang menambahkan, upacara HJKS ke-723 yang dikemas dengan nuansa Suroboyo-an ini merupakan keinginan dari Wali Kota Tri Rismaharini. Menurutnya, itu sangat bagus untuk menunjukkan kekayaan seni budaya Surabaya kepada patra tamu yang hadir di upacara beosk.

“Upacara ini keinginan bu wali. Biasanya upacara itu formal obade dengan diiiringi chord musik diagonis. Ini bagaimana mencoba tidak terlalu pakem dengan obade yang resmi. Tetapi dicoba dengan gamelan. Suasananya kalau upacara dengan obade itu terasa mencekam. Ini kelihatan nggak terlalu pakem. Jadi namanya resepsi peringatan Hari Jadi Kota Surabaya,” ujarnya. (tur)