31/01/2021

Jadikan yang Terdepan

”Ampyang” Kacang Cino Gulo Jowo

Ampyang Kacang Cino Gulo Jowo 1Surabaya, KabarGRESS.com – Perpaduan antara budaya lokal dan asing telah tumbuh dan berkembang di tengah – tengah masyarakat Indonesia sejak dulu. Kegiatan sehari – hari yang seakan budaya lokal tanpa disadari sejatinya merupakan asimilasi dan akulturasi dari berbagai budaya asing. Keunikan pembauran dan toleransi yang timbul untuk kepentingan kebersamaan melatar belakangi Hari Yong Condro, seorang fotografer senior Surabaya, menggabungkan 4 seniman Surabaya dari 4 profesi yaitu Arsitek, Crafter, Graphic dan Interior Designer menggelar pameran seni yang dikemas secara apik bertajuk ‘Ampyang, Kacang Cino Gulo Jowo’  yang diselenggarakan mulai 27 Mei – 18 Juni di Galeri House of Sampoerna.

Tema Ampyang diambil dari nama jajanan yang awalnya terbuat dari Kacang Cina dan Gula Jawa (Gula Kacang), dan juga sebutan yang dipergunakan bagi anak dari hasil pernikahan campuran antara Tionghoa dan Jawa. Perpaduan indah inilah yang menjadi inspirasi keempat seniman untuk menghasilkan beragam karya seni dengan gaya goresan dan media yang berbeda: lukisan tinta cina, sketsa lingkungan (urban sketching), lukis cat air dan lukis scribble (coretan).

Ampyang Kacang Cino Gulo Jowo 2Penggambaran akulturasi budaya yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari tampak dalam 20 karya yang ditampilkan. Aloysius Erwin, seorang Arsitek dan Dosen mengangkat bangunan cagar budaya dan kota tua dalam aliran urban sketching. Sedangkan B.G.Fabiola Natasha yang berlatarbelakang seorang graphic designer, menggunakan tinta cina sebagai media untuk memvisualisasikan beberapa dolanan rakyat dan kesenian Indonesia pada kertas phi zhi.

Tidak kalah menawan karya dari Nani Wijaya, yang kesehariannya adalah seorang crafter, menuangkan pemikiran akulturasi dalam media cat air diatas kayu, kertas dan polycarbonate. Dalam karyanya, Nani membawa pesan tentang tokoh Gesang dan bakmi. Pakar scribble dan Dosen Interior Design, Rachmad Priyandoko memilih menggunakan kawat, kap mobil, mika dan papan whiteboard untuk mengimajinasikan punakawan.

“Akulturasi sesungguhnya selesai dan terus berlangsung lewat karya-karya empat perupa ini. Apa yang dituangkan empat perupa ini bukan lagi sekadar ajakan memahami akulturasi dalam seni, karena kita terus menjadi human being yang berkembang secara jiwa dan raga. Proses akulturasi dalam diri mereka juga saya anggap selesai karena sejatinya tak ada lagi yang asing dalam diri mereka untuk disatukan dalam kehidupan. Keempatnya sudah memiliki kebudayaan itu secara ‘ampyang’ alias paduan lekat antara kacang cino gulo Jowo, dari proses panjang sebelumnya, begitu juga kita sekarang bersama-sama” ujar Heti Palestina Yunani saat memberikan ulasannya. (ro)