31/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Roland Berger dan OpenPort: Biaya Logistik Dapat Dikurangi Menjadi 9% dari PDB di Indonesia pada 2035

Surabaya, KabarGRESS.Com – Roland Berger, sebuah perusahaan konsultan berskala global, dan OpenPort, sebuah perusahaan solusi logistik berbasis aplikasi, akan akan berbagi wawasan mengenai tantangan-tantangan yang dihadapi pada proses supply chain dan peluang yang dimiliki oleh teknologi untuk mengurangi biaya pengiriman dan logistik dalam negeri secara signifikan.IMG-20160517-WA0006-800x600

Diperkirakan biaya logistik di Indonesia kini sudah mencapai 26% dari PDB, atau tiga kali lebih besar daripada negara berpenghasilan tinggi. Roland Berger bersama OpenPort memperkirakan bahwa setiap perusahaan logistik di Indonesia sebenarnya memiliki potensi untuk dapat mengurangi biaya logistik sebanyak 30% dalam jangka pendek.

Apabila beban-beban yang signifikan dapat dihilangkan secara keseluruhan, dan perubahan peraturan mulai dilakukan secara ekstensif dan terus-menerus, maka persentase biaya logistik di Indonesia dapat dikurangi hingga mencapai 9% terhadap PDB pada tahun 2035, sebanding dengan negara-negara OECD. Anthonie Versluis, Kepala Ports Practice di Roland Berger (www.rolandberger.com), dan Max Ward, CEO OpenPort Global (www.openport.com), bersama-sama akan memaparkan proyeksi tersebut pada konferensi pers ini. “Diantara negara-negara Asia Tenggara, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki biaya logistik tertinggi, yakni mencapai 26% dari total PDB di tahun 2015,” kata Anthonie.

Ia memberikan contoh bahwa biaya logistik terhadap PDB di Malaysia dan India hanya 14%, sementara di China sebesar 18%. “Transformasi dari industri ini sangat dibutuhkan untuk mengurangi beban biaya logistik,” ungkapnya, menambahkan bahwa tindakan tertentu seperti reformasi model operasi pelabuhan dan pengembangan infrastruktur pelabuhan sangat dibutuhkan.

“Dari analisis kami, Indonesia memiliki potensi untuk menekan biaya logistik terhadap persentase dari PDB menjadi 9% pada 2035, tetapi harus meningkatkan reformasi di industri untuk mencapai target yang ambisius ini. Kedua sektor, baik publik maupun swasta, perlu bekerja sama untuk mengurangi beban ini.”

Anthonie menyoroti kebutuhan untuk mengembangkan sistem jaringan pengumpul dan pengumpan (hub-and-spoke) di luar Tanjung Priok di wilayah timur negara, memperbaiki sistem regulasi, dan menambah kapasitas jalan dan kereta api saat ini. Indonesia Timur dapat memainkan peran penting dalam mengembangkan rute maritim, yang akan meningkatkan pembangunan ekonomi di Kalimantan dan Sulawesi, serta manfaat pelabuhan dan pengirim yang berbasis di Jawa Timur.

Dengan mengembangkan infrastruktur dan mempekerjakan para ahli untuk menentukan muatan optimal, operator logistik di Jawa Timur akan mampu merebut pangsa pasar dari Tanjung Priok. Meski Tanjung Priok merupakan pelabuhan paling ramai dan menangani lebih dari 50% dari kargo trans-shipment di Indonesia, akan tetapi penanganan kepabeanan masih cenderung lambat dan kapasitas pelabuhan yang terbatas. Memanfaatkan perkembangan “sharing economy”

“Indonesia perlu merevolusi cara sektor logistik dan supply chain bekerja. Negara ini dapat menjadi salah satu pasar yang paling kompetitif dan menarik secara ekonomi di ASEAN apabila kita mengubah cara kita berpikir tentang efisiensi pada proses supply chain dan adopsi teknologi baru. Alat-alat dan proses yang baru tidak hanya akan membuat sektor logistik menjadi lebih efektif, tetapi juga memungkinkan pemain lokal untuk bersaing dan melakukan bisnis dengan operator besar di dalam industri, “kata Max.

Kemajuan teknologi dan adopsi massal dari smartphone telah membuka pintu untuk pendekatan manajemen logistik baru. Sebuah multi-shipper platform berbasis cloud dapat diadopsi dengan biaya minimal, dan terobosan aplikasi mobile terintegrasi yang juga dapat digunakan untuk menghubungkan operator-operator truk, yang mana biaya logistik angkutan truk mencakup 72% dari biaya logistic transportasi di Indonesia.

Maka diperlukanlah sebuah pendekatan pasar yang netral dan transparan untuk menghubungkan pengirim dengan truk pengangkut untuk dapat menghasilkan suatu penghematan besar dan meningkatkan efisiensi yang dihasilkan dari disintermediasi pihak ketiga serta peningkatan visibilitas supply chain. Platform logistik digital OpenPort memungkinkan pengirim untuk melaksanakan manajemen supply chain mereka secara in-house, yang diidentifikasi oleh Roland Berger sebagai metode utama untuk mengurangi biaya.

Sistem ini memungkinkan pembelian sesuai permintaan dansebagai suatu platform jaringan bersama, peningkatan efisiensi secara signifikan dapat direalisasikan dengan mengurangi truk kosong melalui backhaul dan shared loads. Hal tersebut akan mengurangi biaya logistik untuk perusahaan pengiriman baik ke Indonesia maupun di dalam negeri hingga sebesar 30%, serta memperbesar margin untuk penyedia transportasi domestik dengan cara meningkatkan pemanfaatan/utilisasi aset mereka.

“Di OpenPort, kita memahami tantangan-tantangan dari pasar negara berkembang seperti Indonesia. Melalui teknologi inovatif kami, kami ingin membawa konektivitas yang lebih baik dalam bidang logistik ke Indonesia, dan tentunya untuk membantu meningkatkan kinerja supply chain negara ini,” ungkapnya.

Roland Berger, didirikan pada tahun 1967, merupakan sebuah konsultan global hanya memimpin dengan warisan Jerman dan asal Eropa. Dengan 2.400 karyawan yang bekerja di 36 negara, kami memiliki operasi yang sukses di semua pasar internasional. Kami 50 kantor yang terletak di hub bisnis global utama.

OpenPort adalah platform pertama berbasis mobile yang bersifat netral untuk end-to-end manajemen supply chain perusahaan di pasar negara berkembang, yang menghubungkan pengirim dan pengangkut untuk mengurangi biaya, meningkatkan kinerja, dan terus mendorong optimasi supply chain melalui model Open Enterprise Logistics (OEL). (ro)