Gubernur Jatim: Enam Bidang Kesehatan Jadi Program Prioritas Jatim

Gubernur Jatim Dr H Soekarwo,didampingi Ketua TP PKK Jatim,Ketua Umum PIT HOGSI Membuka KONGRES PIT HOGSI di Hotel JW Marrioth SurabayaSurabaya, KabarGress.com – Enam bidang kesehatan menjadi  program prioritas pembangunan di Jatim untuk tahun 2016. Enam bidang tersebut yakni penanganan masalah angka kematian ibu dan bayi, HIV-AIDS, TBC, gangguan jiwa, dan balita kurang gizi. Pernyataan tersebut disampaikan Gubernur Jatim Dr. H. Soekarwo, saat memberi pengarahan pada acara Pertemuan Ilmiah Dua tahunan Himpunan Uroginekologi Indonesia ke 9 di Hotel JW Marriot Surabaya, Senin (18/4).

Sementara itu, soal penanganan gizi buruk, kata Soekarwo, sudah dimasukkan dalam program prioritas kesehatan Jatim tahun 2015. Menurut pria yang lekat dengan sapaan Pakde Karwo itu, terjadinya masalah gizi buruk bukan karenan kemiskinan, namun lebih disebabkan oleh kesalahan pola asuh atau asupan. Sebab, rata-rata anak yang masuk dalam kategori gizi buruk di Jatim adalah anak-anak orang mampu, bukan orang miskin. Karena itu, penanganan masalah gizi buruk harus dilakukan bersama-sama antara pemerintah dan organisasi sosial  seperti PKK melalui sosialisasi promotif preventif secara intensif.

Untuk penanganan masalah angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB), pihaknya akan melakukan sejumpah upaya. Di antaranya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan  berupa pendampingan pada ibu hamil. Pemprov. Jatim juga telah  mendirikan 5.700 Polindes di setiap desa dengan satu tenaga kesehatan yakni Bidan. Tugasnya membantu Puskesmas  dalam memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat desa yang jauh dari jangkauan Puskesmas. Saat ini sekitar 2/3 dari 8.651 desa yang ada di wilayah  Jatim sudah terlayani polindes.

Gubernur Jatim Dr H Soekarwo Menghadiri dan Sekaligus Membuka KONGRES PIT HOGSI di Hotel JW Marrioth Surabaya  (1)“Oleh karena itu, agar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik dan maksimal pada masyarakat,  maka sejak tahun 2015 lalu Polindes ditingkatkan menjadi Ponkesdes dengan menambah dua orang  tenaga kesehatan  yakni perawat. Tapi belum semua Polindes ditingkatkan menjadi Ponkesdes, sampai saat ini baru sebanyak 3.213 Polindes yang sudah ditingkatkan menjadi Ponkesdes. Karena semua itu, berkaitan langsung dengan anggaran sebab semua tenaga medis yang ada di Ponkesdes digaji pemprov. Jatim. Begitu juga dengan peralatan dan gedungnya semua dari pemprov. Jatim, tujuannya agar masyarakat yang ada di pelosok desapun bisa mendapat pelayanan kesehatan dengan baik,” jelas Pakde Karwo.

Menurut Pakde Karwo,  keberadaan Ponkesdes  adalah sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan masyarakat di jatim. Yakni dengan cara mendekatkan pelayanan kesehatan  agar  kualitas  kesehatan masyarakat jatim  bisa lebih baik dari sekarang. Selain Ponkesdes, untuk menyambut Generasi Emas di 100 tahun Indonesia Merdeka, Pemprov. Jatim juga membuat program taman posyandu, dengan target 10 ribu  taman posyandu. Dari target 10 ribu posyandu, hingga saat ini sudah mencapai 12 ribu posyandu yang artinya sudah melebihi target yakni 2000 Posyandu. Program ini sangat penting karena telah menerapkan  program pendekatan holistik. Di dalamnya meliputi program  pendidikan, PAUD, kesehatan dan Sosial.

 

Persiapkan Generasi Emas

Ketua TP PKK Jatim Ibu Nina SoeKkarwo Memberikan Pengarahan di Acara KONGRES PIT HOGSI di Hotel JW Marrioth Surabaya (2)Pada kesempatan yang sama, Ketua Tim Penggerak PKK Prov. Jatim Dra. Hj. Nina Soekarwo menyampaikan program meningkatkan pengawasan dan pelayanan kesehatan bagi ibu hamil. Caranya melalui pendampingan mulai dari kehamilan hingga paska melahirkan.

Pendampingan ini dilakukan oleh para kader PKK di setiap desa selama 1000 hari pertama. Langkah ini diambil dengan tujuan untuk mempersiapkan dan menyambut  datangnya Generasi Emas  pada Perayaan 100 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

Menurutnya, pendampingan selama 1.000 hari pertama itu sangat penting.  Sebab, pendampingan kesehatan itu harus diberikan dan dilakukan mulai kehamilan pertama, melahirkan, bahkan hingga usia anak dua tahun. Alasannya, tumbuh kembang anak itu dimulai sejak dia masih dalam kandungan hingga anak usia dua tahun harus terus diperhatikan oleh para orang tua, mulai dari makanan atau asupan serta ASI Eksklusifnya harus benar-benar  diberikan.

Program menekan AKI dan AKB di Jatim bisa dikata sudah berhasil, terutama dalam hal penurunan AKI. Tapi kalau AKB masih belum karena memang program penanganan AKB belum maksimal. Tahun 2013, program pendampingan AKI diberikan pada Bumil yang berisiko tinggi di delapan Kabupaten dengan jumlah bumil berisiko tinggi sebanyak 742 ibu dengan pendamping sebanyak 400 orang kader. Tapi hal itu bisa dilakukan hingga berhasil  mencapai 99,9 % atau dari 742 Ibu melahirkan yang  diselamatkan 739 ibu atau yang meninggal 3 orang karena serangan jantung.

Tahun 2014, tetap  delapan kabupaten dengan 400 orang kader mendampingi sebanyak 950 Bumil dan semuanya berhasil selamat. Tahun 2015 delapan kab. Dengan 800 orang kader mendampingi sebanyak 1.883 bumil dan dua orang meninggal. Sedang untuk tahun 2016 ini ditargetkan 1000 orang kader dengan mempingi berapa jumlah bumilnya sampai sekarang masih belum terdata dengan pasti. Pendampingan selama tiga tahun oleh 1.600 orang kader dengan jumlah bumil berisiko tinggi sebanyak 3.575 orang berhasil diselamatkan sebanyak 3.570 orang, karena yang meninggal lima orang karena serangan jantung atau jatim berhasil mencapai 99,9 %.

Pertemuan ilmiah Himpunan Uroginekologi Indonesia ke 9 ini dilaksanakan selama tiga hari mulai tgl 18s/d 20 April 2016 diikuti 270 tenaga medis se Indonesia mulai dari dokter, bidan dan perawat serta tenaga medis lainnya. (hery)

Leave a Reply


*