31/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Zawawi Imron Ajak Mahasiswa Belajar dan Menguasai Sastra

Unitomo - Zawawi ImronSurabaya, KabarGress.com – Sastrawan dari Madura yang dikenal dengan julukan “Celurit Emas”, D. Zawawi Imron, mengajak mahasiswa mempelajari dan menguasai sastra. “Dulu Bung Karno, kalau berpidato tidak bikin capek yang mendengarkan. Karena Bung Karno belajar dan menguasai sastra dari para sastrawan seperti Chairil Anwar, Hamka, Marah Rusli, dan lainnya,” ungkap Zawawi, saat acara Seminar Kesusastraan yang dihelat Badan Eksekutif Mahasiswa FKIP Universitas Dr. Soetomo bertemakan “Mengukuhkan Sebagian Tradisi melalui Karya Sastra”, di kampus Universitas dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya, Selasa (12/4/2016).

Dengan belajar dan menguasai sastra, seseorang akan mampu meliukkan kata-kata, tahu melontarkan kata-kata dengan baik sehingga komunikasi antara pembicara dengan pendengarnya bisa intens. “Saya berharap para mahasiswa belajar sastra agar memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. Dalam memandang peribahasa, seseorang tidak cukup memahami isinya saja, namun lebih luas makna yang diperoleh agar mengetahui maksud dari penulis peribahasa,” terangnya.

Lebih jauh Zawawi mengatakan, sastra mampu untuk menjadi perisai untuk membentengi negeri ini dengan budaya lokal, namun sastra juga mampu menjadi bom waktu yang menghancurkan negeri ini jika penulisnya tidak menggunakan hati yang bersih.

“Para sastrawan muda harusnya membersihkan jiwanya dalam setiap menulis karya sastra agar terjadi kesatuan antara karya, nasionalisme dan rasa sastra sehingga mampu menginspirasi pembaca menjadi lebih positif,” ujarnya.

Unitomo - Zawawi Imron lagiTerkait polemik kebudayaan tahun 1936-1940 antara modernitas dan tradisi, ia menilai polemik itu ibarat air dan minyak yang sulit dipadukan. Nilai-nilai lama dalam peribahasa mampu menjadi inspirasi untuk memacu perkembangan zaman bila ada dialog antara nilai-nilai modernitas dengan warisan tradisi bangsa.

“Kalau anak muda sudah tidak menjadi penulis peribahasa yang mempunyai jiwa nasionalisme, maka Indonesia tidak akan memiliki peninggalan budaya,” timpalnya.

Dengan hal itu, ia menambahkan peribahasa merupakan paduan kecerdasan rohani dan kemampuan menguntai kata untuk mencermati dan mengarahkan kehidupan, menampilkan nilai-nilai menjadi kearifan untuk pedoman hidup.

Sementara itu, Ketua Panitia Seminar Kesusastraan, Amidatul Jannah, menyampaikan seminar bertujuan memberikan motivasi kepada mahasiswa sastra untuk semangat menulis dan berkarya sebagai anak Bangsa. “Di Unitomo hanya 25 persen yang memilih fokus pada sastra, hal inilah yang menjadi alasan terselenggaranya seminar kesusastraan di bulan bahasa tahun ini,” tukasnya.

Selain itu, Mahasiswa Universitas Muhamadiyah Sidoarjo, Eka menyampaikan seminar ini memberikan semangat untuk bisa berkarya seperti Zawawi Imron. “Menjadi seorang sastrawan seperti Zawawi Imron menjadi cita-cita terdekat dengan terus menulis dan menulis sesuai anjuran beliau agar menjadi sastrawan muda yang mempunyai rasa sastra,” imbuhnya. (ro)