20/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Kamila Anakku yang Istimewa

By: L. Ningsih

KamilaTANGGAL 21 Maret 2016 adalah Hari Down Syndrom sedunia. Itu berarti anakku Kamila menginjak usia 6 tahun, tepatnya nanti 14 Mei 2016. Teringat dulu dia lahir ke dunia dengan suara tangisan yang begitu kencang menandakan dia bayi yang sangat sehat.

Aku merawatnya tanpa mengenal lelah hingga tak terasa dia sudah berusia 7 bulan. Dalam usia inilah Kamila mulai sakit pilek dan panas kemudian kami bawa ke dokter. Pileknya sembuh tapi panasnya tidak kunjung turun.

Sampai akhirnya aku bawa ke dokter lain. Di situ Kamila diambil darah dan kencingnya untuk diperiksa. Tapi hasilnya negative, begitu seterusnya aku berpindah dokter karena ingin memastikan penyakit anakku tapi hasilnya sama saja Kamila tidak ada penyakitnya.

Walaupun panas Kamila belum kunjung turun, aku tidak berputus asa sampai pada akhirnya aku diberitahu temanku untuk membawa Kamila ke terapi akupuntur dan aku mencoba untuk menelateni memijatkan Kamila karena dari sekian dokter yang sudah aku datangi menyampaikan bila Kamila tidak ada penyakitnya.

Sampai tak terasa Kamila sudah berusia 18 bulan. Di usia inilah Kamila benar-benar berubah wajahnya. Sebagai seorang ibu yang melahirkannya aku sempat terpukul melihat perubahan wajah anakku dan dokter yang aku datangi juga mengatakan kalau anakku mengalami down syndrome. Aku sempat kecewa, sedih dan menangis. Aku rasanya belum bisa menata hatiku. Aku tidak mengerti apa yang harus aku lakukan.

Di saat inilah pertolongan Allah datang. Kamila sembuh. Kebahagiaan luar biasa aku rasakan karena 11 bulan bukan waktu yang pendek untuk mengupayakan kesembuhan Kamila. Akhirnya kepedihan dan kepenatan yang selama ini kami rasakan serasa hilang dengan kesembuhan Kamila dari panasnya.

Akhirnya seiring berjalannya waktu, tak terasa Kamila berusia 2 tahun dia mulai bisa berjalan. Terimakasih ya Allah, malaikat kecilku sudah bisa berjalan. Beban yang ada di pundakku sedikit demi sedikit berkurang.

Namun masih ada yang terasa kurang karena anakku yang istimewa belum bisa bicara. Akhirnya aku mencari informasi apa yang harus aku lakukan terhadap Kamila. Akhirnya informasi dari beberapa dokter telah aku dapatkan. Mulailah Kamila aku terapikan.

Yaitu terapi yang pertama kali adalah terapi wicara. Selain itu aku juga bawa dia ke klinik okupasi, untuk terapi kemandirian. Kamila juga melaksanakan terapi akupuntur.

Ternyata tidak cukup di situ Kamila ingin sekolah seperti kakak-kakaknya. Mulailah aku bingung aku sekolahkan dimana anak ini. Aku cari informasi lagi. Hampir satu tahun lamanya aku cari informasi tentang sekolah untuk Kamila. Ternyata aku dapatkan dari tetanggaku yang putranya mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB).

Akhirnya Kamila aku sekolahkan di SLB Putra Mandiri yang mana di sekolah ini gurunya ramah-ramah. Di sekolah ini tidak hanya Kamila yang belajar, tapi aku mamanya juga belajar terutama untuk menata hati. Bahwa Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tidak hanya Kamila tapi masih banyak anak lain yang senasib bahkan ada yang lebih parah dari Kamila. Kini hatiku mulai terbuka. Ternyata di luaran sana masih ada orang yang peduli dengan ABK.

Terimakasih ya Allah, Kau pertemukan aku dengan orang-orang baik yang sayang dengan Kamila. Kini aku tidak merasa sendirian untuk merawat Kamila.

Tanpa terasa Kamila sudah menginjak usia 5 tahun dan dari mulutnya yang mungil mulai berucap Mama.. Mama…

Es batu segunung mencair serasa menyejukkan hatiku. Anakku yang istimewa bisa memanggilku Mama. Air mataku berlinang tak tertahankan mendengar panggilan itu. “Sayangku kamu bisa manggil Mama nak, ayo ulangi lagi, mama ingin mendengarnya,” ucapku.

Dia sambil ketawa-ketawa mengucapkan Mama, dia juga merasa senang bisa memanggilku mama.

Walaupun sekarang dia sudah menginjak usia 6 tahun dan bisanya masih memanggil Mama tapi aku bahagia sekali. Dia tumbuh menjadi anak yang sehat dan lucu. Dia juga mulai belajar pakai baju sendiri, belajar makan tanpa disuapi serta bisa mengaji walaupun hanya berbunyi Wa Wa Wa Wa…

“Mama ingin kamu tumbuh tidak sekedar tumbuh nak, tapi punya sesuatu yang bisa kamu banggakan.”

Mama selalu berharap kamu dan ABK lainnya bisa diterima di tengah-tengah masyarakat secara utuh dan tidak dipandang sebelah mata. Mereka juga punya hak yang sama untuk hidup.

“Sayangku mama bangga sama kamu, mama ingin menjadi mama yang lebih baik lagi. Tidak hanya sekedar menjadi orangtua tapi sekaligus menjadi sahabatmu. Semoga kelak kamu menjadi orang yang hebat, Aamiin…” (***)

Thank you for my beloved teachers: Bu Ajeng, Bu Ida, Bu Susan, Bu Ainun, Pak Irvan, Bu Lia, Bu Mida, Bu Intan, Bu Sita, Bu Tiwi dan Ustadz Zaid.