22/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Selamatkan Sumber Mata Air dengan Penanaman Bambu

Kabid Rehabilitasi Lahan Penghutanan Sosial (RLPS) Dinas Kehutanan Jatim, Ir. H. Putut Adji Surjanto, MMSurabaya, KabarGress.com – Perubahan iklim pemanasan global pengaruhnya cukup terasa bagi kehidupan. Titik sumber mata air di provinsi Jatim terus mengalami penurunan, dan bahkan diantaranya banyak mati. Fenomena ini tentunya harus dapat disikapi bersama supaya antara masyarakat, Pemerintah Pusat, Pemprov Jatim dan Kabupaten. Lalu, langkah apa yang dilakukan Dinas Kehutanan selaku Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) Jatim dan staf Pakde Karwo selaku gubernur Jatim.

Kadis Kehutanan Jatim, H. Indra Wiragana, SH, lewat Kabid Rehabilitasi Lahan Penghutanan Sosial (RLPS) Dinas Kehutanan Jatim, Ir. H. Putut Adji Surjanto, MM, menuturkan sejalan diberlakukan UU Nomor 23 Tahun 2014, telah lakukan program pembangunan sektor kehutanan. “Antara lain penghijauan lingkungan yang di dalamnya melibatkan partisipasi masyarakat. Hasilnya, lahan kritis di Jatim secara berkala berhasil dikurangi secara signifikan,” kata Putut Adji, Senin (14/3/2016), di ruang kerjanya.

Puncaknya, keberhasilan Dinas Kehutanan Jatim dalam pembangunan sektor kehutanan Jatim dapat penghargaan dari Presiden Joko Widodo, atas kerja keras serta dedikasinya menghijaukan Jatim hijau royo rapat oleh pepohonan. Program penghijauan lingkungan yang telah mampu menumbuhkan kesadaran berfikir masyarakat tentang pentingnya menanam pohon pada lahan kritis menuju lestari yang diwariskan untuk anak cucu generasi mendatang dilaksanakan secara masif.

“Saya dalam setiap kesempatan menghimbau serta mengajak berbagai pihak untuk bersama-sama menghutankan lahan yang miskin tanaman dengan penanaman bibit pohon,” ajaknya.
Berdayakan Penyuluh

Dalam rangka maksimalisasi pelaksanaan program pembangunan kehutanan di Jatim menurut Kabid RLPS ini pihaknya tengah lakukan penguatan koordinasi dengan berbagai pihak, dalam hal ini dinas teknis Kabupaten, stakeholder, para penyuluh kehutanan dari pegawai negeri sipil (PKPNS) dan Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM). Koordinasi dimaksud untuk mensinergikan pelaksanakan pembangunan kehutanan, termasuk pengembangan penanaman pohon bambu di Jatim dengan sistem sivil kultur yang benar potensi hidup dan tumbuhnya tinggi.

“Pohon bambu nilai hidrologinya cukup tinggi, sehingga sangat bagus untuk menghidupkan sumber sumber air yang baru,” imbuh pejabat bersahaja ini, seraya menambahkan, bambu selain sangat bagus untuk konservasi, nilai komersialnya ke depan cukup menjanjikan. Sebab, di tengah semakin dibatasi penggunaan kayu sebagai bahan industri, bambu merupakan bahan hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang dibutuhkan masyarakat pengrajin permebelan atau furniture di Jatim.

Jatim yang berdasar data BPS terdiri 664 Kecamatan dan 8.505 kelurahan/desa tersebut cukup menjanjikan dapat merecovery kembali lingkungan lestari. Dengan asumsi untuk setiap desa saja menyediakan lahan 5 hektare saja, maka upaya membuat sumber air baru akan lebih cepat bisa diwujudkan.

“Kami mas, akan terus mendorong penanaman pohon bambu untuk penyelamatan sumber mata air di Jatim. Tentunya, mengajak pelaku usaha agar berkenan menyalurkan dana Corporate Responsbilitinya kepada petani untuk percepatan program pelaksanaan sumber mata air di Jatim,” tandas Putut Adji. (hery)

Teks foto: Kabid Rehabilitasi Lahan Penghutanan Sosial (RLPS) Dinas Kehutanan Jatim, Ir. H. Putut Adji Surjanto, MM.