31/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Surabaya Terpilih Tuan Rumah Kongres Bedah Syaraf Internasional

Dekan Fakultas Kedokteran Unair, Prof. Dr. dr. Sutoyo, SpU(K) (tengah) bersama Congress President, Prof. Dr. dr. Abdul Hafid Bajamal, Sp.BS(K) kananSurabaya, KabarGress.com – Operasi bedah syaraf dengan menggunakan 3 dimensi (3D), kini dikenalkan di Surabaya. Metode medis yang tergolong baru dan berkompeten ini diyakini sebagai bagian dari terobosan masa depan dalam hal teknologi operasi bedah syaraf.

“Operasi bedah saraf 3D ini pertama di Indonesia dan memiliki standar internasional dengan fasilitas penunjang advanced mikroskop dan alat-alat modern,” ungkap Prof. Dr. dr. Abdul Hafid Bajamal, Sp, BS (K), selaku Congress Presiden Asian Congress Of Neurological Surgeons (ACNS), Selasa (8/3/2016).

Menurutnya, konsep 3D dalam bidang medis ini tidak semua negara memilikinya. Khusus di benua Asia, utamanya di Asia Tenggara, penggunaan metode 3D pada operasi bedah syaraf adalah kali pertama dikenalkan di Indonesia.

“Dan Kota Surabaya mendapat penghormatan menjadi tuan rumah penyelenggaraan kongres internasional ahli bedah syaraf Asian Congress Of Neurological Surgeons (ACNS). Ini adalah yang pertama di Asia Tenggara dan yang terlengkap,” jelas Abdul Hafid Bajamal.

Dengan adanya pertemuan para ahli bedah saraf seluruh Asia ini, diharapkan melahirkan tenaga bedah Asia yang lebih berkompeten di masa depan. Pada ajang yang digelar sejak 8-13 Maret 2016 di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya yang dihadiri 44 negara dengan 120 pembicara itu juga dikenalkan teknologi terbaru dalam dunia kedokteran.

“Khususnya di bidang bedah syaraf, dan merupakan operasi bedah saraf pertama di Indonesia yang berstandar internasional dengan menggunakan konsep 3D. Kongres ini, sekaligus menjadi ajang paparan para tenaga bedah tanah air dalam penanganan medis yang belum dilakukan tenaga medis luar negeri,” urainya.

Dijelaskan, dijadikannya Kota Surabaya sebagai tuan rumah pertemuan 2 tahunan para ahli beda ini, sekaligus menjawab tantangan dunia medis yang semakin maju dan berkembang. Dengan begitu, akan menunjukkan Indonesia telah memiliki peralatan dan tenaga medis yang tidak kalah dengan luar negeri.

“Setiap kongres ini akan ada alih teknologi, pengalaman di suatu negara dengan ahlinya dipaparkan. Hal ini bisa diterapkan, dan menjadi media pembelajaran dari pengalaman dokter-dokter serta ahli bedah syaraf lainnya,” ujar Abdul Hafid Bajamal.

Hal senada juga disampaikan Dekan FK Unair, Prof. Dr Sutoyo, SpU (K). Dikatakan, pertemuan internasional ahli bedah syaraf di Surabaya ini menjadi pembuktian atas kemampuan Indonesia dibidang teknologi medis. Ia juga berharap, hadirnya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) bukan menjadi sebuah kekhawatiran, melainkan kesempatan yang harus diraih. “Jadi, tidak perlu takut, karena kemampuan dokter yang ditunjang peralatan lengkap dan canggih akan menjadikan tenaga medis tanah air petut dibanggakan,” urai Sutoyo.

Ia mengungkapkan, masih banyak masyarakat Indonesia yang lebih memilih berobat ke luar negeri daripada di negeri sendiri. Menurutnya, hal tersebut adalah sebuah pemborosan yang seharusnya tidak perlu terjadi. “Karena, dari segi kemampuan dokter dalam negeri sama dibandingkan dokter asing. Ngapain berobat di luar negeri? Dokter kita mampu, alat medis kita juga canggih-canggih,” pungkasnya. (ro)

Teks foto: Dekan Fakultas Kedokteran Unair, Prof. Dr. dr. Sutoyo, SpU(K) (tengah) bersama Congress President, Prof. Dr. dr. Abdul Hafid Bajamal, Sp.BS(K) (kanan).