31/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Bosch Berinvestasi pada 280 Sosok Berkualitas Pemimpin

* Dari jenjang trainee hingga anggota dewan manajemen

„ – Kesempatan menduduki jenjang eksekutif di masa depan di lebih dari 30 negara

„ – Penambahan di Asia Tenggara dengan 34 trainee

„ – Untuk pertama kalinya menggelar program pelatihan di Afrika

„ – Christoph Kübel, direktur hubungan industri Bosch: “Para pemimpin bisnis kami harus mampu menjadi navigator dan sumber inspirasi.”

BOSCHStuttgart, Jerman, KabarGress.com – Bosch berinvestasi pada calon-calon eksekutif di masa depan: tahun ini, penyedia layanan dan teknologi global tersebut berencana mengisi sekitar 280 posisi melalui program pelatihan untuk manajer tingkat junior (Junior Managers Program). Tahapan pencarian sedang dijalankan untuk menjaring para lulusan perguruan tinggi yang memiliki nilai perkuliahan di atas rata-rata. Bosch mengajak mereka bergabung dalam Junior Managers Program (JMP), sebagai sarana menyiapkan diri menduduki posisi eksekutif. “Pemimpin bisnis masa depan harus mampu menjadi navigator dan sumber inspirasi,” ujar Christoph Kübel, anggota dewan manajemen dan direktur hubungan industri Robert Bosch GmbH.

”Untuk itu, kami membentuk para trainee agar dapat memimpin di dunia kerja yang saling terhubung, membekali mereka dengan pedoman, dan saling bekerja sama untuk menciptakan keunggulan.” Sebagian besar posisi berlokasi di Jerman (65) dan Tiongkok (41). Perusahaan juga memperluas program di wilayah Asia Tenggara dengan menyediakan sekitar 34 posisi – enam di antaranya berlokasi di Indonesia. Untuk pertama kalinya pula, empat kandidat akan direkrut dari Afrika.

Kübel menambahkan: “Kami mencari individu-individu dengan kecakapan diri yang lengkap, berkeahlian TI dan software, serta lulusan teknik dan bisnis.” JMP menjadi batu loncatan karir yang tepat. Perlu diketahui, empat dari anggota dewan manajemen Bosch yang menjabat saat ini, dulunya berawal dari jenjang trainee.

Perusahaan akan secepatnya mengumumkan jumlah lulusan perguruan tinggi yang hendak direkrut untuk mengikuti pelatihan.

Tanggung jawab kepemimpinan hanya dalam beberapa tahun

Selama 30 tahun, JMP telah menjalankan metode berkesinambungan guna mempersiapkan bakat-bakat muda berkualitas agar mampu mengerjakan tugas-tugas kepemimpinan. Salah satu kekhususan pelatihan ini adalah program modul secara perseorangan (tidak seragam) yang dikembangkan bersama antara trainee dengan mentor dari manajemen senior. Sebagaimana dijelaskan oleh Kübel: “Dari tahapan bawah ke atas, para peserta bisa memahami budaya perusahaan yang beriorentasi pada nilai-nilai dan keberlanjutan ketimbang maksimalisasi keuntungan jangka pendek.”

Selama mengikuti JMP, peserta secara berkala berotasi mendapatkan pengalaman di pabrik, berganti divisi dan departemen korporasi. Atas inisiatif sendiri, mereka bertindak untuk menyelesaikan tugas terkait pekerjaan sehari-hari ataupun proyek tertentu serta memiliki akses ke anggaran pelatihan mereka sendiri. Menurut Kübel, tujuannya agar para eksekutif junior tersebut dapat memikul tanggung jawab kepemimpinan di sebuah departemen dalam waktu delapan tahun setelah bergabung dalam JMP.

Karenanya sejak awal para peserta mendapatkan kontrak kerja yang bersifat permanen. Mengingat kepopuleran program ini, pertama-tama mereka harus membuktikan diri dalam proses seleksi yang intensif: di Jerman saja, satu posisi trainee diperebutkan oleh 100 pelamar setiap tahunnya. JMP menawarkan beragam titik fokus pelatihan, mulai dari riset dan pengembangan atau teknologi informasi hingga manajemen akuntansi, logistik, technical sales dan pembelian. JMP berlangsung selama 18 sampai 24 bulan termasuk kesempatan ditempatkan di luar negara asal peserta.

Wanita berkedudukan sebagai pemimpin: dibutuhkan pelamar perempuan

Kandidat wanita yang memenuhi syarat berkesempatan besar diterima dalam JMP. Bosch ingin menambah jumlah wanita yang duduk sebagai pemimpin hingga 20 persen di 2020 mendatang, dan ini tentunya bergantung kepada para eksekutif junior untuk mewujudkan target tersebut. Salah satunya, Theresa Best, lulusan teknologi informasi bisnis berusia 26 tahun. Ia baru saja memulai program pelatihannya dan bekerja di bagian Sistem Informasi dan Pelayanan sektor korporasi di kantor Bosch yang berlokasi di Stuttgart-Feuerbach. “Sebagai tugas pertama, saya membantu mengawasi pengenalan program software perkantoran untuk 240.000 work station,” tutur Best, dan menambahkan rencana masa depannya: “Singapura menjadi tujuan karir saya berikutnya.”

Sementara di Indonesia, salah satu trainee, Rhea Adri, ditempatkan di Departemen Sumber Daya Manusia di Jakarta. “Selama masa pelatihan, saya berkesempatan mengembangkan skema manajemen bagi Line Leaders di pabrik Car Multimedia di Penang,” papar Adri, sedangkan untuk proyek berikutnya: “Saya akan terlibat dalam tim untuk pendirian pabrik Automotive Electronics di Indonesia.”

Membangun jaringan – memikul tanggung jawab

Setelah JMP selesai, para trainee biasanya mengambil posisi spesialis yang cukup menantang untuk menyiapkan diri menjalani karir eksekutif nan sukses. Beberapa dari mereka bahkan dengan segera memikul tanggung jawab lebih, seperti yang dilakukan Florian Bankoley, 35 tahun. Direktur pelaksana sebuah anak perusahaan Bosch untuk solusi mobilitas online ini melihat JMP sebagai kesempatan besar: “Dalam jangka waktu singkat, saya dapat mengetahui bagian yang berbeda-beda dari perusahaan. Bahkan sampai sekarang, pekerjaan saya masih diuntungkan berkat pengalaman pelatihan itu, termasuk jejaring lintas divisi yang terbangun semasa mengikuti JMP.”

CFO Asenkerschbaumer: Bosch berfokus pada kualitas diri

“Para calon kepala departemen memiliki peluang karir yang menarik,” kata Dr. Stefan Asenkerschbaumer, wakil ketua dewan manajemen Robert Bosch GmbH. Ia juga mantan peserta JMP dan berhasil menapak hingga ke jenjang dewan manajemen. “Bagi para trainee, karir hendaknya tidak menjadi tujuan utama,” ujar Asenkerschbaumer yang juga mengepalai bagian keuangan. Gabungan kepribadian dan keahlian profesional menjadi kunci pengembangan profesi.

Asenkerschbaumer menyarankan: “Siapa pun yang tertarik untuk memiliki karir kepemimpinan masa depan di perusahaan kami, harus mampu memotivasi orang, memiliki pola pikir kewirausahaan, dan mampu bekerja di dalam tim. Semua itu merupakan kualifikasi ideal untuk menjadi seorang eksekutif di Bosch.”

Pengalaman internasional untuk dunia kerja yang saling terhubung

Pria asal Kolombia, Sergio Amaya, bersiap-siap untuk penugasan internasionalnya lebih lanjut pasca menjalani masa JMP. Sekarang ia ditempatkan di Leonberg, Jerman, dan sedang membekali diri untuk mengepalai departemen driver assistance systems (yang terdiri dari 35 anggota) di kantor Plymouth, AS, mulai Maret tahun ini. “Saya berpengalaman menjalankan kolaborasi internasional ketika diposisikan di Perancis dan Jepang selama mengikuti JMP. Bekal itu akan sangat membantu saya ketika mengemban tanggung jawab selaku direktur proyek nantinya. Bagaimana pun juga, kerja sama tim lintas negara menjadi bagian dari pekerjaan terkait program pengembangan.” Alumni JMP Lisa Maria John kini menjabat sebagai eksekutif dalam pengembangan piranti lunak driver assistance system di kantor Bosch yang berlokasi di Bangalore, India. Spesialis software berusia 31 tahun ini melihat konsep dukungan menjadi kekuatan program pelatihan. “Dukungan dari manajer SDM, ditambah keleluasaan berbagi secara langsung dengan mentor dan rekan-rekan sepanjang menjalani berbagai tahapan pelatihan, jelas membantu melejitkan pengembangan diri saya. Nasihat para manajer senior yang kaya pengalaman benar-benar melengkapi diri saya untuk memulai karir kepemimpinan. Sampai hari ini kami masih menjalin hubungan baik.” (ro)