31/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Pertobatan Teroris Bukti Ajaran Radikalisme Sesat

Oleh: Sugiharto

SugihartoJauh sebelum aksi terorisme oleh Daulah Islamiyah wa Syam (DAESH) atau juga sering disebut Islamic State of Irak-Syuriah (ISIS), aksi teroris sudah terjadi sejak Era Presiden Soeharto, Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden Megawati Soekarno Putri hingga era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Korban nyawa dan luka-luka sudah banyak.

Di era Presiden Joko Widodo, aksi teroris terjadi di Jalan M. Thamrin, sekitar Plasa Sarinah, HYPERLINK “https://id.wikipedia.org/wiki/14_Januari” \o “14 Januari” 14 Januari HYPERLINK “https://id.wikipedia.org/wiki/2016” \o “2016” 2016. Itulah kali pertama aksi teror di era Presiden Joko Widodo. Jaringan kelompok ISIS di Indonesia bertanggungjawab atas bom yang menewaskan 4 pelaku dan beberapa warga sipil.

Sedih, gregetan bercampur marah terhadap perbuatan para teroris. Apalagi sejak dulu mereka selalu dan selalu mengatasnamakan agama. Selalu mengatasnamakan jihad, disamping mereka beralasan soal keadilan dan berbagai masalah sosial terkait dengan gerakan dan kepentingan kelompoknya. Sadar atau tidak, perbuatan teroris tergolong brutal, bengis, keji, tidak berprikemanusiaan. Sejumlah nyawa manusia yang tidak berdosa, dan tidak tahu apa-apa, menjadi korban. Aksi kekerasan ISIS dan gerakan radikal lainnya itu justru tidak membuat simpati umat.

Menurut konteks pemahaman mereka, aksi teror, aksi kekerasan yang mereka lakukan adalah benar. Kalo benar mengapa agama mengutuk keras? Mengapa umat mengutuk!? Yang pasti, tindakan mereka bertentangan dengan nilai-nilai yang telah diajarkan agama.

Para ulama menegaskan, tidak ada satu ayat pun yang membenarkan aksi teror. Ajaran agama Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin artinya Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan dan jin, apalagi sesama manusia.

Teror bom dan aksi kekerasan oleh ISIS dianggap keblinger, dan menyesatkan umat. Maka umat hendaknya tidak mengikuti ajaran ISIS dan ajaran kelompok radikal. Termasuk tidak mengikuti aliran-aliran lain yang bertentangan dengan agama. Seperti ajaran kelompok Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar). Oleh para ulama, ajaran Gafatar digolongkan sesat dan menyesatkan. Terhadap gerakan syiah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan agar umat Islam meningkatkan kewaspadaan tentang kemungkinan beredarnya kelompok Syiah yang ekstrim. Pro kontra keberadaan ajaran syiah menimbulkan gesekan antar umat Islam, Jangan sampai ajaran syiah menyinggung umat Islam di Indonesia yang mayoritas umat Islam menganut paham ahlus sunnah wal jamaah.

Sudah waktunya masyarakat mampu memilah ajaran yang benar dan mana ajaran sesat. Jangan mudah terpancing mengikuti ajaran sesaat. Gerakan teroris sudah pasti untuk meneror banyak pihak. Diluar kelompok mereka, dianggap kafir. Tidak sesuai dengan ajaran mereka. Aksinya selalu menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan. Tidak peduli terhadap kepentingan orang banyak. Yang ada adalah pemahaman agama yang salah dan dangkal. Mereka memperbolehkan cara biadab dan terhadap orang diluar kelompoknya. Tindakan mereka dapat menyebabkan perpecahan umat.

Dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tindakan mereka berlawanan dengan nilai-nilai Pancasila. Selama NKRI ini masih berdiri, seluruh warga negara Indonesia tanpa kecuali, harus memahami dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila, tentunya juga nilai-nilai agama yang diyakini.

Siapapun yang alergi dengan Pancasila, siapapun yang menentang Pancasila, benci terhadap Pancasila, maka harus dibina, terus dibina untuk disadarkan. Kalo toh dibina tidak bisa, tidak sadar bahwa Pancasila adalah dasar NKRI, maka dengan sukarela mereka harus hengkang dari NKRI. Mereka bakal berhadapan dengan elemen masyarakat yang tidak rela Pancasila dilecehkan.

Seharusnya pemahaman radikalisme, terorisme, aliran menyimpang dan anti Pancasila seperti itu dibuang secepatnya. Kendati tidak frontal tetapi perlahan-lahan tapi pasti, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman terhadap ajaran agama yang diyakini dan agama lain. Solidaritas antar agama dengan saling menghormati aqidah masing-masing sangat dibutuhkan dalam membangun terwujudnya negeri baldatun toyyibatun warobbun ghofur (negara yang baik dan selalu dalam ampunan Allah) bukan yang sebaliknya, hanya keresahan dan permusuhan saja.

Beberapa kelompok teroris Imam Samudra dan Amrozi juga telah menyatakan pertobatan secara terbuka di media televisi. Itu bukti ajaran radikalisme yang diikutinya selama itu ternyata salah, sesat. Sangat bersyukur, apabila pertobatan itu disusul para teroris, kelompok radikal dan aliran sesat lainnya yang masih melakukan gerakan sembunyi-sembunyi di daerah. Ini demi tegaknya kebersamaan membangun negeri bumi Alloh SWT. (*)

– Penulis adalah Pemberdaya Masyarakat Desa
dan Fungsionaris MPC Pemuda Pancasila Kab. Ngawi