25/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Harga Properti Surabaya Semakin Terjangkau

Syarifuddin BassaraSurabaya, KabarGress.com – Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Primer dan Sekunder menunjukkan masih relatif stabilnya harga properti pada triwulan IV-2016. Perkembangan Indikator Harga Properti Residensial (IHPR) Pasar Primer mencatatkan perlambatan pertumbuhan pada level 0,9% jika dibandingkan pada triwulan sebelumnya (qtq). Begitu juga dengan rerata harga properti sekunder, yang menunjukkan kenaikan sebesar 0,67% (qtq).

Deputi Kepala Perwakilan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Propinsi Jawa Timur, Syarifuddin Bassara, melalui rilisnya mengungkapkan rasio harga rumah (primer) terhadap UMK, untuk mengukur daya beli masyarakat Kota Surabaya terhadap sektor properti, berada pada level 32,53 kali UMK. Hal ini mengindikasikan daya beli masyarakat (khususnya kalangan menengah ke bawah) terhadap properti di Kota Surabaya dan sekitarnya, mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu pada level 36,02 kali UMK. Kondisi yang disebabkan dari kenaikan UMK ini diyakini akan berlanjut hingga triwulan I-2016 yang diperkirakan akan semakin turun hingga level 29,09 kali UMK. Daya beli juga didukung dengan turunnya rata-rata suku bunga KPR dari 11,4% menjadi 11,2%.

Kenaikan harga properti primer didorong oleh laju pertumbuhan bangunan. Hal tersebut terkonfirmasi oleh rasio harga tanah dibandingkan terhadap harga rumah yang terpantau turun menjadi 49,9% (qtq) pada triwulan IV-2015. Kenaikan harga bangunan masih menjadi penyebab terbesar kenaikan harga bangunan, disusul oleh adanya kenaikan upah kerja, harga bahan bakar minyak, biaya perizinan dan penambahan fasum perumahan.

Berbeda dengan properti sekunder, peningkatan harga properti secara dominan disebabkan oleh kenaikan harga tanah. Kenaikan harga tanah tercatat sebesar 1,07% (qtq) dengan peningkatan pada rasio harga tanah dibandingkan terhadap harga rumah pada triwulan laporan menjadi 0,54 kali. Hal ini disebabkan harga konstruksi untuk hunian rumah menengah atas sudah cukup tinggi sehingga harga rumah sudah tidak dapat naik terlalu Kenaikan harga properti primer utamanya didorong oleh kenaikan pada rumah tipe menengah. Rumah tipe menengah (lebih dari 36m2 sampai dengan 70m2) menyumbang kenaikan sebesar 1,08% (qtq), sedangkan rumah tipe kecil (<36m2) dan rumah tipe besar (>70m2) masing-masing menyumbang kenaikan 0,91% (qtq) dan 0,61% (qtq). Pada triwulan I-2016, harga rumah diprediksi mengalami kenaikan sebesar 0,6% (qtq) dipengaruhi oleh perubahan harga rumah tipe kecil (1,53%), tipe menengah (0,30%) dan besar (-0,15%).

Untuk harga properti sekunder, rumah tipe menengah dan menengah atas memiliki kontribusi yang hampir sama. Rumah tipe menengah mengalami peningkatan 0,69% (qtq) lebih tinggi dibandingkan tipe menengah atas, yaitu 0,65% (qtq) yang mengindikasikan tipe menengah lebih diminati. Kondisi ini terkonfirmasi dimana rumah dengan harga jual di bawah Rp1,5 miliar memilik waktu penjualan 3 – 6 bulan, sedangkan rumah dengna harga jual di atas Rp2 miliar mengalami banyak koreksi harga karena waktu penjualannya yang relatif lama. Secara keseluruhan, kecepatan penjualan properti sekunder di Surabaya mengalami perlambatan dari sebelumnya 1 – 3 bulan menjadi 3 – 6 bulan yang mendorong penjual dan agen properti mengkoreksi harga.

Berdasarkan pembagian wilayah, wilayah Surabaya Selatan dan Timur mendorong kenaikan harga yang dominan. Hal ini disebabkan perkembangan di Surabaya Timur dengan munculnya berbagai aktivitas komersil seperti pusat bisnis kuliner dan tempat makan di sepanjang Jl. Kertajaya yang mengarah ke pusat pendidikan di Surabaya Timur. Selain itu juga kemunculan pusat retail serta dibukanya ring road turut memicu kenaikan harga. Wilayah Surabaya Utara terpantau stagnan dan cenderung menurun disebabkan persepsi masyarakat terhadap wilayah utara denga citra lokasi pesisir sebagai pusat niaga, pergudangan dan bongkar muat yang berujung menurunkan prefensi masyarakat untuk bermukim di sana.

Kenaikan harga rumah pembuatan baru (Replacement Cost of New/RCN) untuk properti sekunder terindikasi melambat. RCN meningkat menjadi 0,66% (qtq), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Faktor yang mempengaruhi peningkatan triwulan ini antara lain kenaikan harga bangunan dan biaya pembangunan lainnya seperti tenaga kerja dan biaya bahan bakar. (ro)

Teks foto: Syarifuddin Bassara.