01/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Muhammadiyah Prihatin Keamanan dan Kenyamanan Dunia Anak-anak Indonesia

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. H. Haedar Nashir, M.SiSurabaya, KabarGress.Com – Organisasi massa (ormas) Muhammadiyah mengaku prihatin dengan apa yang dihadapi dunia anak-anak Indonesia dewasa ini. Dunia yang idealnya penuh dengan keceriaan, riang, gembira, bermain dengan anak-anak sebayanya, realitasnya justru diliputi rasa khawatir, ketakutan dan trauma berkepanjangan karena lingkungan yang tidak aman dan tindak kekerasan yang dialaminya.

“Data Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat interval 2010-2014, dari 179 kota/kabupaten dan 34 propinsi didapati jumlah anak korban kekerasan seksual sebanyak 21,6 juta kasus dan 58 persen dari total kekerasan terhadap anak korban adalah kekerasan seksual dan itu semua berkaitan dengan pedofilia,” ungkap Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. H. Haedar Nashir, M.Si, di sela-sela acara pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ulama Tarjih Muhammadiyah, di kampus Universitas Muhammadiyah Surabaya, Sabtu (30/1/2016).

Menurutnya, angka tersebut merupakan jumlah yang sangat mencengangkan sekaligus memprihatinkan bagi keamanan anak di Indonesia. Selain itu, walaupun tahun 2016 masih berjalan beberapa minggu, namun Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) merilis terdapat 8 kasus kejahatan anak dan perempuan, jumlah pelanggaran tersebut masih didominasi dengan kejahatan seksual terhadap anak.

Kekerasan pada anak sudah sangat mengerikan, bahkan sudah sampai pada tahap darurat yang justru dilakukan orang-orang terdekat yang seharusnya berkewajiban melindunginya, dan dilakukan di tempat yang seharusnya menjadi surga dan tempat paling aman bagi anak, yaitu rumah dan sekolah.

“Berangkat dari realitas tersebut, Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid mempunyai perhatian khusus atas apa yang terjadi. Bagi Muhammadiyah kondisi ini adalah isu serius yang harus segera ditangani. Fiqih anak adalah tawaran yang sedang dan akan digodok di acara Rakernas. Harapannya banyak hal yang bisa dilakukan untuk mereduksi persoalan tersebut,” terangnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya, Dr. dr. Sukadiono, MM, mengatakan acara ini merupakan acara penting bagi bangsa ini. “Ratusan ulama Muhammadiyah se Indonesia berkumpul untuk merumuskan bagaimana Indonesia ke depan. Selain isu anak, isu terorisme, ketidakadilan dan hal strategis lain dibahas dalam forum ini. Harapannya melalui Rakernas ini, akan lebih banyak yang dilakukan Muhammadiyah untuk bangsa, negara dan kemanusiaan universal,” ujarnya.

Pada acara kali ini ada seremonial pemakaian baju koko, peci dan sarung kepada beberapa anak calon generasi emas. Hal tersebut menjadi tanda bahwa sejak dini penting untuk membentengi anak-anak dari kejahatan dari luar dan kejahatan dari dalam.

“Kejahatan dari luar yang dimaksud adalah pelecehan seksual dan sejenisnya. Sedangkan gangguan dari dalam adalah pentingnya sejak dini ditanamkan pendidikan moral agama agar tidak mudah terbawa arus negatif zaman. Baju koko, peci dan sarung adalah simbol dari moralitas. Moralitas Jawa yang selaras dengan moral agama,” imbuhnya. (ro)

Teks foto: Dr. H. Haedar Nashir, M.Si.