01/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Pengukuhan 3 Guru Besar Unair

Prof. Dr. drh. Rr. Sri Pantja Madyawati, M.Si., Prof. Dr. I Made Narsa, SE., M.Si., Ak., CA. dan Prof. Dr. drh. Anwar Ma ruf, M.Kes.

Surabaya, KabarGress.Com – Prof. Dr. drh. Rr. Sri Pantja Madyawati, M.Si., dari bidang kedokteran hewan, Prof. Dr. I Made Narsa, SE., M.Si., Ak., CA. dari bidang akuntansi dan Prof. Dr. drh. Anwar Ma ruf, M.Kes., dari bidang kedokteran hewan, akan dikukuhkan menjadi guru besar Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, pada Sabtu (16/1/2016).

Guru Besar dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Unair, Sri Pantja Madyawati, menjelaskan terkait penguatan ilmu fisiologi reproduksi veteriner untuk mempertahankan diversitas fauna dalam mencapai swasembada ternak sapi Indonesia.

“Isu tentang ketersediaan daging sapi di Indonesia selalu berulang, terutama menjelang hari-hari besar hingga menyebabkan harga jual di pasar mencapai Rp112.500 per kilogram. Hal inilah yang menjadi keprihatinan banyak kalangan, termasuk akademisi,” terangnya.

Menurut Sri, upaya untuk meningkatkan produktivitas dan populasi sapi agar bisa memenuhi kebutuhan suplai protein hewani, maka ada tiga faktor yaitu breeding atau pengembangbiakan menggunakan bibit unggul, feeding atau makanan dan manajemen.

“Terkait upaya pemerintah dalam penanggulangan stok sapi yang sering kali kekurangan, menurut saya pemerintah belum menyinkronkan di semua lini, padahal tim perguruan tinggi memiliki tim expert,” timpalnya.

Sementara itu, Guru besar Anwar Maruf menjelaskan tentang inovasi pengendalian penyakit dan peningkatan produksi ternak melalui komunikasi sel secara fisiologi veteriner.

“Banyak masyarakat yang menilai jika makan daging ayam akan kolestrol, padahal pola peternak yang memberikan pakan kapan saja yang menjadi penyebabnya, sehingga pemerintah maupun universitas bisa memberikan solusi untuk menangani hal tersebut,” katanya.

Sedangkan Guru Besar Akuntansi, I Made Narsa mengatakan sesuai data pada tahun 2014 tentang laporan pemerintah daerah dari 504 yang menyerahkan, 251 atau setara dengan 49,8 persen mendapatkan catatan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

“Saya mencurigai bahwa apakah benar laporan-laporan dari pemerintah benar-benar bersih hingga mendapat WTP, padahal ada beberapa daerah yang mendapat WTP lalu beberapa bulan setelahnya didapati pejabat di lingkungan pemerintah tersebut korupsi,” tandasnya. (ro)

Teks foto: Prof. Dr. drh. Rr. Sri Pantja Madyawati, M.Si., dari bidang kedokteran hewan, Prof. Dr. I Made Narsa, SE., M.Si., Ak., CA. dari bidang akuntansi dan Prof. Dr. drh. Anwar Ma ruf, M.Kes., dari bidang kedokteran hewan.