01/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Pencegahan Pekerja Anak melalui Pameran Kreativitas Siswa

Siswa-siswi SDN Mlese, Klaten, Jawa TengahKlaten, KabarGress.com – PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna) melalui payung program tanggung jawab sosial, Sampoerna untuk Indonesia (SUI), bekerja sama dengan STAPA Center, menggelar serangkaian Pameran Kreativitas Siswa di tiga Kabupaten yaitu Lumajang, Rembang, dan Klaten. Pameran ini merupakan bagian dari kegiatan After School Program (ASP) yang bertujuan mengurangi resiko pekerja anak di area pertanian tembakau.

Kegiatan ASP yang dibuat STAPA Center dan Sampoerna untuk Indonesia berangkat dari kesadaran pentingnya hak anak atas pendidikan dan niat mengurangi keterlibatan anak-anak dalam pertanian tembakau. Pada program ASP, anak-anak diberi pendidikan, motivasi, dan keterampilan hidup.

Sebagai puncak kegiatan, STAPA Center bersama pihak sekolah akan menyelenggarakan Student Creativity Exhibition, yakni gebyar pementasan seni dan budaya. Selain itu, ada pula berbagai perlombaan rakyat serta pameran hasil karya seni oleh para peserta program. Kegiatan ini bertujuan memberi tempat bagi siswa agar bisa menampilkan bakat, kemampuan, dan keterampilan mereka yang telah diasah selama mengikuti kegiatan-kegiatan ASP.

“Kami berharap anak-anak mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar dan mengembangkan minat serta bakatnya.  Jika mereka mendapat pendidikan yang tinggi, mereka diharapkan akan mengaplikasikan kemampuannya untuk membangun daerah asalnya.  Karena itu, melalui After School Program, anak-anak diajak untuk mengenal lebih dekat tentang lingkungan dan seni budayanya sehingga mereka bisa mencintai dan menghargainya,” papar Taruli Aritonang, Manager Contributions & CSR Sampoerna.

ASP adalah upaya yang dilakukan oleh SUI dan STAPA Center dalam pencegahan pekerja anak.  Upaya ini melengkapi program pemberdayaan pada keluarga petani tembakau guna memberi pemahaman praktik bertani yang baik.  Acara ini juga sejalan dengan semangat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 59 tahun 2002 tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak (BPTA). Melalui keppres itu, pemerintah mencanangkan Indonesia bebas pekerja anak pada tahun 2022.

ASP menjangkau anak-anak keluarga petani tembakau yang berada di tingkat sekolah dasar (SD) dalam bentuk yaitu kegiatan setelah jam sekolah atau ekstrakulikuler.  Pada tahun 2015, program ini menjangkau 11 (sebelas) Sekolah Dasar Negeri di Kabupaten Lumajang, Rembang dan Klaten.  Siswa yang dilibatkan oleh kegiatan ASP adalah siswa kelas III hingga kelas VI, dengan total sebanyak 825 anak.

Kegiatan ASP ini dibagi menjadi empat kelas peminatan, yaitu kelas pertanian, kelas calistung (baca, tulis, dan berhitung), penjelajah dan seni budaya.  Selain siswa, ASP juga melibatkan guru yang dilatih khusus untuk menyampaikan modul ASP.

Siswa juga mendapat informasi tentang resiko pekerja anak, hak dasar anak, dan motivasi dalam belajar.  Semua materi disampaikan dengan metode belajar di dalam dan luar kelas dengan prinsip Partisipatif, Aktif, Kreatif, Edukatif, dan Menyenangkan (PAKEM).

“Kami berharap melalui pendekatan menyeluruh yang melibatkan semua pihak, program ini dapat mencapai tujuan utama yaitu tidak adanya lagi pekerja anak di ladang pertanian tembakau, tidak hanya pada musim panen tetapi juga setiap saat” ujar Faridah Hanum, Program Manager STAPA Center.

Dukungan untuk program ini tidak hanya berasal dari pihak sekolah dan Dinas Pendidikan, tetapi juga dari Komite sekolah dan wali murid.  Bahkan orangtua sering ikut turut serta pada saat kegiatan dilakukan.  Seperti tujuan awal program, diharapkan kesadaran tentang risiko pekerja anak dan hak pendidikan yang harus didapatkan oleh seorang anak bisa benar-benar diwujudkan dan dukungan terus dilakukan meskipun program telah selesai. (ro)

Teks foto: Siswa-siswi SDN Mlese, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (12/1/2016), menunjukkan kebolehannya setelah mengikuti kegiatan After School Program yang diselenggarakan oleh Sampoerna untuk Indonesia.