26/10/2020

Jadikan yang Terdepan

Pakde Karwo Dorong Saudagar Muhamadiyah Investasi dan Dagang di Jatim

Pakde Karwo Menerima Cinderamata dari Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ir. H. M. NajikhSurabaya, KabarGress.com – Gubernur Jatim Dr. H. Soekarwo mendorong Jaringan Saudagar Muhamadiyah untuk melakukan investasi dagang di Jatim. Pilihan tersebut mengingat PRDB Jatim sebesar 29,45% adalah industri yang hampir memenuhi syarat statistik yakni 30% dari PDRB sebagai provinsi industri. Sejumlah 17% adalah perdagangan besar kecil yang terdiri reparasi mobil sepeda motor serta 14,67% berasal dari on farm atau pertanian, kehutanan dan perikanan. Hal tersebut disampaikan Pakde Karwo sapaan akrab Gubernur Jatim ini pada Jamuan makan malam dengan Jaringan Saudagar Muhamadiyah di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Sabtu Malam (12/12).

Pada paparanya disebutkan, kinerja perdagangan barang dan jasa, ekspor Jatim sebesar Rp357,34 triliiun pada semester I tahun 2015. Sedangkan, impor Jatim sebesar Rp336,45 trilliun sehingga ekspor-impor mencapai Rp693 trilliun.

Menurutnya, dari tahun ke tahun kontribusi PDRB Jatim terhadap PDB Nasional terus meningkat. Pada tahun 2015 triwulan 3 PDRB Jatim menyumbang 14,68 persen dengan nilai absolut sebesar Rp8.578,30 Trillun. Sementara itu, Indeks GINI Ratio di Jatim juga sangat kecil. Ketimpangan antara tingkat pendapatan di Jatim relatif rendah. Jika pada 2014 nasional Indeks GINI 0,41 persen, Jatim berada pada 0,37 persen.

Ia memastikan kepada investor, bahwa Jatim memiliki iklim investasi yang kondusif. Jatim juga memberikan jaminan kemudahan berinvestasi melalui penyediaan lahan, power plan atau ketersediaan listrik, perijinan yang cepat serta tenaga kerja terampil di berbagai bidang.

Lanjutnya, sebanyak 36,57% masyarakat Jatim di sektor pertanian harus didorong ke arah industri primer di sektor pertanian atau pengolahan bahan pangan. Hal ini sebagai bagian dari langkah kita menuju Jatim Provinsi Industri 2016.

“Jadi jangan jualan bahan mentah. Jika mengirim pisang, jangan mengirim pisangnya namun harus diolah menjadi keripik pisang atau nangka sehingga memberikan nilai tambah. Merubah nilai tambah yang kecil tersebut harus melalui kebijakan pemerintah. Salah satunya melalui teknologi, skema pembiayaan kredit dan ketersediaan pasar,” ungkapnya.

Pakde Karwo menambahkan, Jatim memiliki strategi pembangunan ekonomi guna meningkatkan masyarakat melalui peningkatan pembangunan infrastruktur, sumber daya manusia atau Human Development dan reformasi birokrasi.

Di kesempatan yang sama, CEO dan pemilik Kelola Mina Laut Mohammad Nadjikh menyampaikan, kegiatan ini merupakan implementasi muktamar ke-47 di Makassar 2015. “Di antaranya, Muhammadiyah mencanangkan bidang ekonomi,” kata Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Mohammad Nadjikh.

Lanjutnya, memasuki MEA, Muhammadiyah berharap masyarakat tidak hanya menjadi penonton dan obyek pasar, tapi berperan sebagai subyek penentu dan pelaku pasar di Kawasan ASEAN. Untuk itu, melalui acara temu saudagar itu, Muhammadiyah mendorong para pengusaha muslim menjadi tonggak bangkitnya perekonomian.

Salah satunya dengan pencanangan penciptaan satu juta pengusaha baru di kalangan Muhammadiyah dalam lima tahun ke depan. Nadjikh mengatakan Muhammadiyah menaruh perhatian terhadap bidang ekonomi yang berkaitan dengan persoalan kekinian umat Islam dan rakyat Indonesia pada umumnya.

“Temu Jaringan Saudagar Muhammadiyah”, menurut Nadjikh, dibuat untuk mempertemukan para kader Muhammadiyah yang bergerak di bidang perniagaan. Selama ini, ada kecenderungan antara pengusaha Muhammadiyah di satu tempat dengan pengusaha Muhammadiyah di tempat lain tidak saling mengenal.

Empat pendekatan yang akan dilakukan Muhammadiyah, menurut Nadjikh, adalah melalui pembedayaan umat, sinergi antar sesama pengusaha Muslim, percepatan pembangunan ekonomi, serta penciptaan ide-ide usaha baru. (hery)

Teks foto: Pakde Karwo Menerima Cinderamata dari Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ir. H. M. Najikh.