22/10/2020

Jadikan yang Terdepan

Dari Racun Tikus hingga Biodiesel

Dari Racun Tikus hingga BiodieselSurabaya, KabarGress.com – Energi dan Sumber Daya Mineral untuk Kesejahteraaan Rakyat adalah misi dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral yang saat ini sedang marak digalakkan. Saat ini kita dituntut untuk hemat dan cermat dalam penggunaan energi. Hal tersebut bukan tanpa sebab, karena sebagaimana yang kita ketahui bahwa cadangan Bahan Bakar Migas (BBM) di Indonesia semakin berkurang. Fenomena tersebut mengisyaratkan kepada para pejabat dan masyarakat untuk mencari bahan bakar penggantinya.

Peluang tersebut dilihat oleh dua mahasiswi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) yaitu Jennie Lie dan Maria Bangun untuk menciptakan sebuah inovasi baru yang bisa bermanfaat untuk kehidupan masyarakat luas. Dua mahasiswi yang sedang duduk di semester lima Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia ini membuat sebuah karya baru dengan menggunakan biji buah bintaro sebagai bahan bakar biodiesel. “Umumnya Biodiesel komersil dibuat dari bahan pangan seperti jagung dan kedelai, sementara kita tahu banyak isu kelaparan dan kelangkaan bahan pangan di luar sana. Awalnya karena kami melihat banyak buah bintaro yang jatuh di pinggiran jalan sekitar kampus, akhirnya kami teliti manfaatnya. Siapa sangka, buah yang biasanya hanya dijadikan racun tikus itu mengandung banyak minyak yang bisa dimanfaatkan,” ungkap Jennie.

Caranya biji buah bintaro yang sudah dikupas kemudian dikeringkan, ditimbang serta dicampur dengan metanol dan air. Setelah dicampur, ketiga bahan tersebut dimasukkan ke reaktor subkritis kemudian diberi gas nitrogen hingga tekanan yang diinginkan tercapai. Tekanan yang dipergunakan sekitar 20 bar dan di dalam reaktor terdapat pengaduk untuk mencampur rata biji buah bintaro, metanol dan air. Tak hanya itu, pada waktu yang bersamaan pula ketiga bahan tersebut juga dipanaskan hingga 140-200 derajat celcius. Seluruh proses tersebut membutuhkan waktu selama empat hingga enam jam. Proses ini tidak membutuhkan katalis asam atau basa karena air pada keadaan subkritis bersifat reaktif sebagai katalis.

“Setelah seluruh bahan tersebut dingin, katup dan reaktor dibuka untuk mengambil hasil pencampuran yang berupa endapan biomassa dan cairan. Endapan biomassa yang tidak terpakai dapat digunakan untuk membuat etanol, jadi teknologi ini sangat ramah lingkungan karena limbahnya sekalipun masih bisa dimanfaatkan,” tutur Maria. Cairan yang dihasilkan terdiri dari biodiesel, gliserol dan pengotor. Ketiganya lantas dicampur dengan N Heksana, karena perbedaan sifat kepolaran hanya biodiesel yang akan terlarut dengan N Heksana.

“Larutan biodiesel dan N Heksana kemudian dimasukkan ke dalam corong pemisah. Setelah itu dilakukan metode ekstraksi cair-cair, untuk memisahkan gliserol sebagai produk sampingan yang masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan sabun. Selanjutnya, biodiesel dan N Heksana dipisahkan menggunakan mesin rotary evaporator. Tahap terakhir proses ini adalah menguapkan N Heksana pada suhu 70 derajat hingga meninggalkan biodiesel biji bintaro,” urai Jennie menjabarkan metode yang mereka pergunakan.

Di bawah bimbingan Ir. Suryadi Ismadji, Ph.D dan Felycia Edi Soetaredjo, Ph.D, Jennie dan Maria melakukan penelitian di sela-sela waktu kuliah hingga sekitar tujuh bulan lamanya. Buah bintaro mereka ambil dari yang berjatuhan di sekeliling jalan Kaliwaron Surabaya hingga sebanyak 50 buah dan menghasilkan minyak sebanyak 40-60% dari massa bijinya. “Dari hasil itu kemudian dilakukan konversi dan diketahui bahwa satu ton biji bintaro dapat menghasilkan 500ml liter minyak,” ujar Jennie yang berasal dari Makassar.

Inovasi dengan teknologi ramah lingkungan yang tidak menggunakan katalis dan bebas limbah ini mengantarkan Jennie dan Maria menjadi pemenang ketiga dalam ajang bergengsi TICA (Tokyo Tech Innovation Commitment Award) pada 22 Agustus 2015 lalu. Sebagai perwakilan tim, rencananya Jennie akan bertandang ke negeri sakura pada bulan Oktober ini untuk mempresentasikan hasil karya inovasi tersebut. (ro)