24/10/2020

Jadikan yang Terdepan

Subsidi Listrik Masih Banyak Dinikmati Kalangan Menengah Atas

* PLN Akan Lakukan Mapping Pelanggan Bersama BPS dan TNP2K

General Manager PT PLN -Persero- Distribusi Jawa Timur, Ir. Judi Winardi WidjayaSurabaya, KabarGress.com – Kalangan menengah atas ternyata masih banyak yang memanfaatkan dan menikmati listrik bersubsidi dengan daya 450 VA dan 900 VA. Padahal, subsidi tersebut hanya diperuntukkan warga miskin. “Sekitar 50 persen subsidi listrik oleh pemerintah, tidak tepat sasaran. Baik itu di Jatim maupun secara Nasional,” ungkap General Manager PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur, Ir. Judi Winardi Widjaya, di sela-sela acara Diskusi Umum mengenai Subsidi Tepat Sasaran, bertempat di Dyandra Convention Center Surabaya, Rabu (7/10/2015).

Menurut Judi, di Jatim, tercatat jumlah pelanggan listrik sebanyak 9,8 juta. Dari jumlah tersebut, 8 juta merupakan pelanggan listrik 450 VA (4,5 juta pelanggan) dan 900 VA (3,5 juta). Data yang ada, jumlah penduduk miskin di Jatim sekitar 4 juta sehingga ada 4 juta yang tidak tepat sasaran memakai subsidi listrik. Sedangkan secara nasional, pelanggan listrik sebanyak 45 juta pelanggan dengan rincian 22,8 juta pengguna 450 VA, dan 22,3 juta pelanggan memakai daya 900 VA. Data di TNP2K (Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan), mestinya subsidi listrik diberikan kepada 24,7 juta pelanggan miskin dan rentan miskin. Sehingga, ada 20,3 juta pelanggan yang tidak tepat sasaran yang menggunakan subsidi listrik.

Pemerintah pusat telah mengalokasikan Rp66 triliun untuk subsidi golongan tarif ini, namun tahun depan akan turun menjadi Rp37 triliun. Dengan subdisi, maka harga listrik Rp1.050/kwh untuk daya 450 VA menhadi Rp405/kwh, dan Rp615/kwh bagi pelanggan dengan daya 900 VA. “Yang tidak tepat sasaran ini, misalnya pelanggan punya rumah permanen gede, ada AC, kulkas, setrika, mesin cuci, punya mobil, tapi listriknya hanya golongan rumah tangga (R1) 900 VA. Mereka tidak tergolong miskin ataupun rentan miskin,” terangnya.

Untuk itu, lanjutnya, pihaknya akan melakukan mapping data warga miskin dengan BPS dan TNP2K. Kriteria warga miskin dan rentan miskin juga harus diperjelas. Selanjutnya, akan disurvey langsung ke lapangan mengenai kondisi riilnya. Sebab, tahun depan jumlah subsidi dari pemerintah turun drastis. “Jika ditemukan pelanggan yang tidak tepat sasaran, maka secara persuasif akan disarankan untuk menaikkan daya listriknya. Kita tunggu regulasi dari PLN pusat bagaimana. Yang jelas, pemerintah bukanlah mencabut subsidi listrik, tetapi subsidi harus tepat sasaran yaitu bagi warga miskin dan rentan miskin,” tandasnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jatim, Saifullah Yusuf, yang hadir pada diskusi ini, meminta PLN memenuhi kebutuhan listrik masyarakat terutama di daerah pelosok. Listrik menjadi kebutuhan pokok dan utama, bahkan penentu kesejahteraan di masyarakat. “PLN harus melakukan pendataan daerah mana saja di Jawa Timur yang belum terpasang listrik. Pemberian subsidi listrik kepada masyarakat yang tepat sasaran sangat diharapkan. Caranya, bekerjasama dengan perguruan tinggi untuk melakukan pendataan masyarakat mana yang berhak untuk mendapatkan subsidi tersebut,” ujarnya.

Gus Ipul mengusulkan, subsidi harus diarahkan ke pedesaan. Karena faktor kemiskinan bertambah yang disebabkan krisis berada di pedesaan. Kedua, pengalihan subsidi ke pembangunan infrastruktur listrik. “Hal lain ketiga yakni target elektrifikasi di pelosok daerah dan penguatan gerakan hemat energi listrik harus dilakukan,” imbuh Gus Ipul, demikian biasa disapa. (ro)

Teks foto: General Manager PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur, Ir. Judi Winardi Widjaya (kanan), mendampingi Wagub Jawa Timur, Gus Ipul, di sela-sela acara Diskusi Umum mengenai Subsidi Tepat Sasaran, bertempat di Dyandra Convention Center Surabaya, Rabu (7/10/2015).