01/12/2020

Jadikan yang Terdepan

“Atase” Perdagangan Jadi Solusi Perdagangan Jatim

Pakde Karwo Menjadi Keynote Speaker Pada Pra Seminar Kongres ISEI XIX di Hotel Bumi SurabayaSurabaya, KabarGress.com – “Atase” Perdagangan atau yang biasa disebut Kantor Perwakilan Dagang (KPD) menjadi solusi perdagangan Jatim. Penguasaan pasar domestik melalui KPD bisa menjadi langkah pilihan untuk melakukan ekspansi pasar Jatim dalam perluasan atau pengembangan usaha di luar batasan wilayah administrasi Jatim. Hal tersebut disampaikan Gubernur Jatim Dr. H. Soekarwo saat menjadi Keynote Speaker Pra Seminar Nasional Kongres Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) 2015 bertema “Keterkaitan Antar Daerah Dalam Pembangunan Daerah Industri” di Isyana Ballroom Hotel Bumi Surabaya, Rabu (7/10).

Ia mengatakan, perluasan pasar dalam negeri Pemprov Jatim dilakukan melalui 26 KPD, bahkan sudah menjangkau ekspor luar negeri seperti melalui Hub Batam ke Singapura, Hub Manado ke Filipina, Hub NTT dan Papua ke Australia dan Papua Nugini. “Impor-ekspor melalui KPD ini ke dalam maupun luar negeri dijamin lebih efisien dan berdaya saing. Selain melalui hubungan bilateral, linkage hubungan perdagangan komoditas Jatim yang terdistribusi ke KPD Papua dan NTT diekspor ke Australia, begitu juga Australia bisa pula mengekspor langsung ke Jatim,” ujar Pakde Karwo sapaan lekatnya.

Melalui KPD mampu memperbesar pasar domestik karena 40 persen potensi pasar ASEAN ada di Indonesia. Dalam penguasaan pasar dalam negeri, Jatim memberikan kontribusi 27,9 persen dari total perdagangan domestik. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kontribusi DKI Jakarta sebesar 19 persen. Berdasarkan data BPS, nilai bongkar muat antar pulau di 26 KPD tahun 2012-2014 terus mengalami peningkatan. Tahun 2012 mencapai Rp238,633 triliun, tahun 2013 mencapai Rp275,605 triliun, dan tahun 2014 mencapai Rp325,553 triliun. Sedangkan aktivitas muat antar pulau pada tahun 2012 mencapai Rp301,488 triliun, tahun 2013 mencapai Rp346,022 triliun, dan tahun 2014 mencapai Rp415,876 triliun.

Selain itu, dengan adanya KPD, potensi transaksi perdagangan terus meningkat dari tahun 2011 mencapai Rp463,35 triliun dan tahun 2014 meningkat menjadi Rp741,43 triliun. “Ini menandakan rata-rata potensi transaksi perdagangan antar pulau per tahunnya tumbuh sebanyak 15 persen (Rp69,52 triliun),” jelasnya.

Lebih lanjut disampaikannya, Pemprov Jatim juga melakukan penguatan pasar global melalui 6 etalase dagang (representative office) di luar negeri. Adapun negara yang dimaksud antara lain Swiss, Belgia, Tianjin-RRT, Shanghai-RRT, Osaka-Jepang, dan Gyeong Nam-Korea Selatan.

Pakde Karwo juga memaparkan, langkah-langkah konkrit Pemprov Jatim dalam mengembangkan UMKM seperti inkubator bisnis (bimbingan teknis, pendampingan, bimbingan tenaga promosi, pameran produk unggulan UKM), standarisasi keterampilan SDM melalui SMK Mini dengan 9 jenis bidang keahlian, pembiayaan yang kompetitif melalui linkage program Bank Jatim sebagai APEX Bank.

Pada kesempatan yang sama, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM Prof. Mudrajad Kuncoro menyampaikan usulan strategi pembangunan industri nasional dan daerah. Adapun strategi yang disampaikan seperti menetapkan fokus pembangunan industri strategik secara nasional dan kompetensi inti daerah, memperkuat kaitan antara industri hulu, antara dan hilir berbasis sumber daya alam dan kompetensi daerah dengan insentif fiskal dan perijinan, mengkombinasikan strategi total global export berbasis industri yang broad based dan broad countries.

Selain itu, strategi juga dikakukan dengan pengendalian ekspor bahan mentah dan sumber energi bagi industri prioritas, meningkatkan kerjasama industri dan perguruan tinggi dalam pengembangan industri yang berbasis iptek, produk standar nasional dan internasional, serta peningkatan kualitas SDM industri, mendorong Desentralisasi Industri dengan: Wilayah Pengembangan Industri (WPI), Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI), Kawasan Industri (KI), dan Sentra Industri Kecil dan Menengah, menyusun kebijakan afirmatif dan insentif bagi industri berorientasi ekspor, menyerap tenaga kerja, memiliki daya saing internasional, serta meningkatkan kerjasama internasional bidang industri dengan Korsel, Jepang, AS, Jerman, Italia, Australia.

Sedangkan untuk pengembangan UMKM dapat dilakukan pada proses produksi dengan meningkatkan alat produksi, efisiensi dan produktivitas; SDM dengan pendidikan dan pelatihan; bahan baku dengan ketersediaan bahan baku atau subsitusi bahan baku dan bahan baku yang lebih efisien dan tersedia dengan mudah; pasar atau pembeli melalui perluasan pasar dan pemenuhan standar pembeli / industri; modal dengan revutalisasi KUR, tersedia dana untuk langkah inovasi; serta manajemen dengan layanan pengembangan bisnis. (hery)