21/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Mahasiswa Buat Panduan Menangkal Infeksi Gagal Ginjal Akut Saat Cuci Darah 24 Jam

JpegSurabaya, KabarGress.Com – Lidya Karina S.Farm.,M.Farm., Apt Fakultas Farmasi Universitas Surabaya buat panduan menangkal infeksi saat patien di ICU dengan terapi cuci darah sebagai hasil tesis. Tak tanggung-tanggung, untuk mendapatkan panduan, Lidya terbang ke negeri kincir angin.

Join research Ubaya dengan University of Groningen Belanda lagi-lagi membuahkan hasil. Studi di jenjang strata 2 hanya ditempuh dalam waktu 3 semester dengan IPK 3,944. Hasil memuaskan ini membawa Lidya didapuk wisudawan berpresikat summa cumlaude. Publikasi karya Lidya Karina akan diadakan pada Rabu, 30/9/2015 pukul 10.00-12.00 di Seminar Room gedung International Village Kampus Tenggilis Universitas Surabaya jalan Raya Kalirungkut Surabaya.

Gadis kelahiran Pulau Dewata ini membuat panduan bagi farmasis di rumah sakit untuk pemberian obat pencegah infeksi pada saat patien membutuhkan terapi cuci darah. Ide awal bermula dari banyak temuan patien di Intensive Care Unit (ICU) yang sedang menjalani terapi cuci darah terkena infeksi. Pasien di (ICU) biasanya mengalami kondisi kritis dan gangguan fungsi  organ, seperti gagal ginjal akut. Gagal ginjal akut merupakan kondisi dimana terjadi penurunan fungsi ginjal secara mendadak. Pada keadaan normal, ginjal kita berfungsi menyaring darah dan membuang obat dan racun yang sudah tidak digunakan lagi oleh tubuh. Ketika kondisi gagal ginjal akut terjadi, maka fungsi ginjal dalam melakukan tugasnya tersebut menjadi menurun.  Untuk membantu ginjal melakukan tugasnya kembali, maka dibutuhkanlah alat bantu dari luar tubuh untuk membersihkan racun atau obat yang sudah tidak digunakan lagi dalam tubuh. Pada pasien ICU yang kondisinya kritis dan cenderung tidak stabil dibutuhkan cuci darah yang lebih perlahan dengan waktu pencucian yang lebih panjang. Metode ini disebut cuci darah 24 jam atau yang bahasa kerennya Continuous Renal Replacement Therapy (CRRT).

Di sisi lain, daya tahan tubuh pada pasien di ICU yang mengalami kondisi kritis sangatlah lemah. Kondisi ini menyebabkan pasien ICU rentan terserang oleh kuman-kuman dari lingkungan rumah sakit yang umumnya kebal dan tidak bias dilawan dengan terapi antibiotika biasa. Untuk melawan kuman-kuman bandel tersebut biasanya dokter harus meresepkan antibiotika yang lebih kuat yang disebut Vancomycin. Sayangnya saat ini badan pengendali infeksi dunia yang disebut CDC melaporkan bahwa sudah ada kuman-kuman yang bisa mengalahkan vancomycin dan menyebabkan kegagalan terapi vancomycin. Setelah diteliti lebih lanjut ternyata penyebab kegagalan tersebut adalah jumlah vancomycin yang kurang untuk melawan bakteri dalam tubuh. Hal ini banyak terjadi pada pasien yang menggunakan cuci darah 24 jam atau CRRT.

Pada pasien yang menggunakan cuci darah 24 jam atau CRRT,  pembersihan vancomycin dari dalam tubuh tidak hanya dilakukan oleh ginjal saja namun juga oleh alat cuci darah. Peningkatan jumlah vancomycin yang terbuang dari tubuh menyebabkan penurunan jumlah vancomycin yang bisa melawan kuman dalam tubuh. Oleh sebab itu menurut gadis yang genap berusia 23 tahun ini perlu dilakukan penyesuaian jumlah atau dosis vancomycin yang diberikan pada pasien yang mengalami cuci darah.

Selama ini dokter di rumah sakit memang sudah mengacu pada literatur dan pengalaman klinis, namun dengan dilaporkannya banyaknya kegagalan terapi vancomycin oleh badan pengendali infeksi dunia maka dibutuhkan penelitian untuk menentukan dosis yang tepat dan waktu yang tepat untuk pemantauan jumlah obat dalam darah.

“Obat yang sudah masuk ke patien harus terus dipantau. Hasil pantauan ini untuk melihat apakah jumlah vancomycin dalam darah sudah cukup untuk melawan kuman” ungkap putri tunggal pasangan alm Agus Jaya Kartawibawa dan Lilis Suryani.

Untuk mendapatkan formula pemberian vancomycin, Lidya Karina terbang ke Negeri Kincir, Belanda. Selama 5 bulan, pada  bulan Februari – July 2015 silam di University of Groningen, Lidya melakukan penelitian. Pada penelitian kali ini, penentuan dosis vancomycin dan waktu pemantauan vancomycin di dalam darah dilakukan dengan pendekatan farmakokinetika (perjalanan obat dalam tubuh termasuk pembuangan oleh ginjal dan alat cuci darah) populasi. Data sejumlah pasien dimasukkan ke dalam software yang mampu melakukan simulasi untuk dapat mempredikisi profil farmakokinetika vancomycin pada populasi. Software yang digunakan Lidya sementara waktu tidak ada di Indonesia.

Dari keluaran data yang telah dimasukkan di software berupa profil. Profil  yang didapat tersebut digunakan untuk menentukan dosis yang tepat dan waktu pemantauan kadar vancomycin. Hasil penelitian ini dilaporkan dalam bentuk skema dosis dan waktu pemantauan vancomycin. “Harapan saya dengan adanya panduan ini menjadi  salah satu wujud nyata kontribusi farmasi klinis dan apoteker di bidang kesehatan, yaitu dalam membantu optimalisasi terapi antibiotika Vancomycin pada pasien ICU yang mengalami gagal ginjal akut  dan membutuhkan cuci darah 24 jam,” ungkap Lidya Karina S.Farm.,M.Farm., Apt peraih gelar Summa Cumlaude (selesai dalam waktu 3 semester dengan IPK 3.944) pada wisuda 19 September silam.

“Hasil penelitian Lidya terkait pembuatan panduan ini sangat baik, sehingga bisa digunakan sebagai dasar pemberian dosis pada patien hemodialisme”, ungkap Dr. Widyati, MClin Pharm, Apt selaku pembimbing sekaligus praktisi farmasi klinis RSAL. (ro)